CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
DADDY KAREN?


__ADS_3

AUTHOR POV


 


Narita masih belum beranjak dari tempatnya berdiri saat ini. Bahkan Karen yang mengamati wajah Narita mulai mengoceh tak karuan. Celotehan bocah itu telah menyadarkannya. Dia mulai menengok ke kanan dan ke kiri hendak bertanya di manakah letak Little of Al Aqsha, namun dia baru menyadari bahwa kini dia tengah berada di rumah utama yang notabene di sini tak ada siapa-siapa kecuali seseorang yang memang dibutuhkan untuk bekerja. Bahkan Drake pun tak terlihat.


Narita langsung berjalan dan masuk ke kamar. Dia mendudukkan Karen di kasurnya, lalu dia mulai mengeluarkan ponsel dari saku celana pajamas panjangnya.


“Hallo, Na. Ada apa?” suara Leni yang berada di seberang sana.


“Len, apakah di pavilliun 101 mendengar adzan Maghrib?” tanya Narita to the point.


“Ya. Kenapa?”


“Selama aku bekerja di sini, baru kali ini aku mendengarnya. Apa kamu tau di mana letak Little of Al Aqsha?”


“Kamu bekerja di sini sudah 3 bulan masa masih belum mengenal setiap bangunan di sini?”


“Begitu luas dan banyaknya bangunan, yang kutau cuma rumah utama, pavilliun 101, 102, 103.”


“Payah nie. Little of Al Aqsha itu bangunan unik dengan dinding sedikit terbuka yang terletak di depan ketika kamu dari gerbang utama hendak menuju ke rumah utama, kamu akan melewati bangunan kecil itu. Bentuknya seperti bangunan masjid di timur tengah.”


“Owh,,,yayayya aku emang sering melihat bangunan itu, tapi memang aku tak pernah melewatinya karena kan biasanya aku dari gerbang utama langsung menuju ke belakang lewat jalan samping. OK. Terima kasih Len. Aku akan membawa Karen ke sana. Bye”


“Bye” jawab Leni.


Setelah itu Narita memasuki kamar mandi hendak berwudlu, dia tak menutup pintu kamar mandi karena dia ingin tetap mengawasi Karen dari dalam ketika dia meninggalkannya untuk berwudlu. Usai berwudlu, dia langsung mengenakan mukena, menggendong Karen dan keluar kamar. Langkahnya cepat menuju ke tempat di mana Leni beritahukan. Sebelumnya dia masuk ke dapur untuk membuatkan Karen susu, sebagai persiapan aja seandainya Karen kehausan.

__ADS_1


Ketika dia telah berada di depan bangunan itu, Narita memperhatikan petunjuk memasuki bangunan mungil itu. Ternyata ada 2 pintu terpisah, pintu samping bagian depan khusus untuk pria sedangkan pintu samping bagian belakang khusus untuk wanita. Pada papan petunjuk tersebut, selain menyebutkan mengenai tata cara masuk, juga tatacara ketika berada di dalamnya, dan beberapa tata tertib yang menurut Narita adalah tatacara pada umumnya ketika kita memasuki musholla atau masjid. Mungkin papan pengumuman itu lebih diperuntukkan bagi yang tidak mengetahui bahwa ini adalah tempat peribadatan umat muslim


Narita masuk ke dalam ruangan khusus wanita, lalu dia mendudukkan Karen di karpet tebal nan empuk.


“Sayang, duduk yang manis di sini ya. Susunya diminum ya.” seolah memahami bahasa Narita, Karen menganggukkan kepala.


Lalu Narita mulai mengubah ponselnya ke mode silent. Sayup-sayup dia mendengar percakapan pria di shaf depan. Narita tidak mengetahui siapakah mereka karena memang antara pria dan wanita dibatasi oleh sebuah pembatas otomatis, yang ketika mau dibuka tinggal diatur dengan menggunakan remote.


“Ehem,,ehem,,,” Narita sengaja berdehem sekedar memberi isyarat bahwa dia ada di bagian shaf wanita.


Sekitar 3 menit kemudian, terdengar iqomah. Kini Narita tengah bersiap untuk menjalankan sholat Maghrib berjamaah. Ada rasa bahagia yang tak dapat dia ungkapkan, ketika selama ini dia merasa seorang diri menjalankan ibadahnya, kini dia dapat sholat berjamaah di rumah yang baru saja dia tinggali, tak henti rasa syukurnya.


Sholat Maghrib 3 rakaat telah usai. Karen yang memang anaknya kurang bisa diam, beberapa kali merangkak dan duduk di depan Narita, kadang tiduran sembari memegang dot susunya, dan sesekali berceloteh, sehingga membuat suasana khusuk sholat terkadang sedikit tergantu karena mendengar suara lucunya.


Narita masih menghabiskan waktu beberapa saat untuk berdzikir dan memanjatkan doa. Namun mengingat kali ini dia tak ingin terlalu lama membawa Karen di luar, dia segera mengangkat dan menggendongnya. Dia merencanakan membaca Al Qur’an pagi hari usai sholat Subuh aja.


Selama melewati beberapa tempat, tak seorang pun yang dia temui. Narita masih penasaran, siapa sajakah yang tadi menjalankan ibadah sama dengannya.


Setelah memasuki kamar Karen, kini dia mulai mematikan lampu dan membawa Karen ke dalam pelukannya. Karen nampak nyaman dikelonin Narita. Tak butuh waktu lama baginya untuk terlelap.


Usai itu, Narita, mencium kening Karen lalu meninggalkannya dengan sangat pelan.


Kini Narita tengah berada di kamarnya. Dia segera membuka ponselnya dan melakukan video call.


“Assalamu’alaikum Pak, Bu” sapa Narita ketika dia sudah melihat wajah bapak dan ibunya memenuhi layar.


“Wa’alaikum salam. Daffa, Dafina, ini bunda nelpon” ibu menjawabnya lalu mengarahkan ponselnya ke Daffa dan Dafina yang tengah bermain.

__ADS_1


“Daffa, Dafina Sayang,,ini bunda Nak. Bunda kangen kalian. Sayang, ngadep ke kamera dong Sayang!”


“Hai,,dadadadad” ketika kedua bocah itu menghadap kamera Narita langsung melambaikan tangan. Namun dia kembali kecewa karena Daffa dan Dafina seolah acuh, dia hanya sekilas melirik ke Narita, lalu kembali asyik dengan mainannya.


“Sayang, lagi main apa?” tanya Narita lagi. 


Terdengar celotehan yang tak ada artinya, namun Narita sangat bahagia mendengarnya. Perasaan kangen yang sangat membuncah, membuatnya harus menahan lelehan air mata yang hampir turun tanpa permisi. Sekuat tenaga dia menahannya, demi keteguhan hati bapak ibunya juga.


“Bapak ibu gimana kabarnya?” Narita mulai mengalihkan perhatiannya ke bapak dan ibunya.


“Alhamdullillah nduk, baik. Gimana keadaanmu?” jawab bapak dan dia balik nanya.


“Alhamdullillah, baik juga. Daffa dan Dafina merepotkan gak pak?”


“Enggak merepotkan sama sekali, nduk. Semakin hari semakin pinter aja. Makin tambah lucu tingkah polahnya.”


“Narita kangen bapak, ibu, Daffa, Dafina” mata Narita mulai terasa makin berair.


“Sama nduk. Yang sabar ya, kamu gak usah banyak pikiran, kami di sini baik-baik saja, kamu di sana jaga diri baik-baik ya. Jangan lupa fokus kuliahnya” pesan bapak yang selalu sama ketika tiap hari aku menghubungi mereka.


Narita video call sampai 1 jam lamanya. Lalu setelah itu, dia mulai membuka laptopnya. Dia kembali berkutat dengan thesisnya dan penelitian professornya. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 23.00, ketika Narita telah menutup laptop, mematikan lampu dan hendak beranjak tidur, dia mendengar pintu Karen dibuka dari luar.


Dia baru teringat bahwa dia harus menyalakan speaker yang terhubung dengan kamar Karen, agar ketika Karen tiba-tiba terbangun tengah malam dan membutuhkan teman, dia bisa segera mengetahui dan menemaninya. Tangannya terulur untuk meraih remote dan menyalakan speaker. Kini speaker mode on.


Narita mendengar suara seseorang yang sangat menentramkan, yang sepertinya begitu menyayangi Karen. Narita tak bermaksud curi dengar namun dia memang mau tak mau mendengarnya.


“Selamat malam, Cantik. Bagaimana hari mu? Dari tidurmu yang sangat tenang, Daddy rasa kamu sangat bahagia. Maaf sayang, Daddy tak bisa menemanimu setiap saat. Ya ampun, dalam tidurpun kamu tersenyum, sayang? Apa yang kau impikan? Owh ya, bagaimana dengan nanny Narita? Apakah kamu bahagia ditemani dia? Daddy dengar dia sangat menyayangimu. Sayang, Daddy harap kau selalu dikelilingi oleh limpahan kasih sayang dari orang-orang di sekitarmu. Daddy hanya bisa memberikan kebahagiaan untukmu dengan cara ini. Semoga kau memahami Daddy, Sayang. CUP”

__ADS_1


 


__ADS_2