CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
MALAM PERTAMA


__ADS_3

NARITA POV


Kami pun akhirnya bergiliran untuk mandi. Aku yang telah selesai mandi, keluar kamar mandi sudah mengenakan baju tidur lengkap. Ketika suamiku tengah mandi, aku memberanikan diri untuk memilihkan baju di walking closet. Kubuka semua pintu lemari karena aku belum tau di mana letak baju-bajunya. Setelah aku menemukan, whaahhhh aku dibuat takjub oleh koleksi dasi, jam tangan, dan baju-baju kantornya.


Aku kembali mencari keberadaan baju rumahannya dan akhirnya menemukannya. Ragu-ragu aku membuka lipatan celdam. Memang ini bukan pertama kalinya aku memegang barang seperti ini, karena ketika aku di rumah, semua baju dalam dan luaran bapak dan adikku, aku semua yang cuci dan setrika. Namun, ketika aku memegang barang yang bukan milik keluargaku, tanganku sedikit bergetar, awalnya ragu-ragu tapi akhirnya kuambil juga.


Selanjutnya baju dan bawahan. Aku tak tau style Davis ketika di rumah. Namun aku asal ambil saja kaos oblong lengan pendek dan celana boxer. Semuanya aku letakkan di atas kasur.


Tak berapa lama, Davis keluar toilet hanya mengenakan handuk yang melingkar di perut sixpack nya. Segera kubuang mukaku ke arah sebaliknya untuk menghindari pemandangan yang tak biasa seperti ini. Namun tiba-tiba Davis muncul di depanku sembari berkata “Kok kamu buang muka, Sayang?”


“Hmmmm, kamu malu ya!?” Goda Davis malah berusaha ada di depanku.


“Mas itu bajumu, udah sana-sana pake baju dulu” aku pun mengusirnya dari depan pandanganku dengan isyarat tangan. Dia lalu pergi dengan tertawa terbahak-bahak.


Hufh


Aku kembali bernafas lega. Aku memang menyukainya tapi masih terasa asing bagiku melihatnya seperti tadi. Kulihat baju yang tadi telah kusiapkan, dibawa olehnya ke walking closet, mungkin dia mengenakan bajunya di sana.


Tak berapa lama, dia keluar dari walking closet. Dia mengajakku untuk menunaikan ibadah bersama.


Usai beribadah bersama, dia duduk di ujung dekat sandaran kasur, lalu meraih ponselnya. Aku masih melipat mukena dan sajadah yang tadi kami gunakan, lalu meletakkannya di lemari di walking closet. 


“Sebentar ya Sayang, aku mengecek dulu adakah pesan penting untukku” ucapnya tanpa melihatku, setelah aku kembali ke kamar itu.


“Ya” jawabku singkat.


Aku pun duduk bersisihan dengannya dan terus memperhatikannya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Setelah dia sibuk dengan ponselnya, kini dia meraih ipadnya dan kembali fokus di depan layar ipad.


Tak ingin mengganggunya, akhirnya aku berinisitif untuk mengambil kelopak bunga mawar yang bertebaran di atas Kasur.


“Stop, Sayang!”


“Kita foto dulu, baru kamu beresin ya?”

__ADS_1


Lalu Davis mulai mengarahkan gaya padaku, dan dia mulai mengambil fotoku sendiri. Setelah itu dia mengatur gaya kami berdua, lalu dia ambil secara selfi.


“Mas, mau aku foto sendiri di situ gak?”


“Gak, Sayang.”


Lalu dia letakkan ponselnya yang tadi untuk memotret, kini dia membawa plastik dan kami pun mulai memunguti bunga itu dan memasukkannya ke plastik.


“Sayang banget ya mas? Bunga mahal cuma buat foto-foto bentar banget.”


“Ya gakpapa Sayang, aku cuma pengen memberi kesan kalau ini adalah kamar pengantin” ucapnya sedikit tersenyum.


Setelah itu, kami bedua pun sama-sama gugup, seolah bingung hendak melakukan apa lagi. Kulihat Davis mulai membuka selimut, merebahkan tubuhnya seraya berkata “Sini!” dia menepuk tempat kosong di sisinya.


Aku pun menurutinya, menyingkap lebih lebar selimut yang sudah tersingkap sebagian, lalu memasukkan tubuhku ke dalam selimut dan mulai merebahkan diri.


Namun entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja sudah ada Davis di atasku dengan kedua tangannya bertumpu pada Kasur di samping kepalaku. Mata kami kembali bertatapan. Perlahan dia turunkan kepalanya hingga kini wajahnya sangat dekat di atas wajahku.


“Mereka sedang istirahat. Kasihan. Jangan diganggu!” Davis justru berbisik di telingaku membuatku kegelian.


Davis kembali membisikkan sesuatu, namun kali ini adalah doa. Dia membimbingku untuk melantunkannya bersama-sama.


Saat ini kembali wajah Davis tepat ada di atas wajahku, dia kembali mendekati wajahku lalu mencium bibirku cukup lama. Aku yang tak pernah melakukan sebelumnya, bingung hendak melakukan apa, sehingga kubiarkan dia saja yang melakukannya.


Debaran jantungku yang tak bisa lagi kukendalikan, rasa cinta, rasa sayang tersalurkan begitu saja melalui ciuman dan sentuhan-sentuhannya. Ketika ciuman Davis mulai turun ke leher, tangannya mulai sibuk dengan kancing bajuku, sementara aku sendiri hanya mampu menunggunya. Semangatnya yang membara untuk menyentuhku, kubiarkan dia mengeksploitasi apa yang ada di diriku.


Gelenyar aneh namun memabukkan terasa begitu menjalar ke seluruh tubuhku. Rasa yang indah yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Tanpa terasa kini tubuh kami berdua telah polos. Ciu**n, kecupan, sentuhannya yang memabukkan telah menyatukan tubuh kami berdua.


“Aaaahhhh”


Seketika aku berteriak merasakan sakit yang tak terkira. Kutahan dadanya untuk berhenti. Sejenak dia pun berhenti dan menatapku. Aku tak berniat menangis namun tetesan air keluar dari sudut mataku. Rasa perih ini membuatku sesekali merintih kesakitan. Kulihat dia kembali melakukannya dengan pelan, sesekali mengecup kening dan bibirku untuk menyalurkan ketenangan seolah berkata ‘everything is gonna be okay’.


Sampai akhirnya dia melenguh panjang dan tubuhnya ambruk di sampingku. Dengan tubuh sama-sama polos dan di dalam selimut, dia memeluku seraya berbisik berbisik ‘ I Love You so much’. Aku tersenyum, meskipun aku tak yakin dia melihat senyumanku.

__ADS_1


Begitulah akhirnya malam itu kami menghabiskan tenaga, keringat, perasaan yang membuncah demi meluapkan emosi cinta yang selama ini kami tahan.


Ya, apa yang terjadi hari ini adalah salah satu bentuk rasa cinta di antara kami berdua. Aku bahagia akhirnya apa yang kujaga selama ini dapat aku berikan kepada seseorang yang teramat aku cintai, begitu pula sebaliknya.


Perlahan aku memejamkan mata dan kami sama-sama terbawa ke alam mimpi.


Kali ini, aku seperti bermimpi merasakan nikmatnya sentuhannya seperti tadi. Aku merasakan bahagia mendapat sentuhan-sentuhan cintanya. Meskipun pada kenyataannya terasa sakit, namun ternyata ketika aku merasakan di alam mimpi, sungguh rasa ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Namun tiba-tiba—


Awwwwwkkk – rasa sakit yang seolah nyata membuat mataku terbuka.


Betapa kagetnya aku ketika melihat Davis sudah berada di atasku dengan menyunggingkan senyum.


“Lagi ya, Sayang” ucapnya pelan.


Ya, ampuun,,,ternyata apa yang kupikir adalah mimpi, justru nyata. Dan akhirnya dini hari menjelang Subuh, kami melakukannya lagi. Seolah dia tak ada lelahnya melakukannya lagi dan lagi. Sampai pada puncaknya, dia kembali berkata ‘I Love You so much, Darling!’ lalu dia tutupi tubuhku dan tubuhnya dengan selimut, tak lupa dia miringkan tubuhnya, melingkarkan lengannya di perutku, dan kami kembali tertidur pulas.


---- TO BE CONTINUED ----


Hai para readers ku yang baik, tolong jangan lupa klik :


- SUKA


- FAVORIT


- HADIAH


- VOTE, DAN


- TULIS KOMEN


Ya,,,,karena itu semua akan memberikan imum booster untuk saya bisa UP tiap hari. Makin banyak dukungan maka makin besar imun yg saya terima, sehingga makin semangat saya nulis dan UP nya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2