
“Kak Na?” Davis terkaget ketika yang membukakan pintu kamar adalah Narita.
Lalu Alin nyelonong masuk ke kamar dan spontan badan Daviis tergeser dan begitu pun Narita, lalu berteriak “Sayang, aku gak mau tidur di sini, tempat tidur cuma ada 2, masa aku sharing kasur?”.
“Hufh, loe kalo gak mau sharing kamar, sharing tempat tidur, jangan pernah ikut gue ikut tour lagi!” kesal Davis dengan suara geram masih di luar kamar karena tak berani masuk kamar, menjaga privacy kamar cewek.
Narita melipat tangan di depan dada memperhatikan Alin dan Davis bergantian.
“Yaudah terpaksa!” Alin dengan suara malas dan muka cemberut lalu menghampiri Davis dan merebut ranselnya dari tangan Davis.
“Kak Na, kabarin ya kalau mau makan!” kata Davis kemudian menatap Narita lalu membalikkan badan untuk pergi.
“Hmm” jawab Narita malas dan menutup pintu.
“Gue tidur di mana?” tanya Alin pada Narita, Sriti, dan Silvi secara bergantian dengan nada bicara yang tidak menunjukkan kesopanan sama sekali.
“Loe bareng gue!” jawab Silvi malas.
Lalu Alin meletakkan ranselnya di lantai samping tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya. Sementara itu Narita, Sriti, dan Silvi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis muda itu.
“Kita belum kenalan, tadi aku datang terlambat” Narita mendekat ke Alin lalu mengulurkan tangannya.
Alin bangun dari posisi tidurnya “Alin, pacar Davis” menyambut uluran tangan Narita.
“Narita” lalu melepas salamannya, bergantian dengan Sriti mengulurkan tangan dan berkata “Sriti”.
“Alin” menyambut tangan Sriti tanpa senyum sama sekali. Lalu Alin kembali rebahan.
“Sudah berapa lama pacarana sama Davis?” tanya Silvi karena dia cukup mengenal Davis, setau dia Davis selalu bilang jomblo.
“Dari sejak kecil kami sudah dijodohin sama orang tua kami” jawab Alin yang masih dalam posisi rebahan.
Silvi cukup tersenyum kecut mendengar jawaban itu, karena menurutnya itu bukan jawaban yang tepat atas pertanyaannya. Sedangkan Sriti dan Narita kurang suka dengan sikap dan nada bicara angkuh Alin. Narita dan Sriti hampir bersamaan merebahkan tubuh mereka lalu memainkan hp nya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Silvi mengumumkan melalui pesan kepada peserta tour untuk berkumpul di ruang utama karena nasi box makan siang mereka telah tersedia di sana. Davis berkirim pesan dengan Narita.
Davis : Kak, mau makan sekarangkah?
Narita : Iya. Nie mau keluar kamar.
Davis : OK. Tunggu aku ya 😉
Tanpa menunggu teman sekamarnya, Davis bergegas keluar kamar. Dilihatnya Narita sudah di ruang utama, duduk di lantai dan memegang nasi boxnya. Davis tersenyum dan segera duduk di samping kanan Narita, karena posisi sebelah kiri Narita sudah sudah ada Sriti. Davis berdoa lalu mulai menyuapi makanannya.
“Hmm enaknya, makanan terasa nikmat kalau dimakan di sebelahmu” lirik Davis pada Narita lalu tersenyum.
Ya Tuhan, lirikan matanya, senyumannya!! Apa yang gak indah darimu Vis? – batin Narita dan tersenyum.
“Alin mana?” tanya Davis sembari mengunyah makanannya.
“Tidur” jawab Narita sembari mengunyah makanannya dan menatap nasi boxnya karena malas Davis membahas Alin.
Beberapa peserta tour juga sudah berkumpul untuk memakan nasi boxnya. Sudah terdengar riuh suara mereka bersendau gurau. Begitupun dengan Silvi yang tiba-tiba berbicara sedikit kencang dengan mata memandang ke arah Davis “Vis, loe gak bangunin pacar loe buat makan tuh?”. Spontan Davis tersedak, dan meraih air mineral gelas milik Narita dan meminumnya.
“Sorry, sorry Kak. Kak Na minum airku ya, ini belum aku buka kok!” Davis meletakkan air mineral gelasnya ke depan Narita.
“Biarin dia tidur Kak, Sil. Capek barangkali” jawab Davis.
Tepat pukul 15.00, mereka telah berkumpul di depan cottage. Di sana pula telah tersedia berbagai jenis sepeda.
“Sayang, gue nebeng loe ya!” pinta Alin pada Davis sudah dengan posisi duduk di dudukan belakang sepeda Davis. Davis pun dengan terpaksa mengiyakan. Sepersekian detik setelah Alin berkata begitu, Davis melirik pada Narita dan terlihat Narita seperti tak memperhatikan interaksi Davis dan Alin.
Kak Na, apa dia sama sekali gak ada perasaan sama aku? Apa dia tak paham dengan perhatian-perhatianku selama ini? Apa dia gak tau kalau aku selama 3 minggu ini pedekate dengannya? Bahkan aku bela-belain ikut tour ini pun demi bisa menikmati waktu bersamanya padahal ujian masuk perguruan tinggi bentar lagi, seharusnya aku lebih memprioritaskan untuk itu daripada sekedar jalan-jalan begini. Tapi kenapa Kak Na terkesan acuh? – Davis hanya bisa bertanya dalam hati atas apa yang dirasakannya.
NARITA POV
Jujur aku ingin rasanya keluar dari situasi tidak nyaman ini. Aku gak suka dengan sikap Davis memperlakukan Alin. Aku berusaha bersikap santai, biasa, dan seolah hatiku tak bergejolak melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
Selama ini, aku berusaha menjaga hatiku agar tidak jatuh hati padanya. Aku berusaha melawan perasaanku di saat dia memberikanku perhatian, memedulikanku, bersikap manja padaku. Namun aku kembali jatuh dan jatuh hati pada saat dia tersenyum padaku. Pesonanya benar-benar tak bisa kutolak.
Aku tau ini hal bodoh dan konyol yang pernah aku lakukan. Menyukai seorang abege yang lebih tepat dan cocok menjadi adikku, ya karena memang seumuran adikku. Bahkan prinsip-prinsipku demi membentengi hatiku agar tidak jatuh hati pada sembarangan pria, telah runtuh olehnya. Ya,,,karena aku saat ini bukan hanya sekedar mencari pacar tapi mencari pendamping hidup.
Prinsipku yaitu aku tidak ingin jatuh hati pada seseorang yang:
1. Tak seiman
2. Berusia lebih muda dariku. Karena biasanya lebih muda cenderung slengekan, kurang dewasa, dan masih suka main-main dalam segala hal/kurang serius.
3. Berwajah terlalu tampan yang bakal membuatku sering cemburu karena dia banyak diidolakan cewek-cewek.
4. Berkulit putih. Karena dia akan terlihat shiny dan aku gelap.
5. Pendidikan dan penghasilan yang belum jelas, bukan karena matre tapi lebih kepada kesiapan seseorang untuk menafkahi secara lahir keluarganya.
6. Tak setia, tak baik, blaa blaa blaa yang gak baik-baik deh pokokknya
Namun apa yang terjadi dengan hatiku ketika berdekatan dengan Davis??
Tak mampu aku menahan debar jantungku, bahkan hanya dengan melihat pesan yang dia kirim, aku senang banget banget banget. Sedangkan Davis? Jelas-jelas dia cerminan dari point satu sampai dengan lima. Tapi kenapaaaa dengan hatiku masih mengarah padanya?
Dan sekarang? apa ini namanya? Cemburukah?
Sungguh aku tidak suka ketika Davis tak menampik pernyataan bahwa dia dan Alin pacaran.
Davis terlihat enjoy dengan panggilan Sayang.
Davis terlihat perhatian dan sayang Alin. Dia bisa bersikap sangat khawatir dan lembut ketika Alin muntah-muntah.
Apakah itu artinya aku salah mengartikan sikap dan perhatiannya selama ini?
Apa itu artinya memang dia selalu memperlakukan cewek dengan sebaik dan selembut itu?
__ADS_1
Apa dia tipe cowok playboy yang dengan mudahnya membuat cewek Baper?
Dannnnn apakah hanya aku yang memiliki perasaan ini? Rasaku sendiri?