CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
NAFAS BUATAN


__ADS_3

NARITA POV


----- Di mobil-----


Aku tak mengerti apa sebenernya tujuan Mr. Dav membicarakan masa lalu kami di depan rekan kerjaku. Aku hanya tidak ingin menjadi bahan pembicaraan di kantor. Dirut yang sudah memiliki tunangan, bahkan sepertinya juga berhubungan dengan wanita cantik lainnya, gak lucu juga sekarang kalau aku jadi bahas gosip menjadi salah satu koleksinya. Selain menjauhkanku dari jodohku yang berniat mendekatiku, yaa…..ah apalah aku ini. Aku yakin semua orang akan mengejekku, aku gak ada apa-apanya dibandingkan wanita-wanitanya.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, karena mulai berpikir yang aneh-aneh. Aku harus jelaskan ini pada mereka agar mereka paham dan gak ada gossip miring tentangku.


Kulihat dia tengah fokus dengan ipadnya. Aku mencoba menengok ke kursi depan, Rio juga sedang fokus dengan laptopnya. Aku pun memilih memejamkan mata untuk mengistirahatkan diri. Aku tipe orang yang gak bisa melihat ponsel di mobil, pusing. Jadi aku memilih tidur saja.


“Na, udah sampai” aku merasakan badanku sedikit diguncang oleh seseorang. Aku membuka mataku dan kulihat dia sedang menatapku dalam posisi wajah kami yang sangat dekat, mungkin hanya berjarak 15 cm.


“Astaghfirullah” aku sedikit berteriak karena kaget.


Dia pun menjauhkan wajahnya dan membuka pintu mobil bersiap-siap turun.


“Jangan lupa bawa baju gantimu!” ucapnya setelah dia keluar dan bersiap menutup pintu.


Lalu aku keluar membawa tote bag.


Lokasi yang rencananya akan dibuat resort kali ini areanya cukup unik. Tepat parkir mobil merupakan dataran tinggi, sedangkan untuk menuju ke calon dibangunnya villa dan pantainya kami harus menuruni banyak anak tangga. Sebelum mencapai pantai, ada area datar yang cukup luas yang nantinya akan dibangun beberapa buah villa saja. Ini merupakan privat villa, dengan fasilitas yang privat pula. Sungguh benar-benar alam yang sangat indah, dibalut dengan bisnis yang bermodalkan besar, sudah bisa dibayangkan akan menjadi seperti apa indahnya tempat ini.


Kami mengamati dan membayangkan dengan seksama area, lingkungannya, dan gambaran desainnya. Pembahasan kami tak jauh dari berangan-angan seandainya di sana ada resort dengan fasilitas olahraga dan permainan airnya. Kami pun sama-sama menuju ke tempat yang nantinya akan dijadikan dermaga jetsky.


Cuaca panas yang cukup menyengat dan gak banyak pepohonannya membuat kami merasakan kegerahan dan panas yang bukan kepalang. Untung aku membawa payung, jadi cukup bisa melindungi kami (aku dan Sherly). Sedangkan Davis dan Daniel, mereka kompak mengenakan topi. Wajah putih yang terkena sinar matahari berubah menjadi merah sedikit kecoklatan.


“Bagus juga nie untuk berjemur. Aku rasa wisatawan asing akan sangat menyukai tempat seperti ini!” kata Davis .


“Cuma harus memikirkan parkir mobil untuk para tamu, karena tadi hanya muat untuk 10 mobil aja!” tambahku.


“Aku rasa 10 mobil dan beberapa motor masih muat. Dan tamu villa kayanya gak akan membutuhkan mobil lebih dari 10 “ Daniel paham betul dengan sistem marketing sewa villa dan resort di bawah naungan OXC.

__ADS_1


“Betul, saya setuju Mr. Niel”


Kami pun akhirnya kembali menuruni anak tangga menuju area yang kelak akan dijadikan dermaga dan mencoba jetsky yang telah dipersiapkan di sana. Beberapa masukan dari Davis, Daniel, dan beberapa teman operasional yang baru kali ini cek lokasi terkait kenyamanan dermaga dan dermaga akan dijadikan makin instagramable.


Sudah terparkir 5 buah jetsky. Kami pun memakai baju pelampung yang tersedia.


Mengingat saat ini hanya ada batu karang, jadi kami cukup mengalami kesulitan untuk menjangkau jetsky.


“Na, sama aku ya!” teriak Daniel saat kami sama-sama mengenakan baju pelampung dan aku jawab “OK”


“Mr. Dav, gak perlu saya dampingi kan?” Rio mendekati Mr. Dav.


“Aku sendiri aja” jawab Davis cepat.


Rio yang membantu kami para wanita untuk mencapai jetsky.


“Peluk yang kenceng, biar gak jatuh!” perintah Daniel dengan menoleh ke samping setelah aku berhasil duduk di belakangnya.


“Dibilangin ngeyel!!” keluhnya.


Ketika Daniel melingkarkan tangan kananku ke perutnya, tangan kiri ku segera memukul perutnya dari belakang, dan diikuti gelak tawa kami berdua.


Tiba-tiba—


Wussss byuuurrrr………………….


Jetsky yang dikendarai Davis melaju dengan kencang dan airnya menerpa dan menggoncangkan jetsky kami yang masih dalam posisi off.


“Sengaja banget dia!” Daniel dengan suara keras.


“Kamu siap, Sayang!” Daniel kembali berteriak bertanya padaku namun bukannya aku jawab tapi lagi-lagi malah aku pukul pundaknya, dan dia kembali tertawa terbahak-bahak sembari menyalakan mesin dan melajukan jetsky nya.

__ADS_1


Kami bermain cukup seru, hingga tak menyadari kalau kami terlalu lama bermain. Padahal, kami masih harus menyusuri pasir putih yang ada di anak tangga paling bawah yang kelak akan kami persiapkan beberapa properti untuk berjemur, bersantai menikmati sunrise dan sunset para tamu villa.


Aku yang sedikit pusing ketika bermain air, makin bertambah pusing ketika Daniel memainkannya dengan berputar-putar sesukanya, dia pikir aku menyukainya juga. Hingga akhirnya….


Byuuuuurrrrr……


Aku merasakan tubuhku terpelanting dan jatuh ke dalam air. Setelah itu aku tak mengingat lagi apa yang terjadi.


DAVIS POV


Aku kalah cepat. Daniel lebih dulu mengajak Narita. Aku makin gak suka saat entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi mereka tertawa lebar berdua. Segera aku gas jetsky ku dan aku puas airnya mengenai mereka.


Setelah beberapa lama kami asyik bermain jetsku, aku sengaja memelankan lajut jetskyku dan mendekati jetsky Daniel yang melacu cukup kencang. Tiba-tiba---


Byuuuuuuuuurrrrr….


Penumpang Daniel sudah tak ada, itu artinya???


Tanpa berpikir panjang aku segera menjatuhkan diriku ke laut. Aku ingat betul kalau Narita sama sekali tak bisa berenang, dia pasti akan panik.


Ketika buih ombak sudah semakin menghilang, cukup mudah untukku menemukan keberadaan Narita. Beruntungnya menggunakan baju pelampung, karena tidak perlu khawatir tenggelam. Aku menemukannya, aku mendudukkannya di depanku dengan posisi wajahnya menghadapku, sehingga dengan begitu akan memudahkanku untuk memeluknya dan menjaga keseimbangan laju jestky. Walaupun dengan susah payah dan cukup kerepotan aku berusaha mengendarai jetsky dengan Narita berada di depanku bertumpu padaku.


“Mr. Dav, apa perlu kubantu?” tanya asisten Narita sesaat sebelum aku menyalakan jetskyku. Tapi segera kujawab “Gak. Makasih”.


Ketika hampir sampai daratan batu karang, Rio dengan susah payah berusaha membantuku memindahkan tubuh Narita yang tak sadarkan diri. Dia ditidurkan di tempat yang cukup layak (bukan di atas batu karang).


Aku panik, aku mengguncang badannya, berteriak memanggil-manggil namanya, menekan dadanya berusaha mengeluarkan air yang berlebihan masuk ke mulut Narita. Namun usahaku tak membuahkan hasil.


Akhirnya dengan terpaksa…….aku jepit hidungnya dengan kedua jari tanganku dan menempatkan bibirku dalam posisi terkatup di atas mulutnya. Selanjutnya aku mulai ambil napas seperti biasa dan meniupkan udara secara perlahan (1-2 detik tiap kalinya) ke dalam mulutnya. Aku melakukannya berulang-ulang hingga akhirnya dia terbatuk disertai air keluar dari mulutnya.


Hufh rasanya lega, tenang, dan aku pun beringsut menjatuhkan tubuhku di sampingnya.

__ADS_1


Alhamdullilah-- gumamku lirih.


__ADS_2