CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
DIAKAH?


__ADS_3

AUTHOR POV


 


Hari sabtu dini hari, Dave telah memanggil Teddy untuk mengecek kembali semua perlengkapannya.


“Semua barang-barangku sudah kamu pastikan siap ya Ted?” tanya Dave memastikan.


“Tenang saja, Mr. Anda paling tau bagaimana kerja saya!” ucap Teddy sedikit jumawa dan hanya disenyumin smirk oleh Dave.


“Sudah kamu pastikan Karen dan nanny nya siap juga ya?”


“Sudah, Mr.”


“Kamu siapin 1 Alphard untuk Karen dan nanny nya dan jangan kau campur dengan penumpang lainnya!” perintah Dave sembari merapihkan pakaian yang dikenakannya.


“Siap, Mr!” jawab Teddy.


Setelah itu Teddy meninggalkan kamar Dave dengan mengawasi para asisten yang tengah membawakan koper-koper berisi barang kebutuhan Dave selama di villa. Sementara itu, sambil menunggu waktu sholat subuh, dia tengah menatap pekerjaan melalui macbook nya.


Pikirannya seperti tidak sedang fokus pada macbook yang ada di hadapannya.


Kenapa beberapa hari ini Narita tak terdengar membaca Al Qur’an ya? Baik di kamar atau di musholla sama sekali tak nampak dia sholat berjamaah? Ahhh iya, kan memang perempuan ada masanya istirahat dari ibadahnya ya –batin Dave mengingat bahwa beberapa hari ini tak mendengar suara Narita yang sedang mengaji.


Sholat subuh kali ini, terasa lebih ramai dibandingkan biasanya. Ada adik Dave yang turut serta. Dave dan adiknya memang seorang muallaf. Mereka menjadi muallaf atas keinginan mereka sendiri, sedangkan sebagian besar keluarga mereka non muslim. Meski berbeda, toleransi di antara mereka sangatlah tinggi. Mereka tak mempermasalahkan hal itu, karena keyakinan adalah hak dan kewajiban masing-masing orang tanpa adanya paksaan dari siapapun. Dan seperti hari-hari biasanya, kali ini pun Dave belajar mengaji dari Ali.


“Ali, sepertinya shaf wanita kosong” Dave sengaja memancing Ali seusai mengaji.


“Iya, Mr. Beberapa hari ini Narita ijin tidak sholat berjamaah dulu” jawab Ali yang memang dia selalu berkirim pesan dengan Narita, namun sebenarnya Ali juga tak mengetahui dengan pasti apa alasan Narita absen, Ali pikir karena Narita kedatangan tamu bulanannya.

__ADS_1


“Owh” Ucap Dave singkat.


Satu keluarga Dave kini telah berkumpul di meja makan. Chef mulai sibuk menyajikan makanan untuk para tuannya.


 


“Drake, Teddy, kalian duduklah! Ayo kita sarapan bersama” mendengar ucapan Dave, spontan semua mata menatap pada Dave, Drake, dan Teddy secara bergantian. Perubahan sikap Dave yang menurut mereka hal yang di luar kewajaran adalah hal yang bagus menurut Mommy Dave, namun tidak demikian halnya dengan opa Dave. Opa Dave memasang wajah dingin namun tegas membuat Teddy dan Drake enggan untuk mengikuti perintah Dave.


“Kami tadi sudah sarapan, tuan” tolak Drake yang juga diangguki kepala oleh Teddy, melihat tatapan opa Dave, mereka ngeri sendiri.


Meskipun Dave mengijinkan mereka duduk berdampingan, namun isyarat wajah opa Dave nampak tidak bersahabat. Sementara Daddy Dave tak memperdulikannya.


“Baiklah”


“Mana menu Indonesianya, Drake?” Dave menatap semua makanan yang telah tersaji di atas meja makan.


“Maaf tuan, nanny nya Karen sedang tidak di rumah, jadi tidak ada yang memasak menu Indonesia” jawab Drake sedikit gemetar.


“Saya menyukai masakannya opa. Chefku tak bisa memasak seperti taste nya” jawab Dave yang kini telah menyuap makanannya.


“Opa tidak suka orang yang tidak profesional! Biarlah nanny mengerjakan tugas seorang nanny dan chef mengerjakan tugas selayaknya seorang chef!” perintah opa.


“Iya opa” hanya itu yang dapat diucapkan oleh Dave, karena opa nya adalah seorang yang tidak bisa dibantah ucapannya.


“Drake, usai ini kita bicara di ruang kerjaku!” perintah Dave kemudian lalu dijawab ‘iya’ oleh Drake.


Saat ini Dave dan Drake tengah di ruang kerja.


“Kamu sudah pastikan Karen dan nanny nya ikut ke villa?” tanya Dave pada Drake.

__ADS_1


“Maaf tuan besar, nanny nya Karena yang bernama Narita tidak bisa ikut karena mendadak dia harus mendampingi Professornya untuk mengambil data penelitian ke luar kota. Jadi Karen akan didampingi oleh Leni, nanny nya yang lain” jawab Drake.


Mata Dave tajam menatap Drake, rahangnya mengeras dan nampak wajahnya merah padam. Dia terdiam meskipun tatapan membunuhnya sempat membuat gemetar Drake.


“Maaf tuan!” ucap Drake kemudian karena merasa tuannya tidak menyukai hal itu.


“Kenapa kamu ambil keputusan sendiri, Drake! Sudah jelas kan aku meminta Karen ditemani nanny dia yang biasanya! Kenapa kamu mengijinkan dia pergi?” nada tinggi dari suara Dave membuat bulu kuduk Drake berdiri.


“Ma ma maaf, tuan. Saya pikir siapapun yang menemani Karen, tidak masalah.”


“Pergilah!” Dave mengalihkan tatapannya pada ipad nya.


 "Sekali lagi saya minta maaf tuan. Saya permisi!” Drake melangkah pergi.


 


DAVE POV


Mendengar Drake mengijinkan Narita pergi dari pekerjaannya dan tidak menepati janjinya untuk menemani Karen ke villa, membuatku kecewa. Aku sudah menunggu kesempatan ini untuk bertemu dan mengenal Narita, namun nyatanya aku harus menelan pil kekecewaan.


Pantas saja beberapa hari ini dia tak terdengar suaranya, tak nampak bayangannya di musholla.


Ahh, apa memang aku yang aneh ya? Baru kali ini aku terlalu turut campur urusan seorang asisten. Biasanya juga aku tak mempersoalkannya. Kenapa aku teramat kecewa mengetahui bahwa Narita tak jadi mengikuti acara ini?


 Aku tak lagi bisa fokus untuk menatap ipadku. Aku pun kembali menemui keluargaku yang tengah menungguku di ruang keluarga. Kami pun akhirnya berangkat bersama menuju ke villa, meskipun kami menaiki mobil yang berbeda.


Tiga hari 2 malam kami menghabiskan waktu untuk merayakan ulang tahun perusahaan. Kehadiran Karen untuk pertama kalinya, menimbulkan tanda tanya besar bagi semua orang. Kini tanpa ragu aku memperkenalkannya sebagai anakku.


Usai acara di puncak, keluargaku kembali ke rumahku. Namun hanya semalam saja mereka tinggal di rumahku, setelahnya Mommy dan Daddy pulang ke salah satu mansionnya. Hanya opa dan adikku yang masih tinggal di rumahku.

__ADS_1


Sore hari, kepalaku terasa penat. Aku pun berniat untuk berenang. Sudah lama aku tidak olah raga berenang. Mungkin sejak kehadiran Karen. Ya, sejak kehadiran Karen, aku selalu menghindari untuk bertemu dengannya, entah perasaan apa namanya, yang jelas kala itu aku teramat membenci Karen hingga tak ingin melihat bahkan bayangannya pun. Padahal Karen hanya seorang anak kecil yang sama sekali tak berdosa dan bersalah.


Aku mengenakan jubah mandiku menuju ke kolam renang. Sesampainya di sana, segera aku buka jubahku dan hanya mengenakan celana renang. Kini aku tengah melakukan peregangan otot sebelum mulai menceburkan diri ke air. Saat aku melakukan peregangan, nampak dari kejauhan seorang perempuan berhijab tengah berjalan dengan anggunnya, jilbab besar dan rok lebarnya tertiup angin hingga melambai-lambai menambah keanggunannya. Tanpa kusadari, aku terpaku menatapnya.


__ADS_2