
DAVE POV
Hari ini adalah pertama kalinya dalam sejarah hubunganku dengan Karen, kami pergi berjalan-jalan ‘just for fun’. Aku tau Karen anak yang sangat baik dan pengertian, meskipun dia masih kecil, tapi dia selalu menjadi anak yang penurut dan tidak banyak menuntut.
Begitu pun halnya hari ini, dia nampak girang ketika aku mengajaknya jalan-jalan dan nanny nya bersedia menemaninya.
Tanpa janjian, kami mengenakan baju dengan tema dan warna senada. Meski ada rasa sedikit unik di hati, tapi aku berusaha bersikap biasa saja. Sungguh lucunya kami, seolah kami adalah satu keluarga seutuhnya.
Narita memang sangat tanggung jawab. Kulihat dia hanya membawa diaper bag khusus untuk keperluan Karen, mana tas nya nampak besar dan berat pula. Dia cekatan sekali. Baru saja mobil berhenti, dia sudah langsung keluar dan mempersiapkan stroller dan kelengkapan untuk Karen. Saat aku sudah keluar mobil dan hendak membuka pintu di baris kedua untuk menggendong Karen, kulirik dia yang kini tengah sibuk dan keberatan menggendong tas besar itu di pundaknya.
‘Astaghfirullah’ gak tega aku melihatnya. Badan kecil dan kurus, menggendong tas sebesar itu sementara tangannya mendorong stroller. Tenaganya sungguh luar biasa. Siapa sangka wanita yang tak memikirkan gengsi ini adalah mahasiswa penerima beasiswa S3 Universitas ternama di Inggris.
Akhirnya kuputuskan untuk menggendong Karen, biarlah stroller itu digunakannya untuk meletakkan tas berat itu.
Entah kenapa aku sengaja membuatnya kesal dan sangat suka melihat ekspresi ‘kesal’ nya. Lucu. Hingga membuatku semakin ingin membuatnya kesal.
Demi melancarkan aktingku, aku harus pura-pura ketus dan cuek, padahal aslinya di belakang dia, aku tertawa tanpa bersuara.
__ADS_1
Pertama yang kami datangi adalah area bermain anak. Ini adalah pertama kalinya Karen keluar rumah dan bermain, dia sungguh happy. Senyumnya selalu tersungging di wajah manisnya, tawanya selalu menghiasi dan meramaikan suasana. Anak-anak yang tak saling mengenal, bisa bermain bersama seolah mereka telah lama berteman.
Kami berdua menemaninya masuk ke area. Sesekali dia yang mendampingi dan seringnya aku yang mendampingi. Setiap kali ada kesempatan, aku selalu membidikkan kamera handphone ke arah Karen. Melihatnya tertawa bahagia seperti itu, sungguh aku merasa bersalah karena selama ini telah mengabaikannya. Dia hanya korban dari kesalahan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
“Dad, aku capek tapi bahagia” Saat aku duduk menunggunya bermain, dia tiba-tiba berlari mendekatiku dan bergelayut manja memeluk kakiku.
Seolah menemukan oase di tengah padang pasir, hatiku berdesir mendengar dia berkata demikian dan menerima perlakuan manjanya. Aku membelai rambutnya pelan lalu mengangkatnya dan membawanya ke pangkuanku.
“Karen mau susu atau air putih?” Narita yang berada di sebelahku menggeser badannya dan mencondongkan ke depan dengan kepala menghadap ke Karen yang ada di pangkuanku. Dia memang keibuan dan sangat pengertian.
“Susu” jawab Karen lalu Narita segera membuatkan susu untuknya.
Aku memperhatikan gerak gerik Narita. Owh Tuhan, ternyata benar, tas itu tak hanya besar tapi juga berat karena di dalamnya ada air putih hangat setermos kecil, air putih biasa sebotol bervolume 800ml, susu bubuk yang sudah ditempatkannya di beberapa botol, camilan, makanan, diaper, baju ganti, handuk, peralatan mandi dan bedak, dan masih banyak lagi yang tak bisa secara jelas kulihat.
“Anda mana tau kebutuhan anak-anak! Kalau satu saja barang yang ada di tas ini tertinggal di rumah, sudah pasti Anda akan lebih marah padaku” Narita membalas kata-kataku dengan nada sedikit ketus.
Ahh ini yang membuatku penasaran. Makin tertantang.
__ADS_1
“Tinggal beli aja, apa susahnya? Semua yang ada di dalam tas mu ada di mall ini kok!” Narita melirikku sekilas lalu menyerahkan botol susunya ke Karen. Dia memilih tak menjawabnya, dia malah mengacuhkanku dengan menatap handphonenya.
“Lagipula gak modis banget sie, jalan-jalan ke mall malah bawa barang segambreng. Belum tentu juga matching dengan tema baju kita. Kalau difoto malah bukan kaya jalan-jalan ke mall tapi seperti orang pulang kampung” dari ekor mataku dia mulai bersungut-sungut meskipun tak menanggapinya dengan sepatah kata pun. Kalau tidak kutahan, aku sudah pasti tertawa terpingkal-pingkal.
Narita….Narita….---pikirku
NARITA POV
Tuan Dave selalu protes dengan berkata ketus kalau aku berjalan di belakangnya. Dia selalu menyuruhku berjalan di sampingnya, tak boleh jauh darinya. Dia menggendong Karen sementara aku mendorong stroller.
Bagiku, ke mall kali bukan jalan-jalan tapi kerja, sehingga aku sama sekali tak menikmati moment window shopping, padahal inginku memegang baju dan tas yang tepasang di etalase.
Sesekali aku menoleh ke sampingku meskipun mendongak. Tuan Dave yang kupikir sangat cuek, ternyata bisa melontarkan candaan dan godaan ke Karen, bahkan sesekali dia mengecup sekilas pipi Karen, sementara tangan Karen memeluk manja di leher Dave.
Melihat keromantisan mereka, mengingatkanku pada Daffa dan Dafina. Apakah mereka di sana mendapatkan kasih sayang seorang ayah meskipun mendapatkan sosok ayah dari kakeknya? Apakah dia akan mempertanyakan mengenai keutuhan keluarganya? Ahh, ini kenapa tiba-tiba mataku buram, air sudah mengumpul dan siap berjatuhan. Aku berjalan sambil melamun.
Kami telah melewati beberapa butik yang menjual pakaian khusus pria. Aku pikir, dia kemari ingin membeli dasi, namun kenapa tidak mencoba koleksi di butik itu? Mau berapa jauh lagi kami berjalan?
Sampai akhirnya tibalah kami pada sebuah arena bermain khusus anak-anak. Saat aku melihat dia hendak menuju ke petugas ticketing, aku sengaja duduk di kursi sofa tak jau dari sana untuk menunggu mereka bertransaksi. Dia menurunkan Karen lalu berbicang dengan seseorang di bagian ticketing. Dia mengeluarkan dompetnya lalu memberikan sejumlah uang ke petugas tersebut.
__ADS_1
Setelahnya, dia kembali menggandeng tangan mungil Karen dan mendekatiku “Ayo!”. Ishhh lagi dan lagi, meskipun hanya mengeluarkan satu kata, tapi terdengar menyebalkan di telingaku.
Aku pun akhirnya mengikuti masuk ke dalam area. Secara bergantian kami menjaga dan menemaninya bermain.