CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) TERBUKANYA RAHASIA


__ADS_3

Hari senin kembali tiba. Kalau sebagian orang bilang I hate Monday, tidak halnya denganku. Justru aku selalu menunggu-nunggu hari Senin tiba, I love Monday.


 


Sesampainya di kantor, aku mendapat perintah dari Mr. Al untuk mengirimkan progres terkini project baru yang sedang kami kerjakan, karena sebentar lagi Dirut akan mengadakan rapat dengan para Direktur khusus Bidang Properti dan Perhotelan. Setelah aku kirimkan datanya via email, segera aku wa Mr. Al mengabarkan hal itu.


 


Saat jam makan siang telah tiba, Anabelle mendekati mejaku “Maksibar yuk!” ajaknya.


“Hayuk. Mau maksi di mana?” tanyaku balik.


“Ntar ya, aku ajak temen-temen di grup wa!” lalu Anabelle yang biasa kami panggil Abel fokus dengan ponselnya.


 


Aku masih membereskan pekerjaan di mejaku sembari menunggu keputusan dari Abel.


 


“Daniel mau di café seberang. Gimana mau gak?” tanya Abel memandangku.


“OK” aku beranjak dan merangkul lengannya.


 


Saat kami keluar lift di lantai dasar, nampak sudah ada 5 orang teman kami yang menunggu. Kami pun saling bertegur sapa.


 


“Ehh guys, liattt tuh siapa yang di depan?” tunjuk Abel pada sepasang pria wanita yang berjalan membelakangi kami.


“Siapa?” tanyaku menoleh pada Abel.


“Ck,,,gini nie kalau gak gaul. Bos sendiri aja gak kenal!” keluh Daniel menoleh malas padaku.


 


Aku hanya nyengir karena memang tak tau siapa dia, tak nampak wajahnya. Aku kembali memperhatikan seseorang yang sedang kami bicarakan. Postur badan dan cara berpakaiannya menunjukkan kalau dia bukan orang sembarang. Yang pria dengan postur tinggi, besar, tegak, jalan dengan penuh wibawa dan mengenakan jas mahal, sudah bisa dipastikan kalau dia ada pria kaya, berkedudukan, dan ada keturunan bule. Di sampingnya berjalan seorang wanita dengan postur tinggi, langsing, rambut curly warna blonde, mengenakan dress pendek namun sangat elegan. Yang ini juga sudah bisa ditebak ada keturunan bule juga.


 


“Itu Mr. Dav sama tunangannya. Tadi aku sekilas liat tunangannya pas kami selesai rapat di ruangan beliau!” jelas Daniel.


Nampak mereka memasuki mobil mereka dengan sopir yang berada di bagian kemudi.


 


“Sepertinya mereka bukan pasangan yang akur!” kata Daniel kemudian.


“Lah katamu tunangannya, kenapa sekarang bilang bukan pasangan?”


“Harusnya pria membukakan pintu ke wanitanya. Ini enggak. Dia membukakan pintu untuk dirinya sendiri”


 


Aku menepuk lengan Daniel cukup keras hingga mengagetkannya sambil bilang “Ya ampun, analisis yang gak berdasar. Siapa tau emang Mr. Dav begitu orangnya!” dan kami semua pun terkekeh, membenarkan omonganku.

__ADS_1


 


Daniel memandangku dan tersenyum, lalu berbisik mendekat ke telingaku “Ya, Aku suka kamu yang seperti ini!”


 


Aku pun melotot dan berbicara dengan mataku—jangan deket-deket, sana! Nanti ada yang bergosip. Tapi bukannya menjauh, Daniel malah merangkul pundakku. Teman-temanku pun tak ada yang menaruh curiga pada kami, karena memang Daniel bisa seakrab itu dengan siapa saja, termasuk denganku.


 


Sesampainya kami di café, kami bertujuh memesan makanan, makan dan masih bergosip mengenai Dirut baru kami.


“Niel, tadi gimana rapatnya?” tanyaku.


“Hufh, penuh ketegangan. Kami semua kena marah Mr. Dav!” Daniel menceritakan dengan nada lemah dan malas.


“Na, kita siap-siap dinas bareng ke Bali. Mr. Dav meminta kita mengecek lahan yang akan dibangun villa di Uluwatu”


“Kapan?”


“Mungkin dalam minggu ini. Nanti aku kabarin!”


“Kita? Emang siapa aja?”


“Melibatkan 3 bagian, marketing, project planner, dan operasional. Mr. Dav sendiri turut serta!”


“Whattt???” teriak Sherly kaget mendengar Mr. Dav akan turut serta.


“Santai aja Sher, kamu pasti ikut,xixixii!” kata Daniel tertawa terkekeh.


 


Daniel nampak memutar bola matanya malas “Jangan kamu pikir liburan, ini mah horor Na! Kamu gak tau Mr. Dav!”


“Tenang aja Niel, kalau perlu aku taklukkan hati Dirut kita!” kata-kataku membuat keenam sahabatku melotot dan menatapku dengan terheran.


 


Aku pun entah apa yang aku pikirkan ketika mengeluarkan kata-kata ini. Tak ada niatku sedikit pun seolah membuat diriku sebagai cewek gampangan yang begitu mudah menggoda bosnya. Begitu pun, setau mereka aku bukan tipe wanita penggoda seperti omonganku barusan.


 


“Ini Narita yang kukenal kan?” Arnold menatapku dari atas sampai bawah seolah mencari sesuatu dariku.


“Narita yang kukenal gak gini!!!”


 


Kulirik sejenak Daniel, dia melempar pandangan ke arah lain lalu menunduk seolah sedang menikmati makanannya dan tak menggubris apa yang baru aku katakan.


 


“Gue suka gaya loe, Na! Apa salahnya menggoda bos yang masih single. Ya kan?” Sherly menggodaku.


 


Duh aku sendiri bingung gimana menanggapinya. Aku sudah salah bicara. Mereka pasti akan berpikir aneh-aneh padaku, terutama Daniel. Lalu aku melirik Daniel dan berkata “ Eh eh jangan dianggap serius omonganku. Aku mah apa atuh. Gak cantik, gak seksi, gak punya daya tarik sama sekali, mana bisa menarik hati pria”

__ADS_1


Daniel mengangkat kepalanya dan menatapku dan akhirnya mata kami bertemu. Lalu karena gugup aku pun melemparkan pandangan ke sembarang arah, malu ketauan habis menatapnya.


 


Daniel pun berkata “Arnold, kamu tertarik sama Narita gak?” spontan pertanyaan Daniel membuat Narita dan Arnold tersedak bersamaan. Begitupun dengan keempat sahabat kami yang lain turut menatap Arnold, Narita, dan Daniel bergantian.


“Suasana apaan ini?” Seru Abel memecahkan kesunyian di meja kami.


“Gak usah dijawab Ar!” seru Daniel.


“Itu artinya kamu salah, Na! Jangan rendah diri gitu Na. Kamu tuh cantik luar dalam, bahkan kecantikan dari dalam itulah yang lebih memancar sehingga pria-pria bule macam kami begitu mudahnya jatuh hati padamu!” terang Daniel seolah mengatakan bahwa dia telah jatuh hati pada Narita.


 


Semua orang kembali melotot, ada yang membungkam mulutnya dengan tangannya, kaget dengan apa yang Daniel katakan.


 


“Apa itu artinya-----” Sherly kembali berkata namun sudah dipotong oleh Daniel.


“Iya aku jatuh hati sama Narita, sejak pertama mengenalnya, dan makin cinta setelah lama mengenalnya!”


 


Semua orang makin terkaget melihat Daniel dan aku bergantian. Jantungku bertalu tidak karuan. Kupikir Daniel akan memendamnya dalam hati saja, ternyata malah mengungkapkannya di depan sahabat-sabahat kami. Sungguh aku makin gak tau harus berbuat bagaimana.


 


“Kamu sendiri gimana Na?” tanya Arnold menatapku yang tak kutatap karena aku seolah fokus pada makananku.


“Jangan kau tanyakan apa isi hati Narita. Biarkan waktu yang akan menjawabnya” Daniel kembali berbicara, sungguh menyelamatkanku.


“Jangan bilang kamu juga suka Narita, Ar?” tanya Sherly pada Arnold, membuat Arnold terlihat gugup.


 


Kami kembali terdiam dan hanya terdengar suara sendok, garpu, dan piring yang saling bertabrakan.


 


“Iya” Arnold kemudian menjawabnya dengan lirih.


 


Semua orang kembali kaget mendengar penuturan Arnold.


 


“Hwahhhhh,,,,,,pesona Narita bener-bener!” Dewi yang duduk di samping ku menepuk pundakku.


 


Makan siang kami bertujuh, aku, Daniel, Sherly, Abel, Arnold, Dewi, dan Leonardo, hanya 1 orang yang tidak turut serta yaitu George, benar-benar menjadi makan siang yang tak terlupakan bagi kami. Bagaimana tidak? Kami telah bersahabat lebih dari 3 tahun, persahabatan lintas cultural, lintas negara, persahabatan antara pria dan wanita, ternyata memang benar-benar tidak ada yang namanya persahabatan sejati.


Nyatanya dari kami berdelapan, 3 orang di antaranya terlibat cinta yang rumit yang sulit dijelaskan.


 

__ADS_1


__ADS_2