
AUTHOR POV
Pagi ini semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang makan.
“Vis, apa istirahatmu nyenyak tadi malam?” suara Dave memecahkan kesunyian ketika hanya dentingan sendok, garpu dan piring saja yang berbunyi nyaring.
“Tentu” jawab Davis santai.
“Apa kau tiap hari menginap di kamar sebelah?” pertanyaan Dave membuat semua orang kini menatap Davis keheranan.
“Maksud kakak?” Davis berpura-pura tidak mengerti. Sementara itu terlihat senyuman smirk tersungging di bibir Jess yang kala itu hanya diam dan mendengarnya saja.
“Kakak sudah sering mengingatkanmu, Vis. Kakak tidak suka ada yang berbuat zina di rumah kakak. Kalau kau memang sudah tidak tahan lagi, kenapa kau tidak segera menghalalkan hubungan kalian saja?” perkataan Dave membuat Jess semakin tersenyum puas.
Davis hanya terdiam saja mendengar itu. Narita pun dengan berani memperhatikan ekspresi wajah Davis. Dia mulai menerka bahwa kemungkinan besar Dave mengetahui kejadian semalem. Narita ingin sekali mendengar Davis menyangkalnya, namun sepertinya Davis sama sekali tak menyangkal tuduhan Dave.
“Kakak akan bicara dengan Mommy, Daddy, dan Opa. Kita harus menikah di hari yang sama” ucap Dave kemudian.
“Kak, aku----”
“Davis! Kau harus menjadi lelaki yang bertanggung jawab! Kalau berani berbuat harus berani bertanggung jawab!” teriak Dave kemudian. Baru kali ini Dave terdengar sangat marah padanya.
“Pantang bagi lelaki di keluarga kita menjadi lelaki pengecut!” lanjutnya kemudian dengan nada yang sedikit pelan namun masih terkesan tegas.
“Jess apa kau keberatan kalau pernikahan kalian berbarengan dengan pernikahanku?” tanya Dave sembari memandang Jess.
“Aku selalu siap dan sama sekali tidak keberatan, Kak! Aku juga berharap Davis segera meresmikan hubungan kami!”
“Kak, tapi kata dokter---”
“Kau ingin menggunakan sakitmu sebagai alasan!?” Dave kembali menyela omongan Davis yang belum selesai diucapkannya.
Narita menyimak pembahasan itu, dengan sekuat tenaga dia menahan rasa sesak di dadanya. Rasanya dia ingin berlari menjauh dari tempat itu dan menangis sekencang-kencangnya, namun apa daya, dia hanya bisa berusaha untuk bersikap tenang, tegar, dan seperti tidak terjadi apa-apa dengan hati dan matanya.
__ADS_1
“Kak, bolehkah setelah ini kita bicara 4 mata?” bujuk Davis kemudian.
“Oke. Setelah ini, kita bicara di ruang kerjaku di lantai 3”
--- Ruang kerja Dave lantai 3---
Kini Teddy dan Dave sudah berada di sana. Tak berapa lama pintu diketuk dari luar dan ketika dipersilahkan masuk, Davis langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan itu. Seolah tau diri, Teddy bergegas meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
“Katakan hal apa yang akan kau bicarakan 4 mata denganku!” Dave menatap tajam pada kedua bola mata Davis.
“Kak, sesungguhnya aku juga ingin menikah, tapi perasaanku selalu ragu ketika kalian memintaku untuk menikahi Jess.”
“Kalau kau tidak berniat menikahinya, untuk apa kau menidurinya?” Dave kembali meninggikan suaranya.
“Kak, aku tidak pernah menidurinya, aku hanya----”
“Cukup alasanmu, Vis! Kau pikir aku bodoh bisa kau bohongi selama ini? Untuk apa kau mengelaknya kalau aku jelas-jelas melihatmu”
“Melihatmu keluar dari kamar Jess dinihari dalam kondisi kau hanya menggunakan celana boxer”
“Kak, itu aku----”
“Kau sungguh lelaki brengsek Vis! Teganya kau masih mau mengelak!”
“Kak, dengerin dulu penjelasanku!” Davis tak kalah berteriak saat ini.
“Semalam aku memang terlena, aku,,,a-a-a-aku awalnya hanya mengobrol dengannya di balkon. Hingga akhirnya Jess menggodaku dan aku terlena”
“Tuh kan kau terlena!”
“Tapi kami hanya sebatas berciuman kak. A-a-aku beruntung akal sehatku masih bisa digunakan hingga aku menghentikan Jess yang sudah mulai---” Davis sengaja menggantung kalimatnya.
“Tapi aku tidak melakukannya. Ketika aku hendak keluar kamar, Jess mengancam akan berteriak. Akhirnya dengan terpaksa aku menemaninya tidur malam itu. Aku baru menyadari kalau aku sudah terlalu lama di kamarnya yaa ketika dinihari, jadi aku putuskan kembali ke kamarku. Sungguh kak, tidak terjadi apa-apa antara aku dan Jess”
“Bagiku, kau sudah melecehkan Jess, Vis. Kau tetap harus bertanggung jawab! Kalau aku sebagai kakak kandung Jess, sudah aku tinju kau sampai babak belur!”
__ADS_1
Suasana kembali hening. Keduanya tiba-tiba sama-sama terdiam. Dave memalingkan wajahnya seolah tak sudi menatap wajah Davis yang menurutnya tak ubahnya sebagai lelaki brengsek.
“Kak, ada seseorang yang aku cintai! Dan aku baru menyadarinya” Dave menatap lekat pada Davis ketika Davis mengucapkan kalimat itu.
Dave sudah bisa menebak siapakah seseorang itu. Dave tak ingin Davis menyebutkan nama seseorang itu, karena dia tak ingin mendengarnya. Seseorang yang sama yang telah mengisi hatinya. Seseorang yang mungkin tanpa wanita itu sadari bahwa sudah ada 2 lelaki yang diam-diam mencintainya.
“Aku tidak mau dengar, Vis! Kau harus menikahi Jess! Titik!” ucap Dave tegas.
“Kak, ijinkan aku untuk menyatakan perasaanku ke orang itu!” Davis merajuk.
“Apakah hubunganmu dengan seseorang itu lebih jauh daripada hubunganmu dengan Jess?”
“Tidak. Bahkan selama ini aku hanya mampu menyukainya dalam diam!”
“Davis! Kau ini bener-bener lelaki egois ya! Lalu kau anggap apa Jess selama ini? Kau sudah menciumnya dan bahkan mungkin lebih, lalu kau mau meninggalkannya begitu saja hanya karena wanita lain yang bahkan belum tentu mencintaimu?”
“Kak! Ijinkan aku untuk menyatakan cintaku padanya!”
“Kalau dia menerimamu, lalu bagaimana dengan Jess? Memutuskan pertunangan dengannya?”
“Kak, selama ini aku menjalani hubungan dengannya karena terpaksa!” ujar Davis kemudian.
“Kalau terpaksa, kenapa kau bersikap lebih dan seolah menjadi lelaki brengsek?”
“Karena tak bisa kupungkiri, aku kan lelaki normal kak! Ketika dia menggodaku---”
“Cukup Davis!” Dave kembali berteriak menyela ucapan Davis.
Dave mengatur nafasnya yang sudah terengah-engah karena emosi. Dia benar-benar marah dengan sikap dan perilaku adiknya itu.
“Tolong pikirkan perasaan Jess, Vis! Apakah wanita itu pun akan tega ketika dia bahagia di atas penderitaan wanita lain?”
“Di sini kau yang salah, Vis! Seharusnya kau bisa menjaga n*fs*mu jika masih ragu untuk menikahinya! Seharusnya kau menolak ketika keluarga kita merencanakan pertunanganmu dengannya!”
“Vis, pikirkan kembali rencanamu untuk menyatakan cinta ke wanita lain itu! Bayangkan kalau anak perempuanmu ditinggalkan begitu saja oleh tunangannya setelah tunangannya menghancurkan hati dan kehormatannya! Apakah kau pernah berpikir sampai ke sana Vis?”
__ADS_1