
DAVIS POV
Pagi ini, kami berdua bangun kesiangan. Jam 05.00 alarm yang aku pasang di ponsel telah berhasil membangunkanku. Kupandangi wajah manis yang kini ada di pelukanku. Tak henti-hentinya aku tersenyum sendiri membayangkan apa yang telah kami lakukan semalam, dan betapa manisnya kami saat ini.
Mengingat waktu yang mepet, segera aku bangun dan berlari kecil ke kamar mandi.
10 menit kemudian, aku keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di perutku. Kulihat istriku sudah mengenakan bajunya dan lantai yang tadinya masih berserakah baju-baju kami, telah rapi kembali. Bahkan kasur telah rapi dan dia telah menyiapkan pakaian dalam, baju koko dan sarung untukku.
“Tunggu aku ya mas. Kita jamaahan” katanya seraya berjalan pelan ke kamar mandi.
Lagi-lagi aku tersenyum melihat tingkah konyolnya. Baru kali ini dia terlihat berjalan sangat pelan, bukan seperti Narita yang seperti biasanya. Aku pun mulai memakai bajuku, menyiapkan 2 sajadah, dan mukena untuknya. Lalu aku menunggunya dengan duduk di pinggir Kasur.
Saat dia keluar dari kamar mandi, dia hanya mengenakan handuk, seraya berkata “haduw pake acara lupa bawa baju pula” langsung berjalan menuju walking closet. Aku kembali tersenyum kecil
Keluar dari walking closet, kami pun bersiap beribadah bersama. Seusai beribadah, Narita berpamitan untuk membantu bi Jah menyiapkan sarapan. Namun saat dia hendak keluar kamar, segera kuraih tangannya.
“Sayang, kalau kamu masih capek, gak usah dipaksakan! Bi jah biasa menyiapkan sarapan sendiri kok!” setelah tangannya berhasil kuraih, aku memaksanya duduk di pangkuanku.
“Iya mas, tapi kan sekarang kita banyak orang, kasihan dia kalau menyiapkan seorang diri!”
“Lho kamu pikir bi Jah yang masak?” kataku heran.
“Lha emang iya to?” dia balik nanya.
“Enggak, Sayang! Memang bi Jah yang menyiapkan makanan di meja makan, tapi yang memasak itu udah ada koki dan asisten-asistennya.”
“Soal menu kamu gak perlu khawatir. Biasanya kalau cuma hanya ada aku, menunya western food, tapi sejak bapak ibu nginep di sini, aku minta koki menyiapkan Indonesian food” aku menjelaskan dan dia pun manggut-manggut.
“Ok, untuk hari ini aku mengalah. Jujur emang badanku lemes, ada yang terasa gak nyaman. Tapi nanti sekali-kali aku juga mau masakin buat kamu!” mata kami saling bertatapan.
“Iya, Sayang” lalu aku melingkarkan tanganku di perutnya dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
“Sayang kok kamu jalannya lucu banget. Kenapa emangnya?” aku berbisik masih dalam posisi menyembunyikan kepalaku di lehernya.
“Ihhhh, mas, geli! Jangan gini ah!” tangannya mendorong kepalaku dari lehernya.
“Pelit ih! Dah lama aku pengen manja begini, baru kesampaian ehh malah didorong-dorong gini!”
“Geliiiii, Maaasssss!”
“Apa masih terasa sakit? Hmm?”
“Iya” jawabnya pelan dengan wajah bersemu merah.
“IIIhhhhh kok ininya merah gini? Hmm,,,Hmmm,. Maluuu ya??” aku menoel noel pipinya, yang kemudian dia mencoba menghindar.
Mmmuah,,,,mmuah,,,,,”Gemes” aku menciumi pipinya berkali-kali.
Nuansa pengantin baru dengan luapan cinta yang membara, terasa sangat indah. Kami masih bercerita, bermanja, mencium, bersendau gurau, dan tertawa. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Narita beranjak dari pangkuanku dan berjalan menuju walking closet.
“Hari ini mau pake baju yang mana?” tanyanya yang kemudian aku susul dia.
__ADS_1
“Terserah, Sayang. Apapun pilihanmu, pasti aku pake” aku kembali memeluknya dari belakang.
“Nempel mulu, kaya perangko” canda Narita sembari memilihkan dan mengambil kemeja, dasi, celana, dan jas yang senada untukku.
“Biarin!”
“Sayang, bolos aja yuk!” ajakku kemudian.
“Kamu mah enak kalau mau bolos, lahh aku?? Pake alasan apa?”
“Mau anter orang tua ke acara saudara kek, atau apalah terserah”
“Yaaa,,,yaaa,,,yaaa,,,???” rayuku.
“Hmmm, mas, aku ada pekerjaan mendesak yang harus aku selesaikan. Soale hari Rabu aku mau cuti” Narita menyerahkan baju pilihannya kepadaku.
“Pakein ya!” nada manjaku memintanya lalu melepas pelukan.
“Gak! Aku juga harus pake baju sendiri!” tolaknya dan aku pun mengalah.
“Sayang kamu hari Rabu cuti? Mau kemana? Kok kamu gak bilang?” aku mulai membuka baju kokoku dan mengenakan kemeja pilihannya.
“Jangaaannn dibuka dulu!” bukannya menjawab pertanyaanku, Narita malah berlalu menuju toilet dengan menenteng bajunya sendiri.
Hufh,,,aku hanya bisa mengambil nafas kasar.
Setelah aku usai memakai baju, Narita pun keluar dari toilet dengan sudah mengenakan baju lengkap. Kemeja pendek, rok span selutut yang menambah nilai keanggunan istriku yang satu ini.
“Kok malah melamun!” ujar Narita yang membuat lamunanku buyar.
“Mas, aku sekalian mau minta ijin. Aku sudah mendaftar beasiswa untuk melanjutkan kuliah S3. Besok Rabu jadwalku ujian wawancara. Boleh kan ya?” Narita menggandeng tanganku, membawaku kembali ke kamar utama.
“Kenapa harus daftar beasiswa? Aku masih mampu kalau cuma membiayai kuliah S3 mu!” kami berdua tengah duduk berhadapan di pinggir kasur.
“Aku sudah mendaftar jauh sebelum kamu melamarku, Mas. Sekarang ini sebenarnya adalah tahap lanjutannya, tahap terakhir”
“S3 di mana?” tanyaku.
“Australia” jawabnya singkat.
“Apaaa?”
“Luar negeri?”
“Iya, Mas!”
“Kalau keterima, berangkatnya kapan?”
“Berhubung aku belum mengantongi Letter of Acceptance (LoA), jadi perkiraan berangkat 1 tahun setelah pengumuman beasiswa diterima”
“Kalau kamu hamil gimana?” tanyaku.
__ADS_1
“Ya Alhamdullillah.” Jawabnya singkat.
“Kuliahnya? Maksudku berangkat ke Aussie nya gimana?” tanyaku lagi.
“Ya nanti kita pikirkan bareng-bareng. Toh sekarang belum hamil”
“Boleh kan, Mas?? Kamu gak keberatan kan?” rayunya lagi.
“Hmmm,,,,apa boleh buat? Yang penting dimana ada istri harus ada suami” aku tersenyum smirk membuatnya heran.
“Maksudnya?”
“Nanti aku bisa lanjut S3 juga di Aussie, bisa juga bekerja di cabang Daddy yang ada di sana!”
“Gampang itu”.
“Alhamdullillah. Makasih ya, Mas” senyum bahagia terpancar di wajahnya dan diapun langsung menghambur memelukku.
“Mana hadiahnya?” aku mulai menggodanya, namun dia segera beranjak dan pindah kursi duduk di meja rias dan mulai berdandan.
“Issshhh, kamu tuh sama istri itung-itungan, pamrih!” dia menjawab tanpa memandangku.
Segera aku dekati dia, menundukkan wajahku dan berkata “Kiss me” aku menunjuk bibirku, dia hanya melirikku sekilas.
“Ya udah, kalau gak mau, ijinnya kutarik lagi!” aku mulai berdiri tegak.
Cup
Tiba-tiba dia menarikku dan mencium pipiku sekilas, lalu kembali mendudukkan tubuhnya di depan meja rias. Dia yang masih malu-malu menciumku, bagiku sangat lucu.
“Sayang, aku turun dulu ya. Kutunggu di meja makan.” Aku meraih tas kerja dan berlalu meninggalkannya.
Sebelum aku turun ke lantai 1, aku mengetuk pintu kamar bapak dan ibu. Namun sepertinya mereka sudah tidak ada di dalam kamar jadi aku putuskan langsung turun ke bawah melalui lift.
Aku tersenyum kepada bapak dan ibu yang saat ini tengah duduk di kursi meja makan.
“Pagi pak, bu, gimana tidurnya? Nyenyak kan?” aku mendudukkan tubuhku di salah satu kursi.
“Alhamdullillah, nak. Narita mana?” jawab ibu.
“Lagi siap-siap bu. Bentar lagi turun kok!” jawabku lembut.
“Maaf nak Davis, bapak sama ibu udah di meja makan duluan. Bapak sama ibu biasa bangun pagi, beraktifitas, begitu di sini tetep bangun pagi tapi bingung mau ngapain. Jadi tadi kami keliling rumah nak Davis beberapa kali, sempet ngobrol-ngobrol di taman. Eh balik ke sini, ternyata meja makan masih kosong, padahal kami udah laper,,hehehehe” ucap bapak sembari tertawa kecil.
“Iya gakpapa pak, maaf saya dan Narita telat turun. Bapak sama ibu gak usah nungguin kami, kalau laper langsung makan aja gakpapa” terangku.
“Hmmm,,,mentang-mentang pengantin baru, semua serba kesiangan dan telat” ucap ibu dengan nada menggoda.
“Makasih nak!” jawab bapak.
Aku tersenyum pada mereka berdua.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Narita turut bergabung di meja makan. Usai makan, kami berpamitan dengan bapak ibu, lalu kami berangkat kantor menggunakan 2 mobil yang berbeda. Aku dengan mobilku dan pak sopir, sedangkan Narita tetap mengendai mobilnya sendiri.
---- TO BE CONTINUED ----