
Kali ini aku benar-benar terkejut dengan telpon seseorang. Kesalahanku yang tak pernah melihat nama si penelpon membuatku salah menyebutkan nama seseorang. Aku pun berusaha mencari alasan yang tak menyinggung siapapun.
“Kebetulan di wa grup genk ku pada rame chatting. Jadi aku pikir salah satu dari mereka yang menelponku!”
“Siapa saja temen genk mu?” tanya nya tegas.
“Temen-temen kantor!”
“Daniel salah satunya?”
“Iya”
"Aku ada di café Senandung. Kamu bisa ke sini!”
“Hah” aku pun tak bisa banyak berkata-kata mengetahui dia telah berada di café dImana tadi aku dan Daniel ngobrol.
“Kamu ada di apartemenmu kan?” tanya nya lagi karena tidak mendengar jawabanku cukup lama.
“Iya. Oke tunggu di bawah ya!”
Aku pun kembali ke café Senandung. Saat kulihat dia melambaikan tangan, aku mendekat ke mejanya. Davis lalu memanggil pelayan.
“Lhoh mbak nya lagi?” kata pelayan itu saat melihatku memilih menu dan aku hanya nyengir.
Davis yang paham situasi, akhirnya bertanya pada pelayan cafe “Memangnya mbak ini tadi habis dari sini juga?”
“Iya Pak, eh mas, eh Mister bule,,hehehhe,,,tadi sama bule ganteng juga” jawab pelayan itu dengan nyengir namun sedikit manja.
“Temen-temen mbaknya bule ganteng semua ya Mbak. Kenalin dong!” pelayan itu pun kembali berkata. Dia memang tak canggung denganku karena aku sering nongkrong di café itu. Aku hanya tersenyum nyengir.
“Siapa Na?” tanya Davis menatapku. Aku pun tak langsung menjawabnya namun malah menyebutkan menu yang kupesan sama mbak pelayannya.
“Daniel?” tanya Davis kembali masih dalam mode menatapku tajam.
“Iya” aku menjawab dengan sedikit memainkan ponselku.
“Owh”. Kami pun kembali terdiam. Alunan musiK membuat suasana sedikit romantis tapi kesunyian yang kami rasakan.
__ADS_1
“Kamu tinggal di apartemen sama siapa, Na?”
“Sendiri”
“Mbak Diva, Mbak Ami, sama Mbak Sriti apa kabar mereka?” tanyanya kembali.
Akhirnya suasana mencair setelah kami menceritakan teman-teman lamaku yang dia kenal begitu pula sebaliknya, teman-teman lama dia yang kukenal.
Di sela-sela kami mengobrol, beberapa kali lampu ponselku berkedip tanda adanya pesan masuk. Selintas aku melirik siapakah gerangan yang mengirimkan pesan. Aku tak berani membuka ponselku karena Davis tidak menyukai orang yang ketika diajak berbicara malah memegang handphone. Di kantor dia akan marah besar apabila saat rapat ada orang yang sengaja memegang ponsel tanpa meminta ijin.
“Ada pesan penting?” tanyanya karena melihatku melirik berkali-kali pada ponselku.
“Ahh enggak. Nanti aja.” Jawabku.
Tak berapa lama, terdengar dering telepon di ponselku. Aku kembali meliriknya dan ternyata ibuku yang menelpon.
“Vis maaf, aku ijin terima telpon dulu ya? Ibuku yang nelpon” dia pun mengangguk. Aku pergi meninggalkannya dan menuju ke pojokan yang sekiranya tak mengganggu orang.
“Apa ibu nelpon ada hal penting?” tanyanya setelah aku kembali ke kursiku.
“Ibu cuma mengabarkan kalau bulan depan bapak sama ibu mau dateng ke sini” jawabku sembari duduk lalu meminum jus melon yang tadi kupesan.
“Belum ada rencana sie, kenapa?”
“Bagas launching cafenya di daerah Kemang, dia mengundang kita”
“Hmm aku sungkan. Lama gak ketemu takutnya dia udah gak kenal aku lagi” mendengar alasanku, Davis tertawa terbahak-bahak.
“Ya ampun, Na….Ya kan kita berangkat barenglah. Besok aku jemput. Ya ya ya” dia merayuku dengan puppy eyes.
“Ihh, kamu tuh gak pantes lagi merajuk begitu. Gak inget apa kalau hari Senin sampe Jumat udah jadi Dirut di perusahaan berskala Internasional!” aku hanya ikut terbahak-bahak memperhatikan tingkahnya.
“Kalau di luar kantor apalagi di hadapanmu, aku sudah berubah jadi orang yang berbeda. Yaa yaa yaa”
“Ya” jawabku singkat dengan tersenyum.
“Oke. Aku jemput jam 9” aku pun mengangguk.
__ADS_1
Tepat pukul 21.00 dia pun pulang dan aku kembali ke unitku. Sepanjang menuju unitku, aku teringat kalau tunangan Davis kan juga teman lama Bagas. Apa gak papa ya aku ke sana bareng Davis?. Sesampainya di unitku, aku berkirim pesan ke Davis.
Aku: Vis, bukannya Alin teman Bagas juga. Apa tidak lebih baik kamu datang dengannya?
Centang 2 biru namun tak kunjung dibalasnya, mungkin dia sedang nyetir. 1 jam kemudian Davis membalas pesan wa ku.
Davis: Aku sudah bilang padanya kalau aku mau datang sama kamu.
Aku: Hah serius kamu ngomong gitu sama Alin? Maaf Vis, aku gak mau yaa dibilang pelakor!
Davis: Siapa yang bilang?
Aku: Ya orang yang melihat kita lah. Kamu kan tunangan Alin.
Davis: Dapet gosip dari mana kamu?
Aku: Dari orang-orang kantor.
Davis: Aku tegaskan ya, Na. Aku bukan tunangan/kekasih/suami siapapun.
Aku: Owh ya udah kalau gitu.
Davis: Tapi kalau aku jalan sama kamu, orang juga gak bakal ngatain aku nikung kan?
Aku: 😜
Davis: Ihh serius nanya nie. Secara aku tau banyak orang kantor yang perhatian sama kamu. Kamu juga tipe orang yang gampang akrab dengan orang. Aku yakin pasti ada yang lagi pedekate sama kamu.
Aku: Iya emang ada.
Davis: Daniel? Terus siapa lagi?
Aku: Kepo ya? 🤣
Davis: 😩
Davis: Kalau aku pedekate sama kamu, boleh gak???
__ADS_1
Aku tidak percaya dengan pesan terakhir yang baru saja aku baca. Aku tak membalasnya dalam waktu yang cukup lama.