CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
HAMPIR TERTABRAK


__ADS_3

AUTHOR POV


 


--- Kampus ---


Hari ini Narita ke perpustakaan kampus untuk mencari referensi beberapa buku untuk penelitiannya. Ini adalah akhir tahun pertama Narita melalui masa study S3 nya. Niat awal hanya ingin ke perpustakaan, nyatanya supervisornya yaitu professor pembimbing thesisnya menginginkan bertemu dengannya untuk mendiskusikan terkait penelitiannya.


Narita menuju ruangan di mana dia dan supervisornya akan bertemu. Narita kini tengah memasuki sebuah ruangan besar namun cukup privat.


“Selamat siang, Prof” sapa Narita.


“Hai, Narita. Kemarilah, ada hal penting yang harus kita diskusikan” Professornya mempersilahkan Narita duduk di kursi depan meja nya.


Akhirnya mereka terlibat diskusi yang sangat serius terkait penelitiannya dan rencana sidang terbuka sebagai salah satu tahapan dalam memperoleh gelar PhD Candidate. Narita sangat akrab dengan Professornya, begitu pula halnya dengan Professornya sangat suka dengan kinerjanya. Narita beberapa kali membantu proyek penelitian Professornya dan mereka sering terlibat diskusi terkait penelitian yang sering dilakukan oleh Professornya. Narita memang sosok yang sangat mudah membina hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya.


Tanpa terasa mereka telah berdiskusi 2 jam lamanya.


“Terima kasih, prof atas segala masukannya. Nanti akan segera saya review ulang dan melakukan penambahan data sesuai masukan, Professor” ucap Narita seraya berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


“Ok. Segera setelah selesai, kamu email ke saya.” Professornya menanggapinya.


“Baik, Prof. Permisi” Narita lalu melangkah meninggalkan Professornya, namun ketika dia hendak membuka handel pintu, professornya memanggilnya “Narita!”


“Iya Prof” Narita membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Professornya.


“Bagaimana dengan tawaranku?” tanya Professornya.


“Apa sudah kamu putuskan?” lanjutnya.

__ADS_1


Narita lalu kembali melangkah mendekati Professornya. Dia masih terkesan berpikir cukup berat akan hal yang tengah dipertanyakan oleh Professornya.


“Apa yang membuatmu ragu? Apakah sulit tawaranku?” Professor itu tak puas hanya menunggu dari diamnya Narita.


“Bukan, Prof. Tawaran Professor sangat menarik, saya merasa sangat tertantang, tapi,,,” belum sempet Narita menyelesaikannya, Professor sudah menyelanya.


“Tapi apa?? Narita kamu tau gak, nanti kalau kamu bersedia berkolaborasi dengan saya dalam penelitian ini, kamu akan kami biayai untuk mengambil data primer di Indonesia. Soal penelitianmu di sini juga kan kita masih bisa diskusi secara online dan draft penelitian bisa dikirim melalui email. Kamu bisa di Indonesia sampai pengambilan sampelnya selesai. Bahkan kamu pun kalau mau, bisa sekalian penelitian dengan sampel dari Indonesia. Hemat, bisa pulang, dan penelitian dapat 2 sekaligus. Gimana?” terang Professor sangat panjang.


Penawaran pulang ke Indonesia dengan dibiayai oleh Professornya dan sekaligus mendapatkan kemudahan dalam study nya sendiri merupakan tawaran paling menarik menurut Narita dibandingkan banting tulang seperti apa yang selama ini dia jalani. Narita nampak berdiri dengan memikirkan cukup lama kata-kata Professornya.


“Hmm, Baik Prof. Saya bersedia” jawab Narita mantap.


“Good. Great job, Narita!” Professor nampak bahagia dengan mengangkat jempol kedua tangannya.


“Oke. Nanti kerangkanya akan kukirim email, kamu coba kembangkan! Kalau sudah siap didiskusikan, segera kamu hubungi aku dan Prof Mark” kata Professornya.


“Baik, Siap Prof. Ok kalau begitu, saya permisi Prof!” Narita menundukkan kepala lalu berbalik dan meninggalkan professor setelah Professor mempersilahkan dia untuk pergi.


Narita melajukan sepedanya dengan cukup kencang hingga dia pun sedikit hilang konsentrasi sesaat, dan…..


CCCIIIIIIITTTTT……


 Suara cicitan mobil yang mengerem secara mendadak karena tiba-tiba sepeda Narita melintas di depan mobil itu. Sontak baik Narita maupun orang yang berada di mobil, sama-sama kaget.


Meskipun kaget tapi Narita masih duduk di atas sepedanya dan bengong memperhatikan mobil yang hanya berjarak 1 meter darinya. Tak terbayangkan seandainya mobil itu sudah tidak ada kesempatan mengerem, akan bagaimana jadinya.


Seorang pria bule keluar dari pintu bagian kemudi.


“Kamu baik-baik saja?” dia mendekati Narita dan tengah memperhatikan Narita dari atas ke bawah, balik lagi ke atas dan ke bawah.

__ADS_1


“Kamu??” tanya lagi karena Narita hanya diam dan tak berkata apa-apa.


“Hai!” pria itu dengan berani memegang kedua pundak Narita dan mengguncangnya hingga membuat Narita tersentak dan tersadar.


“Astaghfirullah Hal Adzim. Saya tidak apa-apa. Sa sa saya hanya shock” Jawab Narita terbata-bata sembari berusaha melepaskan tangan pria itu dari pundaknya.


Tak lama kemudian, keluarlah sesosok pria bule, tampan, tinggi, besar, berpenampilan ala eksekutif muda, rapi, klimis, namun nampak guratan kedewasaannya keluar dari mobil dari pintu penumpang.


“Apa masalahnya serius?” Narita yang terpukau dengan pria dewasa nan tampan itu pun hanya mampu terdiam dan terbengong tanpa bisa menjawab, sementara pria itu menatap lekat ke arah Narita. Pandangan mereka bertemu untuk waktu yang cukup lama.


“Sepertinya tidak, tuan. Nona ini saya liat baik-baik saja” jawabnya.


“Baiklah Nona, kalau kamu memang tidak apa-apa, saya minta maaf. Lain kali Nona pun juga harus hati-hati kalau bersepeda, meskipun di sini jalanannya sepi tapi bukan berarti kamu bisa sesuka hati menyeberang!” nasehatnya yang panjang menyadarkan Narita hingga dia memutuskan pandangannya.


Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan. –batin Narita.


“I I I I ya, maaf.” Jawabnya singkat.


Akhirnya Narita melanjutkan mengayuh sepedanya dan meninggalkan mobil itu terlebih dahulu.


Perjalanan bersepeda selama 20 menit akhirnya kini Narita sudah sampai di pavilliun 101. Dia langsung memasuki kamarnya dan segera menunaikan ibadahnya.


Usai beribadah, Narita melihat sejenak jam di tangannya.


Belum saatnya Karen makan, sebaiknya aku makan siang dulu deh—batin Narita.


Lalu Narita keluar kamar dan menuju dapur di pavilliun 101. Dia mulai memasak bahan makanan yang telah tersedia di kulkas. Dia sengaja memasak untuk beberapa porsi karena sebagai orang Indonesia yang memiliki toleransi cukup tinggi, maka dia tidak mungkin bisa makan seorang diri sementara yang lainnya tidak sedang makan, dia pasti akan menawari orang untuk makan. Sedangkan orang barat apabila ditawari, maka sebenernya bukan basa basi tapi memang harus ada makanannya.


Meskipun suasana pavilliun tergolong sepi, akhirnya Narita makan seorang diri di meja makan khusus di pavilliun 101.

__ADS_1


Usai makan, dia kembali masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah karena beraktifitas seharian. Dia pikir akan mengistirahatkan sebentar tubuhnya, sebelum pergantian shift untuk kembali menjaga Karen.


__ADS_2