
Pagi harinya, tanpa sengaja aku kembali melihat Davis dan Jess keluar dari kamar Davis. Baju Jess adalah baju yang sama dengan yang dia kenakan semalem. Nampak mereka berdua canggung setelah mata mereka berdua menangkap keberadaanku.
Aku pun tersenyum dan menyapa mereka “Selamat pagi Mr. Dav, Jess!”
Davis tanpa tersenyum hanya mengangguk dan berjalan mendahuluiku dengan Jess yang berada di sampingnya. Ternyata tujuan kami sama yaitu restoran.
Saat aku memasuki restoran, aku mengedarkan pandanganku dan akhirnya aku menghampiri meja Daniel.
“Kalian kok bisa barengan?” Davis menanyaiku setelah mengetahui aku masuk restoran di belakang Davis dan Jess. Davis dan Jess langsung menuju ke buffet.
“Kebetulan” jawabku singkat lalu duduk tepat di hadapannya.
“Nie!” Daniel menyodorkanku nasi goreng lengkap dengan telor mata sapi setengah matang dan sosis.
“Aku ambil sendiri aja!” aku hendak beranjak tapi pergelangan tanganku ditarik kembali oleh Daniel.
“Aku ambilin ini buat kamu. Aku cukup sarapan ini!” Aku kembali duduk setelah Daniel menunjuk piringnya yang berisi aneka macam buah potong.
Aku pun mulai menyendok dan memakan nasi goreng yang ada di hadapanku.
“Ini minummu!” Daniel menyodorkan orange juss ke dekatku.
“Wuihhh so sweet” aku pun menggodanya, dan kami pun tersenyum tipis.
“Pagi-pagi sudah bikin orang cemburu aja!” spontan aku dan Daniel menoleh ke sumber suara. Ya, Davis telah berdiri di dekat kami, menarik kursi dan mendudukinya. Dia berada di tengah-tengah antara aku dan Daniel, sedangkan Daniel tepat berada di hadapanku. Tak mau ketinggalan, Jess juga duduk di seberang posisi Davis duduk.
“Kalian pasangan kekasih?” tanyanya kemudian dengan nada ketus. Aku memutar bola mataku malas, membuang wajahku ke sembarang arah. Aku dan Daniel tak menjawabnya.
“Emang ada larangan berpacaran dengan rekan sekantor?” tanya Jess sambil menyuap potongan buahnya dengan santai.
“Gak. Bebas aja” Davis bersuara cuek.
Tiba-tiba ada suara teriakan “Naritaaaa”. Kami berempat spontan menoleh ke sumber suara yang tak lain adalah Sherly yang datang bersamaan dengan Mirna, dan 3 orang dari bagian operasional. Namun tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya untuk mendekati mejaku. Mereka berlima menundukkan kepala dan tersenyum tanda memberi salam pada Davis. Davis sama sekali tak membalas sapaan salam hormat dari anak buahnya itu.
Aku memperhatikan dengan seksama bagaimana Davis dengan angkuhnya mengacuhkan mereka.
“Ternyata jabatan atau kedudukan telah mengubah seseorang ya Niel!” aku tak tahan sengaja menyindir Davis. Dia tak menggubrisnya, cuek masih melanjutkan makannya. Daniel hanya mengangguk dan tersenyum tanda setuju dengan pendapatku.
__ADS_1
Akupun berdiri dan segera menyapa mereka berlima.
“Jam segini sudah sampai sini, pesawat jam berapa?” tanyaku bergantian memandangi mereka.
“Jam 05.00, Na!”
“Kok ambil yang jam segitu!”
“Lah emangnya kamu gak tau Na?? Rio asisten Mr. Dav semalem wa kami satu-satu, memberitahukan bahwa jam 09.00 kami harus sudah siap untuk cek lokasi”
“Owh ya?” tanyaku keheranan.
“Yasudah kalian makan aja dulu gih, nanti baru masuk kamar!” aku menuntun mereka ke meja dekat kami, tapi tangan Sherly menarik lenganku.
“Jangan dekat mejamu, Na!” kata Sherly.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku gak mau kikuk makan dekat Dirut. Tadi aja dia angkuh banget!” lanjut Sherly.
Aku mengangguk dan kembali ke tempat dudukku. Namun ketika aku ingat belum makan buah, aku memilih ke buffet untuk mengambil buah.
“Na, kenapa kamu sama Daniel bisa betah se meja makan sama big bos sie?” Sherly tiba-tiba sudah ada di sampingku dan berbisik tepat di telingaku, membuatku bergidik saja.
“Ck,,” aku selintas memangdangnya lalu kembali memandang potongan buah yang sedang ku ambil.
“Kenapa” tanyanya lagi.
“Awalnya aku cuma duduk berdua sama Daniel, tiba-tiba bigbos sama pacarnya duduk di samping kami!” terpaksa aku menjawabnya jadi bicara sekenanya aja.
“Hah serius itu pacarnya? Bukannya dia udah punya tunangan ya?”
“Aku juga gak tau!” aku pura-pura berbisik di telinga Sherly lalu segera pergi. Aku tersenyum geli dalam hati, menyadari hal ini,,,kali ini nyatanya aku sendiri yang menyebarkan gosip bigbos sama pacarnya. Maklum ya, siapa yang gak akan salah paham ketika mengetahui pria dan wanita tidur dalam satu kamar. Apa itu artinya? Pikiran polosku si sudah pasti wanita berstatus Istri/tunangan/pacarnya.
“Kamu sudah tau jadwal kita, Na?” tanya Davis setelah aku duduk kembali di kursiku.
__ADS_1
“Iya Mr. Dav!” aku harus bersikap professional. Dikala cuma berdua, aku cukup memanggil namanya saja, sedangkan ketika di hadapan rekan kerjaku tetap dengan panggilan Mr. Dav. Kulihat dia hanya manggut-manggut.
“Jangan lupa bawa baju ganti!” nada perintah namun terkesan non ekspresinya membuatku malas.
“Hah?? Untuk apa?” aku bertanya kaget dan sedikit berteriak.
“Turutin saja! Jangan banyak tanya!” dia lalu berdiri dan diikuti oleh si Jess.
“Wait Dav!” Jess sedikit berlari mengikuti langkah Davis.
Aku dan Daniel masih memperhatikan kepergian Davis dan Jess. Terlihat sepertinya Davis menyuruh Jess untuk pergi menjauh, namun sepertinya Jess keberatan. Tak lama kemudian mereka berpisah.
Aku kembali mengingat kata-katanya tadi yang selalu angkuh, ketus, sombong, dan menyebalkan. Padahal dulu ketika aku mengenalnya, aku sangat senang ngobrol dengannya karena dia sosok yang asyik diajak ngobrol.
Benar-benar dia telah berubah. --batinku
“Kalau yang sering ke kantor itu tunangannya, terus yang ini siapanya?” Daniel membuyarkan lamunanku yang masih menatap kepergian Davis.
“Hehe, tumben kamu kepo sama kisah cinta big bos, Niel?” aku sengaja bercanda dengan Daniel agar Daniel tak menyadari ekspresiku saat ini.
“Ck,,,kebiasaan deh!”
“Kebiasaan apa?”
“Bukannya menjawab pertanyaanku, malah nanya balik!” Daniel cemberut.
“Lhaa kamu aneh juga Niel, mana aku tau. Kan kamu lebih lama mengenalnya daripada aku!”
“Tapi kan aku sudah melihat kalian bertiga dari kemaren. Aku pikir kamu sudah dikenalkan dengannya,,,yaaa dikenalkan sebagai siapanya gitu?”
“Owhh itu. Iya kemaren sie cuma dikenalkan kalau itu Jessica teman kuliah Davis” tanyaku enteng tanpa menyadari suatu kesalahan dalam ucapanku.
“Hah????????” Daniel kaget dan sedikit berteriak.
“Sssttt, kenapa teriak-teriak sie Niel?” tanyaku heran.
“Kamu bilang tadi DAVIS ??” Astaghfirullah aku baru menyadari betapa bodohnya aku menyebut big bos ku tanpa Mr tapi langsung namanya. Haduw, capek nie aku nyari-nyari alasan untuk menutupi kebenarannya.
__ADS_1