CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
PULANG KAMPUNG 1


__ADS_3

NARITA POV


 


Hari ini aku pulang kantor on time. Aku ingin memasakkan sesuatu untuk suamiku. Sesampainya aku di rumah, aku langsung disambut oleh bapak ibu.


“Assalamu’alaikum pak, bu” aku salim pada mereka berdua secara bergantian.


“Gak sama Nak Davis, nduk?” tanya bapak padaku.


“Gak pak.”


“Nduk, nanti setelah makan malam, ada yang mau bapak sama ibu bahas!”


“Owh iya bu. Na mandi dulu ya bu” aku berpamitan lalu masuk kamarku. 


Saat aku telah selesai mandi dan keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk, tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang.


“Hmmm, wangi” aku mulai kegelian karena dia mencium-cium leherku.


“Udah pulang mas? Tumben cepet?” tanyaku sembari berusaha melepas pelukan tangannya. Lalu Davis membalikkan badanku.


“Sekarang, boleh ya?” tangannya hendak membuka tautan handukku, tapi segera kutahan.


“Ihh, gak! Ini udah mepet Sholat Maghrib”


“Mas mandi gih!” aku segera mendorongnya masuk kamar mandi, dan dia pun menurut saja.


Setelah kami berdua mandi dan sholat Maghrib berjamaah, kami segera turun ke lantai dasar untuk makan malam Bersama. Bapak dan ibu sudah duduk manis di sofa ruang nonton tivi.


“Chef, apakah makan malamnya udah siap?” tanyaku pada chef yang tengah memasak.


“Sudah, Nyonya muda.” Jawab chef.


“Saya baru selesai Sholat nyah, maaf belum sempet ditata di meja makan” bi Jah datang tergopoh-gopoh.


“Iya bi, gakpapa. Kita tata sama-sama.”


“Oiya chef, sebenernya tadi saya pengen masakin buat keluarga, tapi berhubung sepertinya gak akan cukup waktunya. Jadwal saya ubah, saya akan masakin untuk keluarga untuk sarapan aja”


“Sudah menjadi tugas kami memasak, nyonya. Takutnya nanti Mr muda gak berkenan makan selain masakan saya!” ucap sang Chef.

__ADS_1


Kami ngobrol sembari aku mengangkat beberapa makanan ke meja makan. Tanpa kusadari Davis sudah ada di sebelahku.


“Kalau istriku yang masak, pasti akan saya makan, Chef. Selama dia bilang ingin masak, kamu cukup jadi asistennya saja, tidak boleh protes, dan tak boleh menggurui!” ucap Davis tegas.


“Kalau mau ngajarin biar jadi lebih enak juga gak masalah” tambahku.


Akhirnya kami makan di meja makan bersama.


“Nduk, nak Davis, bapak sama ibu apakah sudah diperkenankan pulang? Bapak udah ijin beberapa hari, kasian anak-anak kalau bapak kelamaan ijinnya” ucap bapak sembari makan.


“Pak, bu, sebenernya saya ingin memperkenalkan orang tua saya, tapi sepertinya tidak memungkinkan. Maaf ya pak, bu, apakah bapak dan ibu tidak keberatan kalau resepsi pernikahan kami diadakan tidak dalam waktu dekat?” Davis berkata penuh kelembutan.


“Iya gakpapa nak. Soal resepsi, bapak sama ibu ngikut keputusan nak Davis dan keluarga saja, yang terpenting kalian sudah resmi ini. Jangan lupa nak, diurus buku nikahnya ya!” bapak mengingatkan Davis.


“Iya pak.” Jawab Davis mantap.


“Owh iya, rencana bapak sama ibu mau pulang kapan?” tanyaku kemudian.


“Besok ya nduk?” pinta bapak.


“Gimana mas? Siapa yang anterin?” aku menatap Davis dan diapun tersenyum.


“Tenang saja, Sayang. Besok akan segera disiapkan.”


“Naik apa, nak Davis?” tanya ibu.


“Nanti dijemput pake mobil ke bandara. Nanti dari bandara naik jet kaya waktu ke sini bu” ibu manggut-manggut.


Akhirnya makan malam pun usai. Kami bersendau gurau sebentar di ruang tivi dan setelah kami lihat bapak dan ibu mulai mengantuk dan kelelahan, kami pun meminta ijin masuk kamar.


Sesampainya di kamar, aku duduk di sofa.


“Mas…” panggilku.


“Iya, Sayang” sahut Davis lalu duduk di sampingku.


“Sepertinya Daniel mulai curiga kalau kita telah bertunangan” aku mulai bercerita.


“Alin juga curiga. Dia melihat ini.” Davis menunjukkan cincin di jari manisnya.


“Apa Alin curiga sama aku juga?”

__ADS_1


“Iya” jawabnya singkat.


“Kamu sie mas, tadi pake acara minta ngomong berdua di depan umum pula. Orang-orang pasti curiga lah.”


“Biarin! Toh bentar lagi aku bakal mengatakan yang sebenarnya”


“Udah ah, gak usah dipikirin. Yang penting, kesalahpahaman kita udah terselesaikan.”


“Mas minta lagi boleh ya?” 


“Minta apa?” tanyaku dengan polos yang langsung dia jawab dengan Gerakan.


Cup


“Yang seperti semalam dan tadi pagi” bisiknya.


Akhirnya kami pun menunaikan kewajiban suami istri dengan penuh kasih sayang. Pertengkaran tadi siang seolah menguap begitu saja, rasa cinta dan sayang kami lebih besar hingga mampu menghapus kekesalan dan kemarahan kami tadi siang.


Keesokan harinya aku merasakan pegal di seluruh badan, sejujurnya aku gak enak badan untuk beranjak dari tempat tidurku, namun mengingat kini aku adalah seorang istri, aku harus berusaha melayani suamiku. Usai mandi junub, aku menunaikan sholat Shubuh. Lalu ke dapur dan memasak nasi goreng. Aku meminta bi Jah untuk menyajikannya di meja makan, sementara itu aku kembali ke kamar untuk bersiap diri.


Saat aku memasuki kamar, suamiku yang sudah rapi memakai baju koko dan sarungnya tengah memasukkan baju-baju ke koper.


“Mas mau dinas?”


“Enggak Sayang. Kita antar bapak ibu yuk! Sekalian bulan madu di kampung” ajaknya.


“Serius? Lha aku belum mengajukan cuti?” mataku nampak berbinar namun kembali galau mengingat kewajiban kerjaan.


“Biar Rio yang urus!” jawabnya enteng.


“Nanti orang-orang curiga kalau cutiku yang urus Rio”


“Bentar aku wa Mr. Al meminta ijin cuti dulu ke beliau” suamiku mengangguk setuju.


Lalu aku menuliskan wa ke Mr. Al. Sembari menunggu balasan, ak turut membereskan baju-bajuku.


“Berapa hari kita di sana?” tanyaku kemudian.


“Cuti 4 hari, kita pulang hari Minggu pagi”


“Mas, gak ada meeting sama klien?”

__ADS_1


“Ada, tapi tadi aku minta Permata reschedule dan sudah oke”


“Yey,,,,” aku bersorak bahagia.


__ADS_2