CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) KEMBALI TENANG


__ADS_3

Aku telah selesai mandi dan menyelesaikan ibadahku. Terdengar pintu kamarku diketuk dan kudengar namaku dipanggil beberapa kali. Namun aku malas dan tak bergeming. Aku malu, marah, sebel, bercampur jadi satu. Tak berapa lama ponselku pun bergetar, aku meliriknya. Dia menelponku dan mengirimkanku pesan. Aku malas mengangkat telponnya dan membalas chat nya. Kubiarkan ponselku bergetar berkali kali tanpa henti, hingga aku kembali mendengarnya mulai berteriak.


“Bukai pintunya, Narita!! Kalau kamu gak mau bukain, aku buka pake kunci cadangan!” ancamnya dengan berteriak.


Masih tak kugubris ancamannya. Tapi tak berapa lama, ada yang berusaha membuka pintu kamarku dari luar. Segera aku berlari ke arah pintu dan membukanya.


Dia tak berkata apanpun, dia langsung meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Beberapa orang yang tadi membantunya membawakan kunci cadangan, telah berlalu.


Aku yang tersadar bahwa dia memelukku, segera kudorong dadanya dengan paksa. Davis pun melepaskan pelukannya


“Maaf,,,,aku tak bermaksud..”dia menatapku namun tak melanjutkan kata-katanya.


“Aku melakukannya karena demi keselamatanmu, Na!” aku pun tak kuasa menitikkan air mataku. Lalu aku pun menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.


“Aku malu, Vis,,,malu!!!” aku menangis dengan menutupi wajahku.


“Mungkin bagimu itu hal yang biasa. Tapi bagiku, itu adalah kehormatanku, Vis!”


“Tapi aku melakukannya, demi menyelamatkanmu, Na!”


“Aku panik, aku sudah berusaha melakukan pertolongan lain sebelum melakukannya!” Davis berkilah.


“Maaf, Vis. Harusnya aku berterima kasih, tapi….”


“Ssssttt,,,,”


“Aku berjanji akan segera menghentikan gosip yang beredar. Kamu tenang saja. Kita tidak dalam keadaan berselingkuh kok. Ini hanya salah satu bentuk penyelamatan. Harusnya mereka gak melebih-lebihkan peristiwa kemaren.” Aku cukup tenang mendengarkan penjelasannya.


“Yuk makan!” ajaknya dan aku pun mengangguk.


Saat kami baru keluar villa, Jessica sudah ada di depan pintu dan langsung menggandeng mesra lengan Davis. Davis yang merasa tak enak hati denganku hanya tersenyum kecut melihatku. Aku pun membalas dengan senyuman dan sedikit menggelengkan kepala.


Pacarnya aja secantik ini, mana mungkin ada hati denganku –itulah yang ada dalam hatiku sembari tersenyum dan sedikit menggelengkan kepala.


Davis dan Jess berjalan mesra di depanku, sedangkan aku melenggang santai di belakang mereka. Sesampainya di café, telah ada Sherly dan Daniel dalam satu meja. Aku bergegas menuju ke meja mereka, menyapanya.

__ADS_1


“Na,,,” sapa Daniel.


“Iya…” jawabku.


“Are u oke?" 


“Alhamdullillah, I’m OK”


“Aku sudah bicara sama Mr. Dav. Sudah beliau jelaskan. Nanti beliau selesaikan kalau masih ada gosip yang beredar” aku memilih buku menu yang dibawakan pelayan.


“Syukurlah” ucap Sherly.


“Nanti kami mau ke club, kalian mau ikut?” tanya Sherly padaku dan Daniel.


“Makasih, aku mau istirahat aja” jawabku.


“Liat ntar ya!” Daniel menjawab.


Setelah pesanan makanan kami datang, kami menikmatinya dengan sesekali diselingi obrolan dan becandaan.


Seiring dengan berjalanannya waktu, gosip itu akhirnya mereda dengan sendirinya. Aku dan Davis selalu berusaha menjaga sikap agar tidak kembali menimbulkan fitnah. Setiap kali kami bertemu baik itu dalam situasi formal maupun informal, kami selalu menyapa layaknya seperti atasan dan bawahan. Hanya bedanya, menurut teman-temanku kalau Davis bertemu denganku, dia akan membalas dengan sapaan dan senyuman, sedangkan kalau disapa bawahan yang lain dia hanya sedikit saja tersungging dan lebih terkesan angkuh.


Gosip antara diriku dan dirinya memang mereda, namun yang justru yang menghebohkan adalah kabar bahwa tunangan Davis telah bekerja di perusahaan. Dia ditempatkan menjadi manajer di bagian operasional.


Ketika weekend tiba, aku biasanya mengisi waktu dengan nongkrong bareng genk ku. Walaupun kami berdelapan tak selalu bersama, namun kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu hanya sekedar barbeque, karaoke di salah satu anggota geng, berenang di salah satu apartemen kami, shopping, atau clubbing. Untuk clubbing, akhir-akhir ini aku sudah menguranginya, aku lebih memilih janjian dengan Mbak Sriti untuk datang ke pengajian yang diadakan oleh salah satu stasiun tv. Aku merasakan ketenangan hidup dan menikmatinya dengan bersyukur jika mendapatkan siraman rohani.


Di hari Sabtu siang ini, aku sudah selesai berbelanja sayur untuk stock seminggu ke depan, memasak, bersih-bersih apartemen, dan mandi. Genk kami belum ada kabar mau nongkrong di mana, aku pun masih santai-santai sambil nonton drama korea di ponsel. Lalu aku mendengar bunyi telpon berdering dari ponselku yang satu lagi, tanpa aku melihat nama seseorang yang menghubungiku, aku langsung mengangkatnya.


“Hallo Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam. Na, aku di bawah!” suara seseorang di seberang telepon.


Aku lihat layar ponselku, aku pun tersenyum ketika melihat nama seseorang yang sedang menelponku.


“Di bawah mana?”

__ADS_1


“Unit apartemenmu!”


“Sama siapa?”


“Sendiri. Ngobrol-ngobrol yuk!”


“Tunggu aku di café Senandung, di salah satu ruko gedung apartemenku ya!”


“Oke”


Aku pun segera mengganti celana hotpant ku dengan celana jeans panjang dan mengenakan cardigan untuk menutupi kaos ku yang ketat.


Saat aku memasuki café Senandung, aku mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, ku lihat dia melambaikan tangannya. Aku pun tersenyum, mengangguk dan mendekatinya.


“Tumben sie Niel?”


“Iya, bete di apartemen sendirian. Anak-anak pada anteng. Gak ada yang mau jalan-jalan apa?” tanya Daniel padaku. Ya dia yang datang ke apartemenku adalah Daniel.


“Iya kali. Sorry ya Niel, kita ngobrol di sini aja! Di apartemenku gak ada siapa-siapa!” aku pun memberi pengertian padanya dan dia pun mengangguk. Kami kalau berame-rame, aku berani membawa teman-temanku ke dalam unit apartemenku, tapi tidak kalau hanya berdua dengan yang bukan mahrom.


Nuansa café yang hommy dan nyaman, dengan alunan musik terkini yang slow, menjadikan tempat ini sangat nyaman untuk sekedar dibuat nongkrong, ngobrol, dan menghabiskan waktu. Kami berdua pun asyik ngobrol di sana, tanpa berniat pindah ke tempat lain, meskipun di komplek apartemenku juga ada mallnya. Ketika waktunya ibadah, aku akan meminta ijin untuk kembali ke unitku, lalu setelah selesai, kami kembali melanjutkan obrolan di café itu.


Aku dan Daniel memang merasakan kecocokan ketika kami mengobrol. Sejak Daniel mengungkapkan perasaannya, aku selalu berusaha menjaga jarak dengannya. Namun justru dia yang selalu menekankan padaku bahwa perasaannya padaku jangan dijadikan sebagai jurang pemisah persahabatan kami. Dia selalu berusaha menempatkanku pada situasi senyaman mungkin tanpa terbebani dengan perasaannya. Oleh karena itulah lambat laun aku pun kembali merasa nyaman bersahabat dengannya, sama seperti dulu sebelum dia mengungkapkan perasaannya.


Tak terasa Maghrib telah tiba. Daniel pamit pulang, dan aku pun kembali ke apartemenku.


Seusai mandi dan menunaikan kewajibanku, aku kembali melanjutkan nonton drama korea. Kali ini gengku memang sepi, tak ada yang mengajak janjian sekedar untuk ketemu. Kembali ponselku berdering.


“Hallo Daniel, apalagi?” aku kembali mengangkat telpon tanpa melihat nama.


“Aku bukan Daniel!” terkejut, aku pun menatap layar ponselku. Dan sungguh bodohnya aku ketika kulihat nama orang lain yang sedang menelponku.


“Owh, maaf maaf”


“Kamu sedang menunggu telpon Daniel?” aku pun hanya mampu menghela nafas dan berusaha mencari alasan yang tepat untuk menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2