
AUTHOR POV
Tadi pagi Davis menelpon psikiaternya dan menanyakan keganjilan dari obrolannya dengan Dave dan Narita semalam. Dari sanalah akhirnya Davis mendapat penjelasan bahwa dia mengalami amnesia sebagian. Beberapa potongan memori setelah kejadian kecelakaan parah yang menimpanya 4,5 tahun yang lalu, hilang. Namun, potongan memori sebelum kecelakaan malah tiba-tiba muncul kembali.
Davis juga mendapat penjelasan dari psikiaternya bahwa Narita adalah wanita yang selama ini telah tinggal bersama di rumah Davis dalam beberapa tahun terakhir. Dia juga pernah menemani Davis konsultasi. Seharusnya kalau Davis tidak mengingatnya karena amnesia, Narita justru mengingat dengan jelas.
Davis tidak memahami mengapa Narita merahasiakan jati dirinya di hadapan suaminya sendiri. Bahkan pada saat menemani Davis konsultasi pun, Narita masih tidak mau mengungkap identitas dia yang sesungguhnya.
“Mom, itulah sebabnya darahku cocok untuknya, karena kami memang memiliki hubungan darah” jelas Davis.
Mommy yang awalnya nampak ragu, hanya bisa menghela nafas kasar. Di sisi hatinya yang lain, mengatakan kebahagiaannya karena akhirnya dia memiliki cucu kandung, namun di sisi hati yang satunya lagi, dia seolah tak bisa mempercayai begitu saja.
Mommy mendekati brankar Rafina. Narita bergeser dari kursinya dan menjauh dari brankar. Kini Mommy duduk di kursi yang awalnya diduduki Narita. Dia menatap lekat pada anak cantik berwajah blasteran. Perlahan dia meraih jemari tangan mungil itu. Rafina yang tak begitu paham dengan bahasa Inggris, hanya mampu membalas tatapan mata wanita paruh baya yang merupakan Oma kandungnya.
Mommy mengulas senyum tipis. Untuk beberapa saat, ruangan terasa dingin dan sepi. Hanya terdengar suara youtube dari ponsel yang tengah dimainkan oleh Raffa.
Mommy mencari tau garis wajah anak itu. Sekilas dia melihat ada kemiripan dengan Davis. Rafina memiliki wajah perpaduan kedua orang tuanya. Hidung mancung, kulit putih, rambut blonde, bulu mata lentiknya adalah milik Davis. Sedangkan bibir tipis, mata belo, dagu belah, alis tipis adalah milik Narita.
Mommy membelai lembut jemari tangan mungil Rafina.
“Sayang, aku Oma mu, Nak! Panggil Oma!” Mommy berkata lirih, dengan titik air mata yang sedikit keluar dari sudut matanya.
Dia terharu, tak menyangka, dan sekaligus menyadari bahwa sepertinya dia memang cucu kandungnya. Semakin dipandang, semakin mirip dengan Davis sewaktu kecil. Hatinya teriris karena sempat meragukan hal itu.
Rafina hanya terdiam, namun matanya langsung menatap pada ibunya. Bagi Rafina dan Raffa, kehadiran Papa kandungnya saja sudah merupakan hal yang sulit untuk diterima, apalagi kini ada orang lain lagi yang memintanya memanggil Oma.
Narita menghampiri brankar Rafina dan berdiri di sisi samping, seberang Mommy Davis. Narita memberi kode dengan tersenyum dan mengangguk pada Rafina.
“Oma?” tanya Rafina yang tak paham dengan panggilan itu.
Davis kini menghampiri Mommynya dan mengusap pelan kaki Rafina yang ditutupi selimut.
“Iya Oma. Oma itu mamanya Papa” Davis mencoba menjelaskan.
“Sayang, sekarang Rafina punya Ibu, Papa, Kakek, Nenek, dan Oma” Narita mencoba menyebut satu per satu panggilan yang ada di sana.
“Ada juga Opa dan Opa buyut, nanti kalau mereka sudah gak sibuk, pasti main sama-sama Raffa dan Rafina. Rafina mau kan punya banyak keluarga?” Mommy mencoba melanjutkan penjelasan Narita.
__ADS_1
“Mau, O-o-oma” mendengar panggilan itu, Mommy tersenyum, ada perasaan hangat di dalam dadanya. Meski selama ini, dia sering dipanggil Oma oleh Karen, tapi mengetahui seseorang yang memanggil adalah cucu kandungnya, dia merasakan getaran yang sangat berbeda.
“Rafina masih merasa sakit?” si cantik menggeleng.
“Pusing” Rafina menggeleng kembali.
“Mual?” menggeleng kembali.
“Syukurlah”
“Alhamdullillah. Kata ibu, ini berkat darah Papa. Makasih Pa” Davis tak pelak matanya berkaca-kaca sembari mengangguk. Entah bagaimana jadinya seandainya tidak ada orang yang cocok darahnya dengan Rafina, mungkin dia akan menyesali hal ini seumur hidupnya.
Akhirnya mereka pun larut dalam percakapan penuh keharuan. Rafina yang sudah nampak segar, mampu berceloteh. Raffa pun turut mencerahkan suasana di kamar perawatan itu.
***
“Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?” tanya Mommy pada Davis dan Narita.
Kini mereka bertiga telah duduk di salah satu café di rumah sakit. Setelah kunjungannya dan puas bersendau gurau dengan cucunya, Mommy mengajak mereka berdua untuk berdiskusi.
“Setelah Rafina keluar rumah sakit, aku akan membawa mereka untuk tinggal di apartemen EAST JUNGLE. Kami ingin kembali melanjutkan kehidupan keluarga bersama mereka. Setelah Narita menyelesaikan kuliahnya, aku ingin membawanya kembali ke Indonesia.” Narita hanya terdiam dan mendengar penjelasan Davis, Mommy hanya manggut-manggut.
“Hubungan kami sudah resmi secara agama dan negara, hanya—”
“Hanya apa?”
“Dokumen pernikahan hilang entah di mana, karena sewaktu aku meminta asistenku mengurusnya, dia turut meninggal dalam kecelakaan itu.”
“Itu gampang, tinggal diurus lagi saja! Maksud Mommy, apa kalian tidak ingin resepsi?” kini Mommy menatap Davis dan Narita bergantian.
“Pada awalnya, kami memang dulu merencanakan untuk mengadakan resepsi. Tapi, itu dulu sebelum ada Raffa dan Rafina. Rasa-rasanya kalau sekarang mau resepsi, saya malu, hmmm, Nyonya” Narita mencoba berpendapat.
“Husssttt,,,,Nyonya? Kamu ini menantuku, panggil Mommy!”
“Hmm, iya, Mommy” jawab Narita ragu-ragu dan kagok.
“Davis ikut saja keinginan Narita” ucap Davis selanjutnya.
“Sekarang yang penting, memperkenalkan mereka ke Daddy dan Opa” Mommy nampak manggut-manggut menyetujui pendapat Davis.
__ADS_1
“Hanya saja,,,,Davis ragu, apakah Opa akan merestui kami atau tidak?”
“Mana mungkin tidak merestui kalau sudah ada anak”
“Bisa saja Opa tidak mempercayai kalau si kembar adalah anak kandungku, Mom”
“Hmmm,,,,Narita maaf. Mungkin ucapanku akan membuatmu tersinggung. Hmmm,,,,bagaimana kalau sebelum menghadapi Daddy dan Opa, kalian menyiapkan barang bukti? Hmmm,,,lakukan tes DNA!” Mommy sangat hati-hati mengucapkannya, takut menyinggung Narita.
Dan benar adanya, tiba-tiba Narita murung. Davis yang ada di sampingnya mencoba menguatkannya dengan meraih tangan Narita dan mengusapnya lembut.
“Mom, mereka tak butuh pengakuan. Aku masih bisa memberikan mereka nafkah jika memang harus tetap sendiri”
“Bukan itu maksud Mommy, Na. Tapi—” Mommy langsung terdiam ketika lirikan mata Davis mengartikan sesuatu.
“Sayang, aku hanya ingin bersama kalian, dengan atau tanpa restu Opa. Tolong jangan berfikir ‘tetap sendiri’, jujur aku merasa bersalah telah menelantarkan kalian selama ini, kita harus selalu bersama-sama, Sayang!” ucap Davis kemudian, dia sama sekali tak menyinggung mengenai tes DNA.
“Baiklah kalau memang sebaiknya tes DNA. Silahkan!” ucap Narita kemudian.
“Semua demi kita, Sayang” sebelah tangannya merangkul pundak Narita, sebelah tangannya menggenggam tangan Narita. Namun Narita hanya menunduk menahan air mata yang sudah di ujung pelupuk mata.
------******-------
Beberapa episode lagi akan TAMAT, semoga para readers menikmati novel perdanaku. Maaf yaa, aku selalu telat update, karena kesibukan jadi kurang mendapat inspirasi. Next time mau buat Novel yang sederhana aja, yang tidak sampai 100 episode. Kalau kepanjangan kok kaya capek fokusnya yaaa,,,,
Mohon doanya yaa para readers tercinta, semoga akum akin banyak belajar lagi untuk menulis, biar novelnya makin seru dan asyik dibacanya.
Dan jangan lupa untuk mampir di Novel keduaku dengan judul “ENGKAULAH PELABUHAN TERAKHIRKU”
Jangan lupa dukungannya ya : SUKA, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE
__ADS_1
Terima kasih