CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
RAHASIA TERBONGKAR 1


__ADS_3

AUTHOR POV


 


Sepanjang perjalanan menuju ruang kerja Dave, Davis dan Dave hanya diam.


Kak Dave sepertinya sengaja tak memberiku kesempatan bicara sama Narita. Ada apa sih? –batin Davis.


--- Ruang kerja Dave---


“Kau bilang mau tinggal di Australia?” tanya Dave. Mereka kini duduk di sofa ruang kerja Dave.


“Iya, Kak.” Jawab Davis singkat.


“Opa sudah setuju, tapi dengan syarat kamu harus tinggal di sini!” ucap Dave menatap Davis.


“Syukur deh. Aku memang tak ada niat tinggal di tempat lain” kata Davis.


“Minggu depan Jess datang. Dia juga akan tinggal di sini!” lanjut Dave.


“Hah?? Kenapa Jess tinggal di sini? Bukannya dia mengelola bisnis Opa di Inggris?”


“Itu syarat dari Opa!” tegas Dave.


“Tapi kak, masa’ iya dia tinggal di sini juga?”


“Di sini banyak kamar kosong, untuk apa tinggal di tempat lain?”


“Bukannya Kak Dave kurang suka rumahnya ramai? Apa tidak terganggu privacy nya?”


“Itu kemauan Opa, Vis. Sampai kalian menikah, baru kalian diijinkan pindah!”

__ADS_1


“Hufh,,,baiklah” jawab lemas Davis.


Setelah perbincangan itu, Davis dengan Langkah lemas meninggalkan ruangan itu. Tak berapa lama sejak Davis meninggalkan ruangannya, Dave mendapat telpon dari Opa nya.


“Gimana? Apa dia setuju?” tanya Opa di seberang sana.


“Setuju” Jawab Dave singkat.


“Besok kamu temui aku di kantor jam 09.00. Ada hal yang ingin Opa, Daddy, dan Mommy mu sampaikan”


“Ya Opa” Dave merasa bahwa apa yang akan disampaikan mereka pasti akan membuatnya kurang nyaman.


Pasti masalah itu itu lagi – batin Dave.


--- Kamar Ali ---


Ali merebahkan badannya, miring ke kanan, lalu miring ke kiri, ada hal yang mengganggu pikirannya. Beberapa menit yang lalu dia mendapat telpon dari orang tuanya. Kedua orang tuanya memintanya untuk kembali ke rumahnya, kalau dia tidak mau kembali ke rumah dia harus mau dijodohin dengan wanita pilihan orang tuanya.


Selama tinggal di Australia, Ali belum pernah mengenalkannya dengan wanita. Terkadang berbagai pikiran buruk menghinggapi pikiran kedua orang tuanya. Untuk itulah kedua orang tuanya mendesaknya untuk menikah.


Keesokan harinya, tiba-tiba ponsel Ali berbunyi. Ali mendesah melihat nama seseorang yang memanggilnya.


“Assalamu’alaikum Mam” Ali mengucapkan salam.


“Wa’alaikum salam, Al. Minggu depan Mam sama Pap datang.” Ucap Mam Ali yang membuat mata Ali tiba-tiba terbelalak karena kaget.


“Mam, please. Ali tidak suka perjodohan. Sudah ada wanita yang Ali sukai di sini. Minggu depan Ali kenalin ya!” Ali segera menyambar omongan Mam nya karena dia sudah kehabisan akal. Dia tak ingin kedua orang tuanya datang dengan membawa wanita yang akan dijodohkannya.


“Owh ya?? Mam sudah gak sabar. Bagi Mam dan Pap, tak masalah kalau kamu menolak perjodohan ini, yang penting wanita yang kamu sukai adalah wanita yang tepat untukmu. Dia seiman kan?”


“Iya” jawab Ali singkat dan lemas.

__ADS_1


Usai perbincangan itu, Ali menutup telponnya. Kini Ali kembali melamun, dia harus mencari akal bagaimana caranya menghadapi Mam dan Pap nya minggu depan.


--- Kantor Dave ---


Mommy, Daddy, Opa, dan Dave duduk di sofa ruang kerja Dave. Selain hendak berpamitan, ada hal penting yang akan mereka sampaikan.


“Dave, Opa sudah menunggumu untuk kembali menjadi Dave yang seperti dulu. Opa menginginkanmu menjadi lelaki normal” mendengar ucapan Opanya, mata Dave melotot.


“Maksud, Opa?” tanya Dave terbata.


“Apa kamu sudah mati rasa pada wanita? Apa kamu tak ingin bertunangan dan menikah seperti Davis?” tanya Mommy kemudian.


“Sudah cukup waktu yang kami berikan untukmu move on dari wanita tak diuntung itu! Opa lebih suka kau menjadi lelaki bre**se* yang mengencani banyak wanita, daripada lelaki pengecut yang tak bisa bangkit dari keterpurukan hanya karena seorang wanita murahan!” lanjut Opa dengan gamblangnya.


Dave menghela nafas panjang. Hah…..


“Apa perlu Daddy carikan?” tawar Daddynya.


“Gak usah Dad. Aku bukan Davis yang begitu bodohnya kalian tipu daya!” sergah Dave.


“Ingat Dave! Kalau sampai kamu tak memiliki keturunan, kalau terjadi sesuatu denganmu, tak ada yang akan mewarisi kesuksesan keluarga kita.” Ancam Opa.


“Dave punya Karen” mata Dave menatap Opa, Daddy, dan Mommy bergantian.


“Kamu bisa mengelabuhi Mommy dan Daddy mu, tapi tidak untuk Opa, Dave!” Dave melotot menatap tajam pada Opanya, namun ditatap hanya menyeringai.


“A a apa maksud perkataanmu Dad?” Daddy Dave kini yang heran menatap Daddynya meminta jawaban atas pernyataan barusan.


“Mau sampai kapan kamu akan merahasiakan ini semua dari kami, hm?” nada tegas Opa mengancam Dave.


“Apa ini Dave? Rahasia apa yang kau sembuyikan dari kami?” kini Mommy yang menatap tajam pada Dave.

__ADS_1


Dave memegang kepalanya seolah bebannya terasa berat. Bagaimana mungkin Opanya bisa mengetahui hal itu?


__ADS_2