CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
FAREWELL PARTY 3


__ADS_3

NARITA POV


 


Permainan masih berlanjut. Kali ini Daniel yang berkesempatan untuk mengemukakan pertanyaan kepadaku.


“Apa aku masih ada kesempatan menjadi pendampingmu, Narita?”


Gemuruh sorak sorai sahabat mereka serentak menggelegar mendengar pertanyaan dari Daniel.


“Niel, gila loe. Ini nembak namanya!”


“Niel, masih getol aja sie pedekate nya!”


“Niel, move on dong! Narita udah mau nikah!”


“Wah, hebat loe Niel. Maju terus pantang mundur!”


Begitulah kira-kira cuitan temen-temen bersaut-sautan. Aku masih mencerna pertanyaannya dan mencari jawaban yang sekiranya bisa menjawab dengan tepat.


“Aku memilih Truth!”


Serempak mereka yang masih heboh bersaut-sautan tiba-tiba diam, memandangku intens, sembari menunggu apakah jawaban yang akan aku berikan.


“Manusia merencanakan, Allah yang menentukan. Aku hanya mengikuti apa yang telah digariskannya. Aku tak tau apa yang akan terjadi dengan kita di masa depan. Kita tunggu saja garis nasib kita yang akan dilukiskan Allah, Niel. Tak ada yang berhak berkata ‘tak ada kesempatan’ karena semua kesempatan itu datangnya dari Allah!” jawabku panjang lebar.


Dua detik setelah aku menutup mulut, tiba-tiba terdengar tepuk tangan mengiringi. Tak ada saut-sautan kata-kata cemoohan, heboh, dan lain-lain. Hanya tepuk tangan.


“Siapa yang akan rela mundur bila mencintai wanita seideal Narita” tiba-tiba Arnold nyeletuk dan tepuk tangan berhenti.


“Aku rasa langsung aja deh Arnold” ucapku kemudian karena aku mulai kurang mood untuk meneruskan permainan ini. Aku meminta Arnold untuk melanjutkan permainan ini.


“Narita, kapan kamu menikah dengannya!”


Sudah kuduga kalau bakal makin gak asyik permainan ini. Aku selalu terjebak untuk menjawab pertanyaan yang aku sendiri tak ingin berkomentar.

__ADS_1


“Aku memilih Dare!”


“OK. Tantangannya adalah kamu cukup menjawab dengan jujur pertanyaanku ini.” Tantang Arnold.


“Ih mana bisa begitu. Kalau kamu nanya hal yang sama, ya percuma dong Nold. Aku terjebak juga!!” elakku.


“Bukan. Ini bukan hal yang sulit untuk kamu jawab kok!” argument Arnold.


“Baiklah. Silahkan!” aku makin malas.


“Narita, kamu menginginkanku move on darimu atau tetap menunggumu?” tanya Arnold.


Aku mengedarkan pandangan ke semua sahabatku sebelum menjawab. Aku sudah mantap dengan apa yang aku katakan, tapi aku hanya ingin pesanku tersampaikan dengan baik kepadanya. Aku menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Lalu mulai berucap:


“Aku bukan tipe wanita yang gampang jatuh cinta. Sekalinya aku sudah melabuhkan hatiku pada seseorang, akan sulit untuk digoyahkan oleh orang lain. Jadi, tolong bukalah hatimu untuk wanita lainnya. Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk menunggu yang tak pasti! Di luar sana masih banyak yang lebih baik dariku!” setelah aku mengakhiri kalimatku, mereka bertepuk tangan lagi. Kali ini lebih semangat dan lebih lama. Aku tersenyum mengedarkan pandangan ke semua sahabat-sahabatku.


Lalu acara selanjutnya adalah permainan piano dan menyanyikan lagu secara bergiliran. Daniel, Arnold, dan Leo yang pandai bermain piano, berganti-gantian mengiringi kami bernyanyi.


Acara ditutup dengan kesan, pesan, dan pengharapan dari masing-masing orang terhadapku. Sebagian besar menginginkan kami tetap menjalin komunikasi meskipun kami tak sering bertemu.


 


--- Pagi hari di apartemen Narita ---


Setelah menunaikan ibadah, aku segera membersihkan apartemen dan dilanjut memasak. Ini adalah hari pertamaku menjadi pengangguran. Aktifitas yang membutuhkan tenaga fisik dan bersih-bersih yang cukup menguras keringat membuat perutku sedikit kencang. Segera aku rebahkan tubuhku di atas sofa 3 seater yang menghadap ke televisi.


Sembari rebahan, aku memegang ponselku dan menatap sebuah nama di sana ‘Ibuku tersayang’. Aku berpikir hendak menelpon ibu dan mengabarkan mengenai kandunganku.


Pada dering ketiga, ponsel diangkat.


“Assalamu’alaikum Narita”


“Wa’alaikum salam bu. Ibu sama Bapak, apa kabarnya?”


“Alhamdullillah baik, Nduk. Kamu sama Davis gimana?”

__ADS_1


“Alhamdullillah baik Bu.”


“Alhamdullillah. Tumben jam segini telpon, lagi di kantor ya Nduk?”


“Bu, saya ketrima beasiswa S3 di Australia, jadi saya memutuskan untuk keluar dari kerjaan”


“Hah? Kuliah lagi nduk? Terus suamimu ngijinin?”


Aku pun bingung pasti ibu akan mendesakku dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai suamiku. 


“Diijinin kok bu. Owh iya bu, Alhamdullillah mohon doanya ya bu, Narita lagi hamil 2 bulan”


“Alhamdullillah. Selamat yaa nduk. Ibu seneng dengernya. Sudah periksa ke dokter nduk? Sehat kan ibu dan dedeknya?” suara Ibu serak menandakan haru kebahagiaan. 


“Sudah bu. Alhamdullillah ibu dan janin sehat semua”


“Bu, nanti Na melahirkan di kampung aja ya?”


“Iya sayang. Dipikirin nanti aja ya, yang penting kamu bicarakan terlebih dahulu dengan Davis juga.”


“Alhamdullillah kalian isinya gak lama ya nduk. Udah menjelang 30 tahun, Alhamdullillah dikasih cepet sama Allah. Nduk, jadi ini gak sibuk kerja kan?”


“Iya bu. Na jadi pengangguran sekarang, hehehhe”


“Gakpapa Nduk. Terus kapan ke Australianya? Kalau hamil dan melahirkan, gimana sama beasiswanya?”


“Na berangkatnya nanti setelah melahirkan kok, Bu!”


“Owh gitu. Yaudah jaga kesehatan ya Nduk. Jangan banyak pikiran. Kalau bosen di sana, minta ijin sama suamimu untuk bisa pulang kampung kangen-kangenan sama ibu.”


“Iya bu. Makasih ya. Terus doaian Na yang terbaik ya bu”


“Ya udah gitu aja bu. Ibu, Bapak, sama Arjuna juga jaga kesehatan ya. Assalamu’alaikum”


“Iya nduk. Wa’alaikum salam”

__ADS_1


Setelah aku menutup telpon, aku pun mulai tak bisa membendung aliran air dari ujung mataku. Isakan tangis yang selama menelpon sudah kutahan, tak bisa lagi kutahan. Ingin rasanya aku menangis, tapi aku tak ingin membuat ibuku yang sudah berusia senja kepikiran hal yang macam-macam. Aku hanya ingin memberikan kabar bahagia saja ke ibu, meskipun terasa sesak beban di dada. Aku belum sanggup menceritakan mengenai perginya Davis.


__ADS_2