CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
TERNYATA KIRIMAN DARINYA


__ADS_3

NARITA POV


 


Usai makan siang, Mr. Al memintaku dan seorang staf ku yang membuat feasibility study terkait rencana investasi di cottage TRE untuk mengikuti rapat pendahuluan dengan Davis. Kami telah tiba di lantai 10. Suasana nampak sedikit riuh daripada biasanya. Sepanjang kami melewati beberapa meja asisten sekretaris dan staf, terdapat beberapa box makanan yang sama percis seperti milik kami.


“Kok mereka juga makan makanan yang sama dengan kita, Na?” tanya Mr. Al.


“Entahlah, Mr. Saya juga tidak tahu” aku memandang keheranan.


“Emangnya siapa yang ngirimin kamu nasi box segitu banyaknya?” Mr. Al bertanya karena heran.


“Hehe, saya juga tidak tau, Mr” aku menjawabnya dengan cengengesan.


“Kok bisa?”


“Apa jangan-jangan yang memesan untuk kita adalah orang yang sama dengan yang memesan nasi box di lantai 10 ya, Kak?” stafku tiba-tiba berpendapat yang menurutku masuk akal.


Kami tak mendapatkan jawaban yang pasti, namun ada kemungkinan pendapat stafku benar.


“Kak, kami langsung di ruang rapat atau--?” tanyaku ke sekretaris Davis ketika kami telah berada di depan mejanya. 


“Mr. Dav meminta kalian langsung masuk aja! Rapatnya tidak di ruang rapat kok. Sudah ada Rio dan Alin di dalam” ucap Permata, lalu dia berdiri dan melangkah ke pintu ruangan Davis.


Dia mengetuk pintunya dan ketika ada sahutan untuk mempersilahkan kami masuk, Permata membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. 


“Selamat siang, Mr. Dav” sapa Mr. Al.


“Siang, Mr. Al. Silahkan duduk!” Davis mempersilahkan kami duduk di sofa panjang yang muat untuk diduduki kami bertiga.


Aku tersenyum pada semua yang hadir di sana, namun Alin hanya menatap tajam dengan wajah cuek. Kami pun akhirnya membahas mengenai rencana investasi perusahaan. Menurut hasil feasibility study, proposal mereka sangat menarik, namun dari berbagai informasi yang dikumpulkan oleh Rio dengan menyewa beberapa hacker, dia menemukan bahwa perusahaan R sebenarnya hanya perusahaan boneka.


Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Davis memutuskan untuk menolak proposal investasi itu. Lalu dia pun meminta kami untuk mencari alternatif pembelian lahan dan pembangunan cottage di lokasi yang lebih eksotis.


Akhirnya rapat pun ditutup.


“Gimana menu makan siangnya? Apakah berkenan?” tanya Davis pada Mr. Al sesaat setelah rapat selesai tapi kami masih belum beranjak dari sofa.


Pertanyaan Davis membuat aku, Mr. Al dan staf ku kaget dengan mata terbelalak dan mulut sedikit menganga.


“Maksudnya? Apa yang mengirimkan kami makan siang Anda, Mr?” Mr. Al kaget dan tak percaya dengan apa yang barusan Davis katakan.

__ADS_1


“Iya” Davis menjawab singkat namun dengan senyum yang sedikit merekah.


“Lhoo bukannya nasi boxnya dikirimin sama tunanganmu, Na?” pertanyaan Mr. Al kembali membuat semua yang ada di ruangan itu kaget dan semua menatap tajam padaku seolah memintaku untuk menjawab.


“Ahhh bukan bukan gitu, Mr Al. Itu hanya asumsi temen-temen aja kok!” aku segera berusaha menyelamatkan situasi canggung ini.


“Saya yang meminta Rio untuk mengirimkannya pada Narita. Yah gakpapa juga kalau mau dianalogikan seperti itu, Mr Al” jawab Davis santai sembari tersenyum kecil menatap kami secara bergantian.


“Owh gitu. Maaf maaf Mr.” ucap Mr Al kemudian.


“Maaf untuk apa? Sengaja saya kirimkan makan siang untuk Narita nya banyak biar semua kebagian. Karena Narita selalu saja menolak diajak makan siang bareng karena dia gak mau cuma makan siang berdua, Mr!” Davis menjelaskan panjang lebar.


Siapapun yang mendengar penuturan Davis pasti akan menebak bahwa ada sesuatu antara kami berdua. Aku hanya mampu terdiam dan sedikit menunduk untuk mengurangi rasa canggung. Meskipun di rumah Davis adalah suamiku, tapi orang lain belum ada yang tau jadi ketika orang lain memandang curiga pada hubungan kami, akn membuat kesan tak nyaman untukku.


“Maaf karena kami salah asumsi”


"Terima kasih makan siangnya, Mr. Temen-temen semuanya suka kok” sambung Mr. Al.


“Alhamdullillah” sahut Davis yang kemudian mendapat tatapan tajam semua yang ada di ruangan itu. Mungkin mereka berpikir bagaimana bisa Davis mengucapkan kalimat itu, sedangkan dia non muslim.


“Kalau bunganya, apa dari Mr. Dav juga?” stafku cukup berani menanyakan mengenai bucket mawar yang kuterima pagi ini.


“Jangan terburu-buru minumnya, Mr!” lanjut Davis masih dengan senyum tipisnya.


Kulihat raut wajah Alin semakin menunjukkan kekesalannya, lalu dia berkata “Permisi, saya duluan!”. Tak ada yang berani menyaut sapaan berpisah dari seorang Alin.


Aku benar-benar kaget dengan pengakuan Davis di depan orang-orang. Dia melalukannya seolah-olah ingin mengumumkan bahwa ada hubungan di antara kami.


Tak ayal karena hal itulah, akhirnya gosip menyebar di seluruh penjuru kantor terutama temen-temen di lantai kami menatap aneh padaku.


Sore inipun ketika aku keluar kantor menuju parkiran dengan Anabelle, banyak pasang mata yang memandang penuh tanya sekaligus berbisik-bisik. Aku heran kenapa gosip begitu cepat menyebar.


“Na, nanti temen-temen mau ngumpul di café, ikut yuk!” Anabelle menyadarkanku dari lamunan.


“Maaf aku gak bisa gabung, Bel. Sampaikan salam untuk temen-temen ya!”


“Akhir-akhir ini kamu susah banget diajak jalan, nongkrong. Tunanganmu ngelarang ya?”


“Gak ngelarang, tapi akunya aja yang sebisa mungkin mengurangi kegiatan di luar kalau memang tidak terlalu penting. Demi menjaga hati dan kepercayaannya” jawabku santai namun tetap tak lepas memandang balik orang-orang yang berpapasan denganku dengan pandangan aneh.


“Na?” Anabelle mendekat, sedikit menempelkan bibirnya ke telingaku, dan berbisik.

__ADS_1


“Hmm” aku menjawab tanpa menoleh. Kami berdua sedang sama-sama berjalan bersisihan.


“Gosipmu sama Mr. Dav kembali menyeruak!” suara kecilnya masih cukup bisa kudengar.


“Aku gak mau ambil pusing, Bel. Cukup aku dan tunanganku yang tau bahwa kami saling menjaga hati dan kepercayaan. Itulah makanya, Bel. Kamu ngerti kan kenapa aku mengurangi keluar malam?”


“Kata Daniel, selain dia, Mr. Dav juga ngelamar kamu. Apa kamu sudah menjawab lamarannya?”


“Hm.” Jawabku pendek.


“Maksudnya?” tanyanya lagi.


“Sudah”


“Apa kamu tolak juga?”


Kali ini aku tidak langsung menjawabnya. Aku butuh waktu untuk memilih jawaban yang tepat.


“Bel, kalau aku bilang sesuatu, kamu bisa jaga rahasia kan?” aku tak serta merta menjawab pertanyaan Anabelle.


“Percaya sama aku, Na! Aku gak akan ember seperti stafmu” Anabelle meyakinkanku.


“Ini bukan cincin pertunangan, tapi ini cincin kawin!” aku menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manisku.


“Hahh?” Anabelle terkaget dengan bola mata melotot dan menutupi mulutnya yang menganga dengan tangan kanannya.


“Serius loe?” tanyanya lagi.


“Iya. Masa aku bohong sie! Tapi janji jangan bilang siapapun!” aku masih dalam mode berbisik di telinganya.


“Demi Tuhan aku gak akan bilang siapapun. Rahasia aman!” dia membentuk simpul di depan mulutnya seperti bentuk menutup retsleting.


“By the way, nikah sama siapa? Kapan?” tanyanya penuh rasa penasaran.


 


----TO BE CONTINUED----


 


PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!

__ADS_1


__ADS_2