CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
PESANMU CANDUKU


__ADS_3

Narita belum sadarkan diri dan kepalanya masih di pangkuan Davis. Semua mata menatap keheranan pada kekhawatiran Davis. Bukan tanpa alasan mereka heran, mengingat di sana juga ada Alin yang mengaku pacar Davis. Alin menatap Davis dengan tatapan tak suka.


Siapa sih tuh cewek? Kenapa Davis peduli banget? –batin Alin. Namun Alin enggan bertanya pada siapapun, buatnya pertanyaan itu dapat menurunkan gengsinya.


Sementara itu, Bagas dan Aldi nampak berbisik-bisik. “Bro, gue yakin ada sesuatu di antara mereka” kata Bagas, namun hanya dibalas senyuman oleh Aldi. Aldi memang lebih terkesan tenang dalam pembawaannya, sedangkan Bagas selain suka kepo, dia juga slengekan. Selama ini pun yang selalu dijadikan tempat Davis bercerita hanya Aldi, karena Aldi selalu setia mendengarkan dan memberikan solusi.


---- Cottage----


Setelah Narita dibaringkan di tempat tidurnya, Sriti membantunya mengganti baju basah dengan baju bersih kering. Nampak dokter telah datang dan memeriksanya.


“Bagaimana Dok keadaannya?” tanya Davis ketika melihat dokter sudah keluar dari kamar Narita.


“Tak perlu khawatir, tidak ada yang berbahaya. Dia juga tak banyak meminum air laut. Dia pingsan karena panik” jelas dokter dengan menatap mereka bergantian yang pada saat itu berkumpul di depan kamar Narita.


“Apakah dia diperkenankan pulang ke Jakarta sore ini, Dok?” tanya Silvi.


“Boleh, tapi tunggu dia sadar dulu ya. Sudah ada vitamin untuknya, nanti setelah dia bangun tolong minumkan padanya. Pesan saya, tapi tolong nanti kalau dia bangun, jangan membahas mengenai kejadian tadi. Hal itu akan membangunkan traumatik baginya” terang Dokter laki-laki paruh baya itu.


“Baik dok, terima kasih” ucap Davis lalu berjalan mengiringi dokter keluar dari cottage.


Tak berapa lama, Narita terbangun dari pingsannya. Pada saat itu Silvi hanya memperkenankan penghuni kamarnya saja yang berada di kamar mereka. Nampak Narita begitu lemah, berusaha mengerjapkan mata, dan bangun “Alhamdullillah, aku pikir aku akan mati ditelan ombak” katanya setelah melihat Sriti dan Silvi.


“Sssttttt gak boleh ngomong gitu” ujar Sriti bergegas mengambil makan siang Narita, membantunya bangun lalu menyuapinya.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, semua orang mengikuti apa pesan dokter. Tak ada yang membahas kejadian yang menimpa Narita, bagaimana dia bisa terselamatkan, dan siapa yang menyelamatkannya, Narita tak pernah tau dan cukup lemas dan lemah untuk mencari tau.


Mereka kembali ke Jakarta sesuai jadwal. Di fery Davis hanya memperhatikan Narita dari kejauhan. Ingin rasanya dia bertanya bagaimana keadaannya? Apa yang dirasakannya? Namun bibirnya kelu. Cukuplah dia tenang melihat Narita baik-baik saja.


Sesampainya di dermaga Ancol, “Na, kita ketemu lagi!” Beni menepuh pundak Narita ketika dilihatnya Narita dan Sriti berjalan berdua menuju pemberhentian bus trans. Saat itu Beni berjalan hendak menuju parkiran. “Sini aku bawain, Mbak!” Beni kembali meminta tas ransel yang bawa Sriti, mengingat dia kasian melihat Sriti membawa 2 tas ransel yang sepertinya 1 milik Narita.


“Makasih” kata Sriti tersenyum.


“Mau pulang kan? Bareng aku aja yuk!” ajaknya menatap Sriti dan Narita bergantian.


“Kami---” Narita belum selesai berkata, sudah disela Sriti.


“Boleh juga, tapi gak ngrepotin kan?” sahut Sriti.


Davis memandang mereka dari kejauhan. Aldi memperhatikan arah mata Davis dan paham betul apa yang dirasakan Davis.


Akhirnya Narita kembali dengan selamat ke kosnya. 


----Kantor----


Sudah 3 hari sejak liburannya ke pulau seribu, tak ada pesan dan telpon dari Davis. Sepanjang hari Narita memperhatikan ponselnya, namun nihil. Selama ini Narita terbiasa dengan pesan Davis yang dikirimkannya pagi, siang, sore. Menjemputnya sepulang kerja, makan bareng, bersendau gurau. Malam harinya mereka kembali telponan sampai menjelang tidur. Perhatian Davis seolah candu buatnya.


NARITA POV

__ADS_1


Apa aku yang kirim pesan duluan ya? Ahh tapi apa alasanku? Gengsi ah. Tapi aku penasaran kenapa 3 hari ini gak ada kabarnya, apa terjadi sesuatu dengannya?. Lalu Narita menurunkan egonya dan mengirimkan pesan untuk Davis.


Narita: Hai boy! Apa kabar?


Tak berapa lama, Davis membalas.


Davis: Baik. Kabarmu?


Narita: Alhamdullillah baik.


Aku bingung mau ngetik apalagi. Tiba-tiba pesan masuk ke ponselku. Nampaklah foto-foto candidku dengan berbagai view yang menurutku bagus banget.


Narita: Wahh, bagus ya foto-fotonya. Makasih ya.


Seingatku Davis tak suka mengambil objek orang dari kameranya kecuali spesial. Terus kenapa Davis memotretku? Owh mungkin ini yang dia ambil dari kamera ponselnya.


Davis: disimpan ya. Buat kenang-kenangan. Kapan lagi difoto sama fotografer professional nan ganteng ini 🤪


Narita: 👍. Thanks ya


Davis: sama-sama. 🤗


Narita kembali tersenyum. Pesan Davis dengan emoticon nyeleneh begini yang selalu dirindukan Narita. Seolah Narita menjilat ludahnya sendiri. Bilangnya gak suka tapi selalu berdebar meski hanya dengan berkirim pesan dengannya.

__ADS_1


__ADS_2