
AUTHOR POV
Narita segera berdiri dan menghampiri Drake yang tengah menggandeng Karen.
“Maaf tuan, saya sudah menitipkan Karen pada Leni, kenapa Karen---” Drake langsung memotong ucapan Narita.
“Cepetan masuk Na, tuan besar mau makan!” ucapan Drake membuat dahi Narita mengkerut. Narita pikir Drake memanggilnya dengan berteriak sembari menggandeng Karen karena ingin menegurnya yang tidak menjaga Karen. Dan yang lebih membuatnya terkejut, kenapa tuan besar jam segini sudah sampai rumah?
“Na! Ayo! Kok malah diem aja?” Drake menyuruh Narita masuk menggunakan isyarat dagunya.
“Owh,,,ya, sebentar tuan.” Lalu Narita menghampiri Davis dan berkata “Maaf, saya harus pergi, saya harus memasak untuk tuan besar!” usai mengucapkan itu, Narita berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Davis.
“Narita!” panggil Davis dan berlari menyusul Narita, namun Narita tak menggubris panggilan itu.
Ali yang kebingungan karena tiba-tiba ditinggalkan keduanya, lalu pergi dari gazebo.
Hingga kini Narita sampai di ruang makan yang telah duduk di sana Dave dan Teddy. Dave nampak menatap tajam Narita lalu beralih ke Davis. Tatapan tajam, rahang mengeras, wajah diam menampakkan ekspresi ketidaksukaannya.
Narita mendekati Dave sementara itu Davis yang masih terus ditatap Dave dengan santainya duduk di kursi seberang Dave.
“Maaf tuan, saya belum memasak. Apakah tuan mau request masakan tertentu?” mendengar suara Narita, Dave segera memutus tatapannya pada Davis dan beralih menatap Narita.
“Gak ada. Terserah kamu!” jawab Dave dengan nada tegas dan wajah dingin.
Narita mengangguk lalu berlalu menuju ke pavilliun 101. Dia sengaja meletakkan semua bahan mentahnya di kulkas dapur pavilliun 101.
“Aku bantu, Na!” teriak Davis segera berdiri dan menyusul Narita.
Melihat tingkah Davis yang seolah tak memahami situasi kemarahan tuan besarnya, Teddy segera berpamitan pada Dave dan menyusul mereka ke pavilliun 101.
Kini Narita tengah membuka kulkas dan bingung hendak memasak apa. Davis yang baru datang, segera membantunya dengan memegangi pintu kulkas dan mengamatinya dari belakang Narita.
“Masak sayur capcay seafood aja!” ucap Davis memberi usul yang segera diangguki Narita.
Teddy yang baru sampai di dapur pavilliun 101, melihat mereka berdua nampak akrab hanya menghela nafas panjang.
“Na, sebaiknya kamu memasak di dapur rumah utama!” Teddy mengajak bicara Narita namun tatapan matanya malah tertuju pada Davis.
Davis menyadari sepenuhnya bahwa sikapnya saat ini sangat mudah membuat orang yang melihat mereka akan salah paham. Davis pergi terlebih dahulu meninggalkan Narita yang tengah memilih-milih bahan yang akan dimasak dan Teddy hanya memandangi kepergiannya.
Davis kembali duduk di kursi ruang makan yang letaknya tak jauh dari dapur rumah utama. Tak berselang lama, Teddy dan Narita datang ke dapur itu. Suasana sepi karena semua diam, semua mata mengarah pada Teddy dan Narita yang baru datang.
Teddy kembali ke tempat duduknya sementara Narita dibantu dua orang chef mulai meracik bahannya. Kini Davis berusaha mengajak ngobrol Karen yang duduk di baby chair. Celotehan Karen membuat suasana menjadi cair dan ada sedikit gelak tawa.
__ADS_1
Sepanjang obrolan, Dave sama sekali tak tersenyum, tertawa, atau menimpali obrolan. Dia hanya terdiam, tatapan wajah kaku, dan sesekali memandangi ipadnya. Bagi sebagian besar orang pasti akan menganggap bahwa Dave tak bisa akrab dengan Karen, karena sekaku itu dia bersikap. Dia seperti tidak pernah menghadapi anak kecil, dan memang kenyataannya tidak pernah.
Usai masakannya matang, dengan dibantu para chef, Narita menata meja makan. Ketika Narita mulai meletakkan satu persatu mangkok besar berisi capcay, sepiring ayam goreng mentega, sepiring bakwan jagung, dan nasi di meja makan, semua orang kembali terdiam. Ada yang memperhatikan gerak gerik Narita dan chef, ada yang mengamati makanan yang nampak enak, dan ada yang berpandangan satu sama lain.
Begitu pun halnya dengan Dave. Matanya lekat memandangi gerak gerik Narita, meskipun yang dipandang tak merasakannya.
“Makanan telah tersaji, selamat menikmati, saya permisi!” pandangan mata Narita diedarkan ke semua orang yang berada di ruang makan itu.
“Hm” jawab Dave tanpa melihat Narita. Kini giliran Narita menatap Dave, Dave malah justru acuh tak acuh dan membuang muka ke ipadnya.
Setelah mendapatkan ijin untuk pergi, Narita membawa serta Karen keluar dari ruang makan dan kembali ke pavilliun 101. Davis nampak memperhatikan Narita sembari menghela nafas panjang. Dia berpikir bahwa usahanya untuk mengajak bicara Narita kembali gagal.
Narita kini tengah berada di kamar Leni.
“Na, jantungku mau copot tadi berpapasan dengan tuan besar.” ucap Leni berbisik.
“Kenapa?” tanya Narita.
Flashback On
Ucapan salam dan diikuti suara derap langkah sepatu laki-laki terdengar semakin jelas mendekati ruang makan. Leni yang sedang mendampingi Karen makan di baby chairnya di ruang makan tiba-tiba merasa ngeri, dia bingung apakah mau tetap di sana atau pergi dari rumah utama. Berita yang selama ini menjadi momok bagi para asisten rumah tangga di rumah itu, membuatnya berpikir keras untuk menghindar dari tuan besar.
Namun belum sempat dia mengambil tindakan, suara berat dan tegas tiba-tiba mengagetkannya “Di mana Narita? Kenapa Karen ada padamu?” tanya tuan besar menatap tajam pada Leni.
Leni segera berdiri dan menghadap ke arah Dave.
Ya begitulah sosok Dave. Hanya dengan tatapan dan suaranya saja sudah bisa membuat lawan bicaranya takut dan sekaligus hormat.
Tiba-tiba Drake datang tergopoh-gopoh menghampiri tuan besar.
“Maaf tuan, saya tidak tau kalau tuan akan pulang cepat.” Ucapnya.
“Drake, apa kamu tau Narita melalaikan tugasnya karena Davis?” kini tatapan dingin dan tajam Dave menyorot mata Drake.
Sebenarnya bagi Drake, tidak masalah kalau Narita menitipkan Karen pada Leni. Toh ini namanya kerjasama dalam bekerja. Sepanjang tidak ada pihak yang merasa dirugikan, ya kenapa harus dipermasalahkan. Namun yang membuat Drake heran, kenapa lagi-lagi tuan besarnya turut campur dalam masalah sepele begini?
“Maaf tuan, saya tau. Tapi kan Leni tak masalah membantu Narita merawat Karen. Saya pikir tidak apa-apa tuan?” Drake berpendapat sesuai denga napa yang dipikirkannya.
“Saya tidak suka kamu menganggap ini sebagai hal sepele. Walau bagaimana pun juga ini menyangkut masalah tanggung jawab. Camkan itu!” kembali suara Dave menggelegar dan wajahnya memerah nampak amarah yang ditahannya.
“Panggil Narita! Siapkan makan malamku sekarang juga!” titah Dave kemudian.
“Baik tuan” Drake bergegas balik badan hendak menuju ke area kolam renang, namun baru saja dia membalikkan badan tiba-tiba Dave kembali berucap “Bawa Karen ke sana!” lalu Drake kembali lagi, dia menurunkan Karen dari baby chair dan menggandengnya membawanya keluar.
“Kamu kembalilah ke tempatmu. Karen tanggung jawab Narita!” Dave sudah menurunkan intonasi suaranya dan menoleh pada Leni.
__ADS_1
“Baik tuan. Permisi” Leni berpamitan dengan hormat lalu pergi meninggalkan Teddy dan Dave.
Flashback off
“Begitulah ceritanya Na. Selama aku kerja di sini baru kali ini tuan besar mengurusi hal sepele begini. Bahkan aku pun jarang bertemu dan mendengar suaranya. Tapi akhir-akhir ini kenapa beliau jadi sering muncul dan marah-marah ya?” ucap Leni dengan tatapan mata entah kemana seolah berpikir keras.
“Begitukah? Bukan marah kali, hanya memang suaranya keras aja” kata Narita santai.
“Apa kamu tadi dimarahin?” tanya Leni lagi.
“Enggak” jawab Narita pendek dengan sedikit menggelengkan kepalanya.
“Selama kamu memasak, apakah mendengar dia marah sama seseorang yang di sana?” Leni mendekatkan wajahnya pada Narita dan berbisik.
“Enggak.” Narita memandang kedua bola mata Leni.
“Yaah, ada obrolan di antara mereka tapi itu obrolan kaku yang sama sekali gak mengasyikkan” Narita masih menanggapinya dengan santai.
“Kamu gak takut kena marah beliau?”
“Sepanjang aku tidak salah, kenapa takut? Beliau memang karakternya seperti itu, ya aku cukup maklum” jawab Narita.
“Dia memang cuek, pendiem, angkuh, sombong, tapi setauku bukan pemarah. Dulu mana pernah aku dengar suara beliau” pandangan Leni kembali menerawang.
Narita yang tengah duduk lesehan dengan Karen tiduran dan meletakkan kepalanya di paha Narita, masih sibuk mengelus-elus kepala Karen sambil mendengarkan cerita Leni.
“Tapi kalau aku melihatnya, perubahan sikap tuan besar adalah perubahan menuju ke arah yang positif. Dulu beliau tak pernah bertemu Karen, dan hanya menemuinya di kala Karen sudah tertidur lelap, sekarang dia mulai mau mengajak bicara Karen, mau mendekatinya meskipun belum pernah aku melihatnya menggendong Karen. Bagiku, itu hal yang bagus untuk perkembangan psikologis Karen.”
“Bener juga, Na”
“Lebih tepatnya sejak acara ulang tahun perusahaan kala itu, beliau jadi terlihat lebih perhatian pada Karen” ucap Leni.
“Yasudah, sepertinya mereka sudah selesai makan malam. Aku permisi ya! Terima kasih sudah mengijinkan kami istirahat di sini!” Narita bersiap menggendong Karen yang sudah tertidur.
“Ya. Sama-sama” jawab Leni yang membantu membukakan pintu kamarnya untuk Narita dan Karen.
Narita menggendong Karen menuju kamarnya. Tak berapa lama, Narita keluar kamar Karen dan hendak kembali ke kamarnya. Namun saat dia membuka pintu kamar Karen, tiba-tiba Davis sudah muncul di depan pintu, mengagetkannya.
“Astaghfirullah, Anda mengagetkan saja!” ucap Narita memegang dada kirinya.
“Na, tadi aku belum selesai bicara, bisa kita lanjutkan?” Davis berbicara sedikit berbisik.
Belum sempet Narita menjawab, tiba-tiba suara seseorang mengagetkan mereka berdua “Vis, ke ruang kerjaku sekarang! Ada hal yang harus kita bicarakan!” Narita dan Davis spontan memandang Dave yang entah sejak kapan tiba-tiba berada tak jauh dari mereka.
__ADS_1
Davis pun kembali menghela nafas panjang, melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Dave menuju lift. Sementara itu, Narita masih menatap kepergian keduanya, namun sesaat kemudian setelah menyadarinya Narita menutup kamar Karen dan masuk ke kamarnya.