CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
RENCANA DAVE 1


__ADS_3

AUTHOR POV


Ya, begitulah seorang Dave. Karena dia tumbuh dengan bergelimang harta, tinggal di daerah yang tingkat individualismenya cukup tinggi, sehingga membentuk kepribadian yang terkesan sombong, angkuh, sok, dan terlalu pilih-pilih dalam segala hal, selain juga dikarenakan dia memiliki kepribadian yang introvert.


Namun, keberuntungan tak pernah berpihak padanya. Setiap habis Subuh, usai diajari mengaji oleh Ali dia sengaja menunggu lama di dalam Little of Al Aqsha berharap ‘seolah tak sengaja’ bertemu dengan Narita, namun nyatanya sampai batas waktu tertentu, Narita tak kunjung keluar.


Ketika Dave sengaja pulang cepat dan sholat Isya’ di rumah, di mana Narita pun menjadi makmumnya, tetap tak bisa bertemu karena Narita pergi dari Little of Al Aqsha sebelum dia keluar dari sana.


Ketika Narita usai memasak makan malam untuk Dave, Narita tak kunjung memasuki rumah utama, meskipun Dave sengaja duduk berlama-lama di meja makan demi berharap ‘seolah bertemu tanpa sengaja’ dengannya.


Ketika Dave meminta Narita langsung yang menyajikan masakannya, Narita selalu menolak dengan alasan dia bau dapur dan takut membuat Dave tak berselera makan.


Harapannya untuk bertemu ‘dengan tidak sengaja’ dengan Narita tak pernah terwujud. Rasa penasaran pun makin memuncak, hingga akhirnya dia terpaksa membuat sebuah skenario.


Hari sabtu ini adalah acara puncak ulang tahun OXC. Meskipun cabang perusahaan OXC tersebar di seluruh penjuru dunia, tapi semua cabang nya pun didirikan/diresmikan pada tanggal yang sama dengan tanggal berdirinya OXC pusat.


Menurut informasi dari Teddy, bahwa keluarga Dave akan datang ke Australia pada hari Jumat pagi. Rencananya mereka akan langsung beristirahat sementara di rumah Dave. Meskipun Mommy and Daddy nya juga memiliki rumah di Australia, tapi mereka lebih memilih berkumpul di rumah Dave karena sekalian kumpul keluarga.


Hari ini Dave sengaja pulang sebelum sholat Maghrib. Usai sholat Maghrib, dia makan malam sendiri di meja makan. Namun Drake senantiasa dengan setia mendampingi tuannya itu ketika dia tengah makan malam.


“Drake!” panggil Dave sembari mengunyah makanannya.


“Iya tuan” jawabnya sembari berjalan mendekat ke tuannya.


“Apa Karen sudah tidur?”


“Tadi nanny nya sudah membawanya ke kamar, tuan. Apa perlu saya lihat ke kamarnya, tuan?” Dave segera mengangkat tangan kanannya seolah berkata ‘tidak usah’ lalu Drake pun hanya mengangguk.

__ADS_1


“Drake nanti tolong, kamu dan Teddy ke ruang kerjaku ya! Setelah aku selesai makan malam!”


“Baik, tuan”


--- Ruang kerja Dave  ---


“Ted, boleh kamu tunjukkan pembagian kamar untuk para petinggi perusahaan?” tanya Dave pada Teddy yang sudah berdiri di depannya.


“Ini Mr!” Teddy menyerahkan ipadnya.


“Ted, kamu tambahkan 1 kamar untuk Karen dan nanny nya!” perintah Dave kemudian.


“Maaf tuan, apakah Karen akan diajak ke acara tersebut?” tanya Drake seolah kaget dengan apa yang sudah dia dengar.


Selama ini, Dave tak pernah mengijinkan Karen diikutkan dalam acara-acara perusahaan maupun acara keluarga. Dave seolah tak pernah bersedia untuk berdekatan dengan anak itu kecuali dalam kedaan tidur. Dave seolah ingin menyembunyikan anak itu dari semua anggota keluarganya. Namun kali ini, bener-bener di luar dugaan Drake. Di acara sebesar itu, di mana akan banyak berkumpul semua anggota keluarga Dave, semua petinggi perusahaan dari berbagai negara cabang, dan mungkin bakal ada pejabat tinggi negara yang akan diundang, Dave ingin membawa serta Karen.


“Iya” jawabnya dengan cepat.


“Tidak ada tuan, saya malah senang akhirnya Karen bisa mengenal keluarga besarnya” nampak mata Drake berkaca-kaca.


“Oke Ted? Tambahkan 1 kamar untuk mereka.” Dave memerintahkan ulang.


“Atur kamar mereka di dekat kamarku agar aku lebih mudah mengawasinya!” lanjutnya.


“Baik Mr!” meskipun Teddy mengikuti perintah Dave, ada tanda tanya besar di dalam kepalanya, ada apakah gerangan? Kenapa tiba-tiba Dave menginginkan dekat dengan Karen? Apakah dia sudah bisa menerima Karen seutuhnya?


“Oiya Ted, jangan lupa pastikan Kamar opa ada connecting door nya dengan para asistennya!”

__ADS_1


“Baik, Tuan.”


“Drake, tolong kamu sampaikan ke nanny nya Karen untuk mempersiapkan segala kebutuhan Karen selama menginap di villa. Owh iya, dan juga kebutuhannya, karena dia harus turut serta.”


“Berapa hari, tuan?” tanya Drake memastikan.


“Acara kantor hanya 2 hari 1 malam, tapi biasanya keluarga tetap masih mau extend 1 malam lagi. Jadi disiapkan saja 3 hari 2 malam” jawab Dave.


Usai memberikan arahan pada Drake dan Teddy, Dave kembali tenggelam dengan pekerjaannya. Dia pulang cepat bukan berarti kerjaannya telah selesai, namun dia memang berencana untuk melanjutkannya di rumah, selain misi ingin bertemu dengan nanny Karen ‘secara tidak sengaja’.


Tepat jam 11 malam, Dave keluar dari ruang kerjanya lalu turun ke lantai 2 hendak menuju kamar Karen. Dia harus mengucapkan selamat malam dan selamat tidur terlebih dahulu dengan Karen. Kamar Karen yang berdampingan dengan kamar Narita, dan nuansa malam yang sangat sepi dan hening, sayup-sayup Dave memdengar seseorang tengah mengaji. Lagi dan lagi entah dorongan apa, kini Dave berjalan menuju depan pintu Narita dan hendak mengetuk pintunya. Tangannya yang hendak mengetuk pintu, tiba-tiba terhenti di udara. Dia kembali memikirkan, apa alasan yang akan dia buat kalau Narita membukakan pintu dan bertanya “Ada apa tuan?”. Akhirnya dia mengurungkan niatnya dan bergegas kembali ke kamar Karen.


Memasuki kamar Karen, dia mengamati segala penjuru kamar itu. Sejak Narita menginap di sana, setiap kali dia memasuki kamar Karen, pasti kondisinya akan bersih, rapi, dan nyaman. Sesaat dia terdiam mengingat akan satu hal.


Ya, waktu itu Drake pernah bilang bahwa di kamar Karen ada sebuah speaker yang terhubung dengan kamar Narita, dimana jika Karen terbangun sewaktu-waktu dan memanggil atau menangis, maka Narita akan dengan segera mengetahuinya. Mengingat akan hal itu, ujung bibir Dave tertarik ke atas, seolah mulai mendapatkan ide yang cemerlang.


Dave mendekati ranjang dan pelan-pelan menuju wajah Karen.


CUP


Sebuah kecupan di kening dan kedua pipi Karen. Lalu Dave merebahkan diri di samping Karen dan memposisikan memeluk Karen dari samping. Pandangan matanya intens menatap wajah tenang nan ayu dari gadis kecil itu.


“Sayang, bagaimanakah harimu? Apakah kamu bahagia?”


“Sayang maafkan Daddy, yang sampai sekarang tak mampu menemuimu secara langsung. Daddy memang pengecut.”


“Ada banyak hal yang tak bisa Daddy katakana padamu karena kamu pun tak akan pernah mengerti, Sayang. Tapi percayalah, semakin hari Daddy semakin menyayangimu.”

__ADS_1


“Daddy selalu merasa malu sama nanny Narita. Dia yang bukan siapa-siapa mu saja bisa dengan tulus mencintai dan menyayangimu, apalagi Daddy?”


“Dari nanny Narita, daddy belajar banyak hal sayang. Daddy belajar mencintai dan menyayangimu dengan tulus, Daddy belajar untuk membuka komunikasi dengan banyak orang, Daddy belajar untuk tidak indivividualis, memahami orang lain, tidak menganggap bahwa segala hal itu bisa menjadi seperti apa yang kita mau, Daddy belajar makan makanan yang enak meskipun terasa aneh karena baru pertama kali merasakannya, Daddy belajar menghargai jerih payah orang lain, dan mungkin seiring berjalannya waktu akan banyak hal yang harus Daddy pelajari dari nanny mu itu.”


__ADS_2