CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
DADDY KAREN 2


__ADS_3

NARITA POV


 


Dengan sangat detail, aku mendengar semua yang dikatakan oleh lelaki yang sepertinya adalah Daddy Karen tersebut. Kata-kata yang sangat lembut, diselingi dengan suara elusan tangan entah di badan atau rambut Karen menunjukkan bahwa Daddy Karen adalah sosok yang penyayang dan perhatian pada anaknya.


Awalnya mendengar cerita orang-orang bahwa sosok tuan besar adalah sosok yang menakutkan, yang hanya mendengar ceritanya saja sudah merinding, ditambah lagi selama aku bekerja di sini, tak satupun anggota keluarga utama yang nampak di sana dan memberikan perhatiannya pada seorang anak kecil Karen. Seperti inikah kehidupan anak orang kaya?


Karen bagaikan burung dalam sangkar emas. Hidupnya bergelimang harta, tak kurang suatu apapun, namun terasa hampa karena seolah tak ada anggota keluarganya yang menyayangi dan memperhatikannya. Itulah yang membuat kami lebih cepat akrab dan dekat secara hati.


Owh ya, kalau tidak salah dengar tadi Daddy Karen menyebut namaku? Berarti dia cukup menghafal seseorang yang dekat dengan anaknya. Untuk ukuran orang penting yang super sibuk bisa menghafal nama orang lain yang bukan siapa-siapanya, hanya karena dekat dengan anaknya, sungguh membuatku takjub.


Setelah beberapa saat, terdengar suara pintu tertutup kembali dan suasana kembali hening. Aku beryukur, itu artinya malam ini Karen istirahat dengan tenang. Aku pun yang sudah mulai merebahkan badan hanya dalam beberapa menit sudah tertidur lelap.


Keesokan harinya, aku terbangun karena suara adzan dari ponselku. Kali ini aku ingin memastikan apakah ada adzan subuh juga yang di dikumandangkan speaker luar kamar. Dan ternyata setelah kubuka pintu kamar, aku mendengar dengan jelas suara adzan itu kembali. Dengan seksama aku mendengarkan suara adzan yang beberapa bulan ini jarang aku dengar langsung seperti saat ini. Sepertinya yang melakukan adzan kali ini berbeda dengan yang kemaren adzan, berarti minimal 3 orang yang muslim di rumah ini. Usai adzan dikumandangkan, ada pengumuman seperti kemaren.


Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, aku segera masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, sikat gigi, dan wudlu. Aku segera memakai mukena dan tak lupa membawa ipad karena ingin membaca Al Qura’an dari aplikasi di Ipad.


Seperti biasa, di shaf wanita hanya ada aku, tapi terdengar sayup-sayup di shaf pria terdapat beberapa orang. Alhamdullillah, rasanya turut bahagia dan damai memiliki saudara seiman yang berada di dalam satu lingkungan bahkan satu rumah.


Usai menjalankan Shalat berjamaah, segera aku membuka ipad dan membaca Al Qur’an. Hanya 30 menit aku melantunkan ayat Al Qur’an, setelah itu aku kembali ke rumah utama dan menuju lantai 2. Sebelum masuk ke kamarku sendiri, aku masuk ke kamar Karen untuk melihat keadaannya. Ternyata Karen masih tertidur dengan pulas, aku pun menutup pintu dan kembali masuk ke kamarku.


Usai membereskan kamar tidur, aku segera menuju dapur di Pavilliun 101, aku bersiap untuk menyiapkan makanan untuk Karen dan makanan untuk diriku sendiri. Bekerja di sini, kami semua telah difasilitasi tempat tinggal dan berbagai bahan makanan, namun ketika aku membuka kulkas, hanya tersedia bahan makanan ala makanan barat. Aku pun dengan terpaksa mengambil bahan seadanya untuk membuat menu makanan sesuai lidahku. Ya, sebenarnya kami sudah disediakan makanan jadi sebagaimana makanan yang telah dimasak oleh Chef, namun selama ini tak memenuhi ekspektasiku maklumlah meskipun aku di Australia tapi masih lidah Indonesia.

__ADS_1


“Hai, Na. Sudah ada di sini aja” tiba-tiba Leni sudah berdiri di belakangku dengan memandang makanan yang tengah kumasak.


“Astaghfirullah, mengagetkan saja! Iya, tadinya aku mau masak makanan Indonesia, tapi sepertinya bahan-bahannya tidak terrsedia, jadi masak seadanya aja yang penting sesuai lidahku”


“Sepertinya enak, boleh aku minta?” Leni yang notabene adalah orang asli Aussie, sangat to the point ketika mengungkapkan segala sesuatunya.


“Oke. Nanti aku buatin”


“Gimana? Semalem jadi ke Little Of Al Aqsha?” tanya Leni sembari mendudukkan tubuhnya di kursi ala bar.


“Jadi. Aku baru tau ternyata ada musholla kecil di sini. Tak pernah kubayangkan sebelumnya kalau di rumah ini aku memiliki saudara seiman. Tak hanya ibadah malam, tapi ibadah pagi tadi aku juga ke sana. Seneng banget rasanya”


“Baguslah. Kalian ibadah sehari 2x ya?” tanya Leni lagi.


“Suara panggilan ibadahnya kok cuma sehari 2x?”


“Owh, aku juga kurang tau. Barangkali yang memimpin ibadah kalau siang tidak ada di rumah, jadi dia tidak adzan dan memanggil untuk ibadah berjamaah” Leni yang paham akhirnya hanya manggut-manggut saja. 


Ketika makanan telah selesai kumasak, segera kusajikan di meja makan. Aku dan Leni yang tengah makan, tiba-tiba beberapa asisten yang lain mendatangi kami dan turut memakan masakanku. Masakan ala eropa dengan taste asia.


Aku sempet mengatakan bahwa ingin membeli stock sayuran, dan atas pendapat beberapa asisten, mereka menyarankanku berkebun sayur-sayuran di kebun paling belakang yang selama ini tak pernah terjamah, bahkan hanya ditumbuhin rerumputan dan ilalang. Aktifitas hari ini kujalani seperti hari-hari sebelumnya.


 

__ADS_1


DADDY KAREN POV


--- Kantor---


Pekerjaan yang seolah tak ada habisnya menuntutku untuk bekerja tanpa mengenal waktu. Berangkat pagi hari sebelum Karen bangun, dan pulang setelah Karen tidur. Aku jarang sekali bisa bertemu dengannya bahkan saat hari libur pun.


Drake mengatakan bahwa Karen selalu rewel ketika pergantian nanny, dia tak mau bersama nanny lain selain yang bernama Narita. Bagiku memberikan semua apa yang menjadi kebutuhan dan kebahagiaan Karen adalah tugas yang harus aku jalankan karena Karen adalah amanah bagiku. Mengingat Karen sangat menginginkan selalu bersama nanny Narita, Drake kuminta untuk membujuknya agar mau menjadi nanny Karen selama 24 jam full.


Kali ini aku merenung hanya memikirkan seorang nanny bagi Karen. NARITA. Seperti apakah dia? Kenapa dia bisa begitu mudah mengambil hati Karen? Setulus itukah dia menyayangi Karen?


Terlebih lagi, NARITA adalah penerima beasiswa S3 dari Indonesia. Pertama kali mendengarnya saja sudah membuatku berdecak kagum. Lalu untuk apa dia menjadi nanny kalau dia calon PhD?


Kebiasaanku ketika merenung adalah mengetuk-ngetukkan pulsen di atas meja kerjaku, dengan tatapan mata kosong meskipun seolah memandang laptop yang terbuka.


“Mr. Bagaimana dengan pendapat saya?” seseorang didepanku telah membangunkanku dari lamunan.


“Hah? Bagaimana Teddy? Maaf aku sedang tidak fokus” aku terbata-bata karena menyadari sama sekali tak memperhatikan apa yang tadi dikatakan Teddy, aku malah larut dalam dunia lamunanku sendiri.


Kulihat Teddy menghela nafas panjang lalu berkata “Mr dan Mrs Dawson mengusulkan mau mengadakan gathering ke villa di pegunungan, kalau saya pada prinsipnya tidak masalah tapi saya mengusulkan kita mengundang wartawan untuk peliputan acara. Sebagai ajang memberikan citra perusahaan ke publik”


“Owh, itu acara ulang tahun perusahaan ya?” tanyaku lagi, aku masih sedikit belum nyambung.


“Iya, Mr. Kita masih ada waktu 3 bulan lagi untuk mempersiapkannya”

__ADS_1


“Iya nanti kita bahas lagi. Ted, gimana kabar adikku?”


__ADS_2