CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
PENOLAKAN


__ADS_3

DANIEL POV


Aku memikirkan kembali siapakah gerangan beberapa orang yang tadi bersama Narita. Kalau memang mereka adalah bapak, ibu, dan adik laki-lakinya, akan lebih bagus lagi kalau aku menemui mereka sekarang.


Tak lama kemudian, dari arah pintu masuk, seseorang datang mendekatiku dengan senyum merekah sungguh manisnya, aku pun membalas senyumannya.


“Hai, Niel!” sapanya.


“Hai, Na. Ganggu gak nie?” tanyaku.


“Hmmm sedikit” jawabnya sambil cengar cengir dan mulai mendudukkan tubuhnya.


“Hah? Serius? Maaf maaf kalau gitu” aku berdiri dari dudukku dan bertingkah sedikit kurang nyaman dengan jawabannya.


“Ehhh, enggak enggak. Becanda. Duduk gih!” tangannya mempersilahkanku duduk dan aku pun akhirnya duduk kembali.


Kuminta si mbak pelayan datang lalu Narita memesan minuman favoritnya.


“Memangnya ada siapa sie, kok aku sedikit ganggu?” aku mencoba mengorek keterangan.


“Aaaahh, kan aku cuma becanda Niel. Tapi sorry aku emang gak bisa lama-lama, sedang ada tamu di rumah” dia sedikit gelisah.


“Siapa? Kenapa gak sekalian aja aku dikenalin!?”


“Mereka baru sampai jadi baru aja istirahat, maaf ya Niel!”


“Siapa mereka?” aku terus mendesaknya.


“Saudaraku dari kampung” jelasnya.


“Owh,,,sampai kapan mereka di sini?”


“Nanti malam mereka pindah ke rumah Saudara yang lain, mungkin nanti kapan-kapan balik lagi ke sini. Yaa suka-suka mereka, aku juga gak tau sampai kapan mereka liburannya” dia menyeruput minuman yang sudah tersaji.


“Berapa orang emangnya?” aku bertanya pura-pura tidak tau.


“Dua orang” jawabnya tenang namun aku sedikit terheran. Kalau dua orang, terus yang 1 orang tadi siapanya?.


“Bukannya 3 orang ya?” aku tak sadar menanyakannya dan kulihat raut muka Narita langsung berubah. Dia terlihat kaget setelah mendengarku mengatakannya dan hal itu pula lah yang membuatku tersadar akan kecerobohanku.

__ADS_1


“Hah??? Ta tau darimana? Emang kamu lihat?” dia bertanya gugup.


“Hmm kebetulan tadi sewaktu parkir mobil, gak sengaja ngeliat kalian berempat sudah berada di depan lift” nampak wajah gusar Narita. 


“Owh yang 1 orang itu Saudaraku yang nanti malam mau membawa mereka ke rumahnya” Narita mengungkapkan alasannya masih sedikit gugup.


Aku makin penasaran, kenapa dia harus gugup?


Apa mungkin dia khawatir aku mengetahui siapa mereka yang sebenarnya?


Apa mungkin aku mengenal salah satu di antara mereka yang diakuinya sebagai Saudaranya?


Aku mulai menatap tajam ke mata Narita. Aku yakin ada yang dia sembunyikan dariku.


“Kenapa, Niel? Kok kamu ngeliatin aku gitu sie?”


“Owh iya by the way, ada perlu apa kamu ingin menemuiku?”


“Memang harus ada alasan ya kalau mau menemuimu?” aku tak memutuskan tatapanku sama sekali, membuatnya sedikit kikuk.


“Yaaa enggak juga sie. Tapi maaf Niel, aku gak bisa lama-lama, takut mereka pada bangun tapi tuan rumahnya gak ada!” Narita nampak makin gusar dengan sesekali melihat ke jam tangannya.


“Hah???” dia kaget dengan sedikit berteriak.


“Aahh enggak, becanda. Kamu tegang banget sie, kaya mau ujian sekolah aja” aku berusaha mencairkan suasana.


Lalu suasana di meja kami kembali hening. Nampak dia mulai meraih sesuatu dari dalam tas nya.


“Niel, aku mau mengembalikan ini!” dia meletakkan kotak beludru yang pernah aku berikan padanya.


"Kenapa dikembalikan? Aku mau kamu memintaku memakaikannya!”


“Maaf, Niel” dia meremas gugup kedua telapak tangannya. Aku memperhatikan jari manis tangan kirinya telah melingkar cincin bertahtakan berlian. Dari situlah aku pun paham.


“Na, aku siap menunggumu, jadi kamu simpan saja ini!” aku mendorong kotak beludru itu.


“Maaf, Niel. Aku tak mungkin menyimpannya karena aku tak mau membiarkan seseorang dalam ketidakpastian.”


“Kenapa? Apa mungkin sudah ada yang lain?” aku tau pertanyaanku belum tentu dijawabnya, tapi aku penasaran siapakah seseorang yang memberikan cincin di jari manisnya itu.

__ADS_1


Apakah, dia…….??? – asumsiku dalam hati, yang segera aku tepis.


Pelan-pelan dia menganggukkan kepalanya dengan tertunduk.


“Apakah aku mengenalnya?” tanyaku kemudian.


“Niel maaf. Aku belum bisa mengatakannya sekarang. Nanti kalau sudah tiba waktunya, tidak hanya kamu yang akan kuberitahu, tapi semua teman-teman kita juga harus tau.”


“Oke baiklah kalau begitu. Tapi kamu harus janji padaku, kamu bahagia dengan keputusanmu!” suaraku sedikit bergetar.


“Niel, kamu baik, kamu setia, aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang sama baiknya denganmu. Aku yakin suatu hari nanti kamu pasti akan bahagia dengan seseorang yang tepat” nasehatnya membuatku lemah.


“Buatku, kebahagiaanku adalah melihatmu bahagia, Na! Kalau dia tidak mampu membahagiakanmu, dia sampai berani membuatmu menangis, jangan ragu-ragu untuk kembali padaku ya!”


“Niel, tolong kamu buka hati untuk yang lain! Jangan memintaku kembali!”


“Kamu tau sendiri Na, aku seperti apa. Tak mudah bagiku jatuh cinta, tak mudah menghapus seseorang yang sudah ada di sini” aku memegang dada kiriku seolah disinilah rasa sakitku saat ini.


“Berdoalah, Niel. Tuhan yang maha membolak balikkan hati umatnya!”


“Owh ya, carilah seseorang yang akan mampu membuatmu dekat dengan Tuhanmu, Niel!” aku terperangah mendengarnya mengatakan hal itu. Aku masih terdiam menunggu kata-katanya selanjutnya.


“Aku tidak memilihmu, karena aku merasa bukan seseorang yang tepat untuk mendampingimu!”


“Aku bukan seseorang yang akan mampu membantumu mendekatkanmu dengan Tuhan”


“Maaf…”


Rasanya aku tak kuasa mendengar setiap ucapannya. Dia melakukan ini bukan untuknya saja tapi juga untukku. Dia memikirkan bagaimana keimananku bila kami bersama. Dia bukan wanita egois yang memintaku mengikutinya, namun justru melepasku karena merasa dia tak bisa membuat keimananku makin meningkat. 


“Na, apakah dia yang kau pilih adalah seseorang yang mampu membuatmu dekat dengan Tuhan?” tanyaku menjurus, kutau kalau dia yang kutebak bukanlah seseorang yang seiman dengannya.


“Iya” dia menjawab dengan pelan sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


 


 


---- TO BE CONTINUED ----

__ADS_1


__ADS_2