CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
CEMBURU I


__ADS_3

DAVIS POV


Setelah kudengar ketukan pintu, aku pun mempersilahkannya masuk.


“Masuk!”


Kulihat sekretarisku menatap keheranan mendekati kursi kebesaranku yang tengah ditempati Narita.


“Ngapain kamu di situ!” hardiknya dengan ketus.


Narita yang baru menyadari adanya sekretarisku, dengan segera berdiri dan menoleh ke arahku seolah memintaku untuk menjelaskan ke Permata.


“Dia sedang memperbaiki analisis data yang kuminta. Karena waktunya mendesak, aku memintanya diperbaiki di sini!” jelasku dan Permata menuju ke sofa.


“Owh gitu. Mr. Dav data dari semua Direktur sudah saya forward ke Anda. Kalau Anda meminta mereka merevisi, tolong kabari saya juga, karena akan segera saya push mereka untuk perbaikannya dan akan saya forward kembali.” lapornya masih sambil berdiri.


“Ya. Makasih” sejenak aku mendongakkan kepalaku melihat ke wajahnya lalu kembali menatap ipadku.


Merasa bahwa Permata belum pergi dari tempatnya, aku pun bertanya “Ada lagi?”


“Tidak. Saya permisi!” dia mengatakannya dengan sedikit ketus lalu balik badan meninggalkan ruanganku. Aku pun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.


“Ada apa dengannya?” tanyaku lirih.


Pada saat bersamaan, aku menoleh pada Narita dan Narita menoleh padaku. Sesaat kami saling memandang kemudian masih dalam mode diam dia kembali menunduk seolah masih bekerja dengan laptopku.


Beberapa saat kemudian.


“Mr. Dav, ini data yang Anda minta. Detail perhitungannya masih terbuka di laptop Anda, bisa Anda cek!” Narita menyerahkan lembaran kertas kepadaku dan segera kuraih kertas itu.


“Duduk sini, aku cek dulu” aku tepuk sofa panjang tepat di sampingku.


Narita rupanya memilih duduk di sofa tunggal yang berada di sisi lain.

__ADS_1


“Kenapa duduk di situ? Gak mau di sampingku?” tanyaku sembari tersenyum dengan mata masih melihat pada kertas-kertas pemberiannya.


“Hmm enggak papa”


“Oke. SIP. Ini Cukup. Revisian sudah kamu save untukmu sendiri kan?” lalu aku menatapnya.


“Sudah Mr” jawabnya mantap menatap balik padaku.


“Na, pulang kantor kita bareng ya!”


“Saya bawa mobil sendiri, Mr”


“Iya aku tau!”


“Lagipula rumah kita gak sejalur!” tambahnya.


“Aku mau anterin kamu, tapi anterinnya pake mobil kamu!” aku menggeser dudukku lebih mendekati ke sofa nya.


“Aku kangen sama kamu! Maaf ya selama seminggu ini gak ngabarin kamu”


“Oke. Makasih. Jangan lupa nanti sore. Aku gak terima penolakan!” ujarku sambil mengantarkannya keluar ruanganku. 


NARITA POV 


Sudah 4 hari ini aku merangkap jabatan. Ah sungguh melelahkan. Hampir seminggu Davis pergi tanpa kabar, kami hanya video call sekali, setelah itu dia sama sekali tak berkirim pesan ataupun menelpon. Lagi dan lagi dia menghilang tanpa kabar, aku sebel sama dia. Ini kedua kalinya dia memperlakukanku kaya gini.


Kalau dulu dia menghilang setelah kami menikmati momen jalan-jalan penuh kenangan, sekarang dia pergi menghilang setelah menyatakan perasaannya. Tapi kali ini dia pergi berapa lama, aku sendiri tidak tau.


Di kantor pun sempat terjadi kehebohan ketika Dirutnya tiba-tiba tak masuk kantor tanpa ada yang tau alasannya.  Ditambah lagi dia perginya bersama asisten pribadinya yang gosipnya adalah tunangannya. Orang-orang berspekulasi kalau Davis dan Alin tengah merayakan pesta pertunangan secara tertutup.


Aku tak peduli dengan gosip yang tengah berhembus. Rasanya sebel aja diperlakukan seperti ini lagi oleh Davis.


Ketika aku merangkap pekerjaan dikarenakan Manajer Keuangan cuti seminggu, meskipun melelahkan tapi itu dapat membuatku mengalihkan perhatian dari memikirkannya ke hal yang lebih bermanfaat.

__ADS_1


Hari ini adalah hari Jumat. Mr. Al memanggilku ke ruangannya untuk membahas mengenai data yang telah aku kirimkan ke email beliau kemaren malam.


“Aku sudah baca analisismu, tolong kamu tambahkan point-point sesuai yang aku catat di situ. Kamu cek dulu, kalau ada yang belum jelas, bisa kamu tanyakan sekarang!” aku menerima map dari tangan Mr. Al dan membaca tambahan catatan revisi dari beliau.


“Saya paham Mr. Segera saya perbaiki!”


“Tolong cepat ya! Mr. Dav sudah sampai kantor, dia minta data dikumpulin paling lambat jam 09.00” pinta Mr. Al.


“Baik Mr.” lalu aku pergi meninggalkan ruangan Mr. Al.


Seusai aku merevisinya, summary nya aku print dan detailnya sudah aku kirim ke email Mr. Al. Aku lalu menuju ke ruangan Mr. Al untuk menyampaikan summary langsung ke beliau.


“Oke bagus. Kamu anter ke ruangan Mr. Dav ya! Emailnya sudah aku forward ke sekretarisnya” ujarnya kemudian.


Aku pun bergegas ke ruangan Mr. Dav. Aku berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin karena jika terlambat, maka sudah pasti Mr. Dav akan marah besar.


Saat aku keluar lift dan melewati lorong menuju ke ruangan Mr. Dav, aku menyaksikan dari jauh bagaimana lembutnya perlakuan Alin ke Davis. Dia memperbaiki dasinya, memegang d*da dan perut Davis seolah memperbaiki baju Davis yang kulihat sudah rapi. Tatapan Davis begitu lekat melihat ke wajah Alin dan memperhatikan detail gerak gerik Alin.


Apa mungkin mereka beneran sudah bertunangan? Kenapa Davis tak menolak sentuhan Alin? –batinku sembari memegang d*daku.


Aku pun lebih memilih masuk ke toilet untuk sejenak menetralkan debar jantungku yang entah merasakan apa itu namanya. Setelah hatiku merasa lebih baik, aku segera menuju ke sekretaris Dirut.


“Kak, Mr. Dav ada?” aku menatap Sekretaris lalu beralih melihat pintu ruangan Davis yang masih tertutup.


“Ada, di dalam!” jawabnya.


“Aku mau menyerahkan ini langsung ke beliau!” kutunjukkan map yang kupegang.


Sekretaris menelpon ke telepon ruangan Davis, lalu mempersilahkanku masuk saja ke ruangan Davis.


Aku ketuk pintu ruangannya, dan setelah mendengar suaranya mempersilahkanku masuk. Aku segera membuka knop pintu.


Jantungku berdebar tak karuan. Ada rasa yang menyesak di dada ketika aku melihat pemandangan ini di depan mataku. Alin duduk di meja depan Davis, dengan badan yang sedikit membungkuk seolah mereka habis melakukan sesuatu. Rok pendek Alin sangat sempurna menempel pada kaki Alin yang jenjang dan putih mulus, dan kaki itu terpampang nyata tepat di sebelah wajah Davis.

__ADS_1


Ah siapa pun laki-laki nya takkan mungkin menolah pesonanya –pikirku.


__ADS_2