CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
CURHAT 1


__ADS_3

NARITA POV


 


Kami semua kaget dengan sikap Dave kali ini. Selama ini dia tidak pernah mau berdua dengan wanita mana pun ketika diambil foto/video yang akan ditampilkan di medsosnya.


“Bagus tuan. Ini akan menjadi video terkeren yang kami hasilkan!” seru salah satu tim kreatif.


Lalu akhirnya sKenario pun diubah secara mendadak. Aku hanya mengikuti apa yang mereka arahkan. Tapi ternyata ketika pengambilan video dilakukan, Dave melakukan improvisasi yang berlebihan menurutku. Di sini aku seolah berakting sebagai seorang business woman yang akan menyewa salah satu gedungnya. Dave menunjukkan ruangan yang sudah didekor begitu indahnya.


Sikapnya di depan kamera benar-benar jauh berbeda dengan dia di belakang kamera. Saat ini dia pandai sekali berakting. Dia bisa memamerkan senyumnya yang lebar. Wajahnya yang biasa terlihat sayu dan kaku kini terlihat lebih manusiawi, ramah, dan seperti terlihat raut wajah bahagia. Terkadang sebelah tangannya seolah merangkul tapi tidak sampai bersentuhan, dia memperlakukanku seperti dengan seorang penyewa yang diperlakukan dengan sopan dan ramah. Obrolannya mengalir tanpa canggung meskipun aku sangat canggung menimpalinya. Bahkan berkali-kali harus dilakukan take pengambilan video karena dialogku yang tidak terkesan alami.


“Wahh,,,,bagusss banget tuan! Keren kalian berdua!” Sang sutradara melihat hasil pengambilan video di sebuah layar kecil dan memujinya.


“Na, kau cocok sekali dengan kostummu kali ini! Sangat business woman banget” lanjutnya sembari melempar pandangan padaku dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.


Ya iyalah. Siapa pun pasti akan memuji penampilanku. Semua yang menempel di tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki berharga ratusan juta rupiah. Mana mungkin aku bisa membelinya. Ini kan hanya properti shooting aja. Dan dalam shooting kali ini pun, sengaja menggunakan pengarah busana sehingga apa yang nampak di kamera agar terlihat lebih sempurna.


“Oke, untuk memperingati kesuksesan kita. Kita makan bersama. Bagaimana?” seru Dave.


“Yeyyy,,,,” semua bersorak.


“Tumben big boss wajahnya ceria, bibirnya merekah terus, kira-kira ada apa ya?” bisik beberapa orang di belakangku.


“Iya. Tumben. Sudah lama dia tidak menampilkan wajah bersahabat begini. Apa perusahaan mendapat proyek besar?” sahut yang lainnya.


“Na, apa kau tau?” seseorang tiba-tiba menepuk pundakku dan aku langsung balik badan.

__ADS_1


Kami saat ini posisi sudah siap dan berjalan di belakang mengikuti Dave, Pak Adam, dan beberapa petinggi perusahaan yang mendampinginya. 


“Enggak” jawabku singkat.


“Apa mungkin dia sedang jatuh cinta lagi?”


“Wahh beruntung sekali. Tuan Dave kan tipe pria setia, serius hanya dengan orang terbatas, dan dia bukan tipe pria yang sedikit-sedikit tebar pesona. Cool dan bikin penasaran”


Aku masih menyimak obrolan mereka. 


“Kabarnya banyak rekan bisnisnya yang menggodanya, tapi dia seolah tak tergoyahkan. Karyawati di perusahaan kita juga cantik-cantik bagai model internasional, tapi dia tak pernah meliriknya. Awalnya kupikir dia h0m0, tapi ternyata dia pernah menikah dan memiliki anak kok”


“Ahh, kalau aku lebih suka dengan adiknya, tuan Davis. Orangnya ramah, murah senyum, muda, dan matanya mempesona bagi siapa saja yang memandangnya” sahut yang lainnya.


“Tuan Davis juga mempesona, tapi dia terlalu baik dan terlalu sering tebar pesona. Soal kesetiaan, jelas tuan Dave tidak ada lawan” ujar yang lain.


“Kalau kamu sebagai orang asia, suka yang tipe mana, Na? tuan Dave atau tuan Davis?” tanya salah satu rekanku.


“Kalau aku, memilih orang yang memilihku saja” jawabku santai, mereka pun memutar bola matanya malas.


“Biasanya orang asia menyukai pria Eropa, Na? Apa kamu tidak?”


“Bohong kalau aku bilang tidak. Tapi aku orangnya realistis, daripada menyukai orang yang di luar jangkauan kita, aku lebih memilih lelaki yang menyukaiku lebih dahulu, lelaki yang memang bisa menerimaku apa adanya”


“Kau imut dan cantik Na. Asal tau saja Na, di kantor banyak yang menyukaimu lho! Apa kamu gak merasa?” ucap salah satu temanku yang membuatku mengerutkan dahiku.


“Masa sih?” sahutku sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


“Ahh udah deh,,jadi kenapa sekarang membahas aku?” akhirnya kami tertawa bersamaan di belakang. Sementara itu Dave menoleh dan tersenyum padaku saat mata kami bertemu. Aku langsung terdiam ketika melihatnya tersenyum padaku. Tumben.


 


DAVE POV


Hari ini aku sangat bahagia. Tadi malam, aku sudah mendapatkan kabar dari Teddy.


Flashback On


--- di ruang kerjaku di rumah--- 


Waktu menunjukkan pukul 23.00 dan saat ini aku dan Teddy tengah berada di sofa ruang kerjaku di rumah lantai 3.


“Kau lama sekali memberikan laporan, Ted?” 


“Maaf, Tuan. Saya hanya memastikan sebuah fakta saja”


“Fakta apa yang kaudapat?” Teddy menyerahkan map berwarna biru muda kepadaku.


“Wow,,,bagus Ted” aku membaca satu per satu berkas dan memperhatikan dengan seksama foto-foto yang dilampirkan.


“Apa maksudnya ini Ted?” aku menyerahkan selembar kertas yang tertulis dengan judul Kartu Keluarga.


“Di sana tertulis ada anak kembar berusia 4 tahun, hmm seusia Karen. Meskipun di sana kedua anak kembar itu seolah sebagai anak dari kepala keluarganya, tapi dapat saya pastikan kalau dia anak Narita”


“Jadi?”

__ADS_1


“Narita memiliki anak kembar tapi tak memiliki suami”


“Apa????” tak sengaja aku berteriak.


__ADS_2