
DAVIS POV
Pagi hari ini di lobby kantor sudah terlihat suasana ramai. Banyak wartawan dari berbagai media hilir mudik menuju ke aula tempat diadakannya konferensi pers.
Setelah memarkir mobilku, aku bergegas masuk ke dalam gedung. Langkah kakiku seolah semangat padahal hatiku sedang tidak baik-baik saja. Entah kenapa, aku merasakan ada hal buruk yang akan terjadi. Beberapa kali aku menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Hari ini aku merasa tidak nyaman berada di kantor.
Setelah melewati beberapa karyawan yang tentu saja mereka menyapaku, kini aku telah berada di dalam ruanganku. Aku membuka beberapa map lembar persetujuan proyek yang akan dijalankan oleh perusahaan investor. Meskipun ini masih terlalu pagi untuk memulai kerja, namun alangkah baiknya jika aku bisa fokus ke kerjaan dan melupakan kegundahan hatiku barang sejenak saja.
Menyadari ada hal yang perlu aku lakukan terkait proyek itu, segera aku menelpon seseorang.
“Kau sudah di kantor?”
“Sudah, Pak” jawab seseorang di seberang sana.
“Datanglah ke ruanganku sekarang!”
Seseorang yang tadi kutelpon, kini telah berada di ruanganku. Kami membahas mengenai keganjilan dari laporan proyek yang saat ini tengah aku pegang. Dia pun menyadari kejelianku.
__ADS_1
“Lalu menurutmu bagaimana?” tanyaku padanya setelah kami berdiskusi cukup panjang dan lebar.
"Kita perlu meninjau ke lokasi, Pak” aku sangat menyetujui sarannya.
“Apa kita perlu menundanya atau tidak?” aku hanya ingin mengujinya saja.
“Lebih cepat lebih baik. Takutnya semua akan terjadi kalau tidak segera kita cegah, Pak!”
“Baiklah. Bergegaslah. Kita pergi sekarang!” aku segera berdiri dan mempersilahkannya untuk segera mempersiapkan diri dalam perjalanan bisnis kali ini.
Meski terkesan mendadak, tapi aku melakukannya bukan karena menghindar dari situasi tapi karena demi menyelamatkan perusahaan.
Di keluarga kami, meskipun kami memiliki kesibukan, tapi kami selalu berusaha untuk tetap kompak dalam menghadapi masalah. Kami berusaha untuk saling membantu dan saling mensupprot. Begitu pun halnya ketika kali ini Dave menghadapi masalah skandal percintaan.
Mengetahui kepergianku dari kantor, Mommy mengamuk. Dia memarahiku cukup lama. Meskipun amarahnya sangat memekakkan telinga, tapi aku terima saja. Ini demi kebaikan bersama. Jujur, aku tak ingin mendengar lamaran Dave ke wanita yang dicintainya. Dari gelagat kak Dave semalam, aku sudah bisa menerka, siapakah wanita itu. Meskipun aku tau pasti wanita itu belum tentu memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi dengan apa yang dimiliki Dave, aku rasa tak sulit untuk meruntuhkan hatinya.
DAVE POV
Mommy, Daddy, Opa, Jess telah berkumpul di ruanganku. Menunggu waktu untuk konferensi pers, kami sengaja berkumpul untuk sama-sama saling menguatkan. Saat ponsel Mommy berdering, Mommy langsung marah-marah dengan seseorang yang ada di seberang sana. Aku baru tau kalau Davis tidak ada di tengah-tengah kami. Mommy berulang kali melontarkan kata-kata bentakan yang menunjukkan amarah pada seseorang yang akhirnya kuketahui adalah Davis. Mommy selama ini yang selalu menanamkan jiwa kebersamaan di keluarga kami. Dia selalu berusaha untuk berada di tengah-tengah keluarga baik dalam suka dan duka. Begitu pun halnya harapannya pada anak-anaknya. Pada saat mendapati Davis malah pergi keluar kota dengan alasan menyelesaikan permasalahan perusahaan, dia marah karena dia menganggap Davis tidak mendukungku.
__ADS_1
Beberapa kali aku mengirimkan pesan ke Teddy untuk memastikan keluarga seseorang yang kucintai, ada di lokasi tepat waktu. Aku juga memintanya untuk memastikan Marlyn datang tepat waktu dan turut memberikan pernyataan yang sesungguhnya.
Jantungku berdetak tak karuan ketika waktu sudah mendekati jadwalnya konferensi pers. Entahlah, aku berdebar karena akan menjumpai banyak orang di luar sana atau karena hal lain.
Aku melangkahkan kaki menuju Teddy yang tengah berdiri tak jauh dari meja kerjaku. Tanganku terasa dingin dan berkeringat. Aku merasakan badanku juga kegerahan, hingga tanpa sadar aku melonggarkan dasi yang melingkar di leherku. Jass yang sudah terpasang rapi, langsung aku lepas dan kusampirkan di kursi kerja.
“Ted, semua sudah di posisinya?” bisikku ketika aku telah berada di dekatnya. Teddy tak menjawabnya, dia hanya membalas dengan membentuk jempol dan jari telunjuk seperti huruf nol.
“Dia?” tanyaku lagi untuk memastikan seseorang.
“Sudah di ruangan konferensi” jawabnya singkat.
Dahiku berkerut, aku seolah tak percaya dia mau berada di sana. Sepengetahuanku, dia takkan mau berurusan dengan sesuatu yang bukan urusannya, tapi entah apa trik yang digunakan Teddy untuk membuatnya berada di sana. Ya, dia adalah seseorang yang akan kulamar hari ini. Dia bahkan tak tau perasaanku, atau mungkin tau tapi tak mau tau. Entahlah.
“Tuan, semua sudah siap” seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruanganku memberikan informasi bahwa semua sudah siap.
Aku menghela nafas panjang. Mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Berharap debaran ini akan berkurang karena oksigen yang kuhirup sudah memenuhi rongga dada. Aku mengangguk, lalu orang itu mengawal aku dan semua anggota keluargaku menuju ke aula.
Langkah yang awalnya bersemangat tiba-tiba melemas. Jemariku saling bertaut, dingin, dan sedikit bergetar. Mungkin orang takkan percaya, aku yang terbiasa menghadapi berbagai masalah dan orang, bisa segugup ini. Saat ini, kami telah memasuki aula dari pintu belakang, tepat di belakang panggung. Mommy dan Daddy memegang pundak kanan dan kiriku seolah memahami kegugupan putranya ini. Aku menoleh ke arah mereka, mencoba tersenyum, dan mereka membalas dengan senyuman dan anggukan kepala.
__ADS_1
Setelah menghela nafas panjang, kulangkahkan kaki menaiki tangga menuju ke panggung bagian belakang. Di sana telah ada beberapa orangku yang siap membukakan pintu panggung untukku. Setelah mendapatkan isyarat dariku, akhirnya mereka pun membukakan pintu itu kepadaku. Aku kembali menghela nafas dan melangkahkan kaki kembali. Saat aku memasuki ruangan utama, di atas panggung, suara riuh dan tepuk tangan menyambut kedatanganku. Blitz kamera datang silih berganti. Meski mata silau, namun aku berusaha menjaga kewibawaanku.