CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
TAKUT LEBIH JAUH MENYUKAIMU


__ADS_3

DAVE POV


 


Hari ini aku pulang lebi cepat karena kedua orang tuaku dan opa ada di rumah. Usai makan malam, aku menemani Karen tidur di kamarnya. Meskipun sudah kutemani, Karen masih tetap meminta Narita untuk temani juga.


Saat aku membacakan buku cerita kisah nabi untuknya, tiba-tiba handphone Narita berdering. Sekilas dia melirik ke ponselnya kemudian berkata “Permisi tuan, saya terima telpon dulu!”


"Jangan pergi, Nanny Na! Itu video call dari Daffa dan Dafina kan?” seru Karen sebelum Narita sempat beranjak.


Aku tak mengenal nama yang disebutkan Karen. Aku melirik ke Narita berharap mendapat penjelasan darinya.


“Iya” jawab Narita sembari memandangku.


“Di sini saja nan, aku ingin melihat mereka juga” Karen langsung bangun dari posisi tidurnya dan kemudian menarik tangan Narita dan memintanya kembali duduk di ranjang.


Aku masih memperhatikan mereka berdua. Sampai saat ini pun kulihat dia masih ragu untuk menjawab telpon itu hingga deringnya berhenti.


“Yah,,,berhenti!” raut wajah Karen kecewa saat mengetahui ponsel Narita sudah tak berdering lagi. Aku dan Narita masih saling berpandangan.


“Yey,,,ayo angkat nan!” Karen girang saat mendengar ponsel Narita berdering kembali.


Narita memandangku seolah meminta persetujuanku dan aku hanya mengangguk tanda memberi persetujuan padanya.


“Assalamu’alaikum sayang” sapa Narita usai dia menerima panggilan video itu. Karen pun tak kalah antusias, dia segera duduk di pangkuan Narita dan memandang ponsel Narita.


“Wa’alaikum salam. Unda, Apa sama Pina kangen unda, kapan unda puang?” suara anak lelaki di ponsel menggunakan Bahasa Indonesia, meskipun aku jarang menggunakan Bahasa Indonesia dan suara itu pun terdengar susah dipahami, tapi aku cukup mengerti artinya.


“Sama sayang, Bunda juga kangen. Anak-anak bunda sehat semua kan? Tadi main apa aja?”

__ADS_1


“Sehat unda. Pina nakal nie unda,,,mau rebut hp nya. Ihh, jangan Pina, Apa mau ngomong dulu sama unda, nanti gantian!” terdengar suara rebut, sepertinya ada 2 anak kecil yang saling berebut ponsel.


Aku masih duduk terdiam di ujung ranjang yang lain. Memperhatikan dengan lekat interaksi di telpon dan ekspresi Karen.


“Hai kalian, jangan berebutan, Stop Stop Stop” memahami situasi rebut di seberang sana, Karen turut melerai meskipun dengan Bahasa Inggris yang mungkin belum tentu mereka pahami.


Hingga beberapa saat kemudian, ponsel itu telah beralih dan terdengar suara orang dewasa “Hadew nduk, ini malah mereka berebutan handphone, malah nangis dua-duanya”


“Ya ampun. Ibu, bapak, Arjuna sehat semua kan?”


“Alhamdullillah sehat nduk. Kemaren si kembar rewel, tapi selesai dipijit sama mbah djum langsung enakan sepertinya”suara seorang perempuan yang entah siapa, tapi kalau dari suaranya sepertinya berusia paruh baya.


“Hai cantik, Karen apa kabar?” suara itu pun menyapa Karen dalam Bahasa Inggris.


“Baik, Grandma. Grandma, Karen juga kangen Grandma, Grandpa, Daffa sama Dafina, kapan kalian ke sini?” jawab Karen.


“Nduk, ibu gak ngerti Karen ngomong apa. Panjang banget kalimatnya”


“Hehe, mereka juga kangen kamu Karen” aku tersenyu tipis mendengar kebohongan Narita pada Karen.


“Nduk, si kembar sudah kangen banget sama bundanya, katanya kamu mau pulang, jadi to nduk?” saat di seberang sana mengatakan itu, Narita melirik sekilas padaku dan segera aku membuang pandangan ke sembarang arah.


“Apa maksud perkataannya, nan?” tanya Karen kemudian mendongak melihat ke wajah Narita.


“Ibunya nanny Na tanya, kapan nanny na pulang, Karen,,karena anak-anak nanny Na sudah kangen banget sama nan” jawab Narita pada Karen.


“Yasudah, kalau gitu, semua datang ke sini aja. Iya kan Dad?" 


“Lho nduk, ada,,,?” Ibu Narita kembali bersuara tapi dia tidak melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


“Iya bu. Hmmm, di sini juga ada ayahnya Karen. Yasudah dilanjut nanti lagi ya bu”


“Owh ya udah. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam” Narita segera meletakkan kembali ponselnya di nakas samping tempat tidur.


“Maaf tuan” aku hanya menganggukkan kepala dan menarik ujung mulut ke kiri dan kanan secara bersamaan.


“Dad, keluarga nanny Na boleh kan datang dan menginap di rumah kita? Rumah kita kan besar, kamar-kamarnya banyak?” kini Karen beralih mendekatiku dan merajuk merayuku, aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


Setelah itu, Narita kembali membacakan cerita untuk Karen sembari aku mengelus kepalanya dengan lembut. Beberapa lama kemudian, Karen pun tertidur.


Narita membenarkan posisi selimut Karen, lalu dia mematikan sebagian lampu nakas. Sementara itu, aku masih menunggunya di luar pintu kamar.


Sesaat kemudian, dia terkaget saat aku bersuara “Kau sudah berkeluarga?”


“Astagfirullah, Anda mengagetkan saya”


“Tadi anak-anak kandungmu?” tanyaku lagi.


“Iya. Permisi” lalu dia hendak pergi tapi segera kucekal tangannya. Dia melirik tidak suka dengan tindakanku, dan aku pun menyadari kesalahanku akhirnya aku lepaskan sambil berkata “maaf”.


Kini dia melangkah pergi.


“Apa tidak apa-apa kau meninggalkan anak-anak dan suamimu sekian lama?” dia menghentikan langkahnya mendadak.


“Apa saya tidak salah dengar, Tuan? Anda menanyakan hal pribadi pada saya?” dia membalikkan badan dan menatapku tajam.


“Aku,,,aku,,,,” entah kenapa tiba-tiba aku tergagap.

__ADS_1


“Permisi” dia kembali balik badan dan melangkah pergi.


“Aku hanya tak ingin lebih jauh lagi menyukai seseorang yang sudah berkeluarga” entah kenapa kata-kata ini tiba-tiba lolos begitu saja dari mulutku. Dia pun langsung balik badan dan melotot memandangku.


__ADS_2