
NARITA POV
“Istriku,,,Maaf,,,,Istriku,,,Maaf” butiran air mata menetes dari ujung mata Davis. Dia mengingau dalam pingsannya.
“Istriku, I Love You. Tunggu aku pulang” Davis kembali mengigau.
Kalimatnya itu sungguh mengingatkanku akan pertemuan terakhir kami sebelum dia berpamitan pergi. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan tetesan air di mataku. Jantungku rasanya berhenti berdetak. Aku berhenti bernafas sejenak untuk mengatur suasana hatiku.
Dave yang sedari tadi mengoles minyak kayu putih di sekitar wajah Davis, tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya.
Semua mata fokus memandang Davis, berharap mendengar kalimat lainnya.
“Drake panggilkan Teddy, sekarang!”
“Saya saja yang memanggilkannya tuan!” sebelum Drake beranjak, aku langsung menawarkan diri, aku hendak keluar dari situasi menyesakkan dada ini.
Dave menganggukan kepalanya, lalu aku segera berlari cepat. Sepanjang perjalanan, aku menumpahkan air mataku, aku menangis dalam diam.
Ya Alloh, apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Kenapa di saat dia membuka mata, dia tak mengingatku?
Dan saat dia pingsan, dia menyebutku, mengingatku dan---
Dia masih mencintaiku? Sungguhkah?
Ya Tuhan, aku harus bagaimana?
Apakah jika aku mengakuinya dan hanya memberikan bukti foto ijab qabul kami dengan baju ala kadarnya, orang akan percaya?
Apa yang harus aku tunjukkan untuk membuktikannya?
__ADS_1
Pandanganku buram karena tertutupi kristal bening yang sedikit demi sedikit mengalir di pipi. Hingga akhirnya aku sudah bertemu dengan Teddy. Saat kembali ke rumah utama, Teddy berjalan denan cepat di depanku sementara aku berjalan sedikit lambat di belakangnya. Karena kecepatan tidak sama, hingga aku tertinggal jauh. Terus terang aku penasaran, apa tujuan Dave memanggil Teddy yang notabene adalah asisten pribadinya.
Saat aku sampai di ruang tengah, terlihat seorang dokter tengah memeriksa Davis. Dia memasangkan cairan infus. Saat posisiku telah dekat, barulah aku mendengar dokter itu berbicara dengan Dave.
“Ada tekanan batin yang membuat emosinya bergejolak. Luka di dalam kepalanya bereaksi ketika dia terlalu keras memikirkan sesuatu. Untuk sementara, jangan membuatnya tertekan! Ketika dia berusaha mengingat masa lalu nya, luka itu akan menyakitinya.” Nasehat dokter itu pada Dave.
“Kau tau betul hal itu, Dave! Kenapa ini bisa terjadi lagi?” tanya dokter itu.
Lagi? Apa maksud dokter itu dengan kata ‘lagi’ –batinku.
“Lalu kenapa dia belum siuman?” tanya Dave.
“Ini sudah 1 jam lebih dan kami juga sudah mera****ngnya dengan minyak ini, tapi dia tetap tidak bangun” lanjut Dave.
“I Miss You, I Love You, Istriku” Davis kembali mengigau.
“Dia tak ingin bangun karena di mimpinya dia menemukan kebahagiaannya” jawab dokter muda, tampan, yang usianya sepantaran dengan Dave itu.
“Akhhhh,,,,”Dave meraup wajahnya dengan kasar menunjukkan kefrustasiannya.
“Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kami? Mommy sama Daddy memintaku mempercepat pernikahan kami” sahut Jess meminta pendapat dokter.
“Biarkan dia menyelesaikan masa lalu nya terlebih dahulu. Jangan kita tekan dia untuk menjalani masa depan apabila dia masih belum mengikhlaskan masa lalunya. Kalau sudah begini, lebih baik dia diterapi, biarkan dia menemukan kembali sebagian ingatannya, dan biarkan dia sendiri yang menentukan masa depannya!” dokter itu menjelaskan dengan sangat detail.
“Atau----” lanjut kata dokter.
“Atau apa dok?” tanya Jess dan Dave bersamaan.
“Atau dia akan pingsan dan tak akan siuman kembali!” jawabnya.
Aku tak sanggup lagi mendengar semua penjelasan dokter. Meski aku tidak tau penyebab hilang ingatannya, tapi sepertinya dia masih sangat mencintaiku, walau hanya dalam mimpinya. Sungguh kasian kalau dia sampai tidak mau kembali kea lam nyata hanya gara-gara rasa cintanya padaku.
“Kalau dia bertemu dengan istrinya, seperti yang di dalam mimpinya, apakah itu akan memperbaiki keadaannya?” semua mata memandangku heran ketika aku tiba-tiba menyinggung mengenai ‘istri’ yang disebut Davis di dalam mimpinya.
__ADS_1
“Hmm, maksudku bisa jadi dia memang tak mengingat istrinya ketika dia sadar. Jadi apa ada kemungkinankah kehadiran istrinya akan mengembalikan ingatannya?” aku sedikit mengoreksi pertanyaanku agar tak menimbulkan kecurigaan.
“Bisa jadi dia tak mengenali istrinya. Tapi mungkin dia bisa membantunya menstimulasi ingatannya dengan kenangan-kenangan Bahagia di masa lalunya” jawab dokter itu menatapku dalam beberapa saat. Entahlah sepertinya dia sedang membaca pikiranku.
Setelah itu dokter tampan itu berpamitan.
“Ted, kau cari tau siapa istri Davis!” perintah Dave tegas.
DEG DEG DEG
Tubuhku bergetar hebat, jantungku berdetak kencang mendengar Dave memerintahkan Teddy untuk mencariku. Sudah dapat dipastikan, dia akan menemukanku. Lalu apa yang akan terjadi nanti? Apa yang seharusnya kulakukan sekarang? Aku bingung.
Aku ingin jujur, tapi aku tak memiliki cukup bukti. Kalau aku tak mengatakannya, suatu saat nanti ketika mereka menemukan identitasnya, mereka pasti akan mempertanyakan kenapa aku menyembunyikan kenyataan ini?...Ya Alloh, bagaimana ini?
“Baik, tuan!” jawab Teddy.
“Hmm, sepertinya ini akan sangat sulit. Dulu dia kan pernah menjadi pecinta wanita, jadi sulit bagiku mencari jejaknya.” lanjutnya.
“Perasaanku mengatakan, wanita yang dinikahinya adalah orang Indonesia. Karena semua kenangan yang dia ingat hanyalah kenangan saat dia di Indonesia.” Ucap Dave.
“Dan kau, Narita!”
DEG
Panggilan mendadak Dave, membuat jantungku seketika berhenti. Baru saja membahas mengenai ‘istri Davis’ lalu Dave memanggilku, pasti aku kaget banget.
“I-i-i-iya tuan!” jawabku gugup karena kaget tiba-tiba namaku dipanggil, saat aku sedang asyik dengan lamunanku.
“Sepertinya masakanmu mengingatkan Davis akan suatu kejadian. Buatlah makanan percis seperti apa yang ada di Indonesia! Kalau bumbunya ada yang sulit kau dapat, bilang Teddy!”
“Ba-ba-baik tuan” aku masih menjawabnya dengan gugup.
“Ada apa denganmu, Narita? Kenapa kau tiba-tiba gugup?”
__ADS_1
“Apa ada hal yang kau sembunyikan?”
DEG DEG DEG