CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) DIA TIDAK SUKA


__ADS_3

"Guys, jangan lupa siapin baju ganti juga ya?!” ujarku saat Sherly dan Mirna beberes barangnya di kamarku.


“Lah, buat apa?” Sherly yang sedang membongkar isi kopernya menoleh ke arahku.


“Entahlah! Big bos tadi yang nyuruh!” aku menaik turunkan bahuku.


“Yaudah ikutin aja deh” seru Mirna kemudian.


Aku pun kembali membuka ponselku dan berniat mengabarkannya ke Daniel melalui wa.


Aku : Niel, tolong bilangin ke para pria, nanti jangan lupa bawa baju ganti!


Daniel : Lha kan cuma tinjau lokasi, bukan mau main air di pantai 🧐


Aku : Big bos yang nyuruh! 🤨


Daniel : 👍


Pada waktu yang telah dijadwalkan kami kembali berkumpul ke bagian resepsionis untuk selanjutnya berangkat bersama-sama menuju lokasi 1. Ya, kami memang akan mengunjungi 4 lokasi yang berbeda di daerah yang sama.


“Sudah tersedia 2 mobil, yang 1 mobil Mr. Dav nanti akan diisi Mr. Dav, saya, dan Bu Narita. Yang lain nanti naik mobil 1 lagi” ujar Rio membuatku kaget dan membelalakkan mata ke arahnya.


Mengetahui ekspresiku yang kurang begitu suka, Davis berkata tegas namun terkesan ketus “Aku mau meminta pertanggungjawaban usulan project darinya” tatapan matanya tajam ke arahku. Aku pun hanya bisa menunduk lemah.


Saat kami berjalan ke parkiran menuju mobil, Sherly menyenggol-nyenggol lenganku dengan lengannya, aku menoleh ke wajahnya dan dia pun mengerutkan dahinya seolah berkata ada hubungan apa kau dan dia?. Aku yang sangat paham dengan bahasa tubuhnya hanya menggeleng dan berdecak malas. Dia pun kembali menggeleng dan berdecak seolah tak percaya dengan pernyataanku yang kusampaikan lewat bahasa tubuhku.


Aku heran kenapa Sherly salah paham hanya gara-gara aku diminta semobil dengan Mr. Dav. Jelas-jelas kan tadi apa alasannya.


Setelah tiba di mobil, secepat mungkin aku membuka pintu depan untuk kursi penumpang, namun tiba-tiba suara Rio mengagetkanku “Terima kasih” belum sempat aku masuk, dia sudah menggeser badanku dengan paksa dan dia pun masuk ke mobil.


Dengan wajah malas akhirnya aku membuka pintu belakang dan masuk. 


“Kamu keberatan semobil denganku!” ucap Davis dengan pandangan menatap layar ipadnya.


“Gak” jawabku singkat namun pelan.


“Lalu kenapa menghela nafas panjang gitu, seolah gak nyaman semobil denganku?” dengan suara lebih halus, dia sudah menatapku dan aku langsung menunduk sungkan.


“Di sini cuma ada kita, santai aja Na!” dia kembali bersuara lembut seolah berbeda dengan Davis yang beberapa menit lalu berbicara ketus.


“Kok kamu yang sekarang beda dengan yang tadi? Aku bingung!”


“Gak usah bingung!”

__ADS_1


“Kalau kamu jadi kaya yang tadi, jujur aku takut dan gak nyaman!”


“Habisnya kamu yang bikin aku sebel!” Davis masih menatapku.


“Sebel sama siapa? Kami gak melakukan kesalahan!” bela ku dan aku memberanikan diri menatapnya.


“Pokoknya ada yang bikin aku sebel, gak suka, dan marah!” dia melempar pandangan ke luar jendela.


“Ya apa itu? Kami akan perbaiki kesalahannya!” aku mendesaknya.


“Udah gak usah dibahas lagi!” dia masih menatap luar jendela dan tangan kanannya digoyangkan ke kanan dan ke kiri. Aku pun memilih diam.


Sesaat kemudian terdengar bunyi ponsel, lalu Rio mengangkatnya “Hallo”


“Sebentar”


“Mr. Dav. Jess mau bicara---“ Rio belum selesai berbicara, namun segera disela Davis “Mana ponselnya!”


“Ya, ada apa Jess?” tanyanya bernada lembut berbicara dengan seseorang di seberang sana.


“Survey ke lokasi”


“Ngapain?”


“Bentaran juga aku balik!”


“Terserah!”


“Ok, Bye!” itulah potongan-potongan pembicaraan Davis dengan Jess yang kudengar.


Sorry ya aku tak berniat curi dengar tapi memang terdengar jelas.


“Rio, kabarin resepsionis untuk memberikan kunci cadangan kamarku ke Jess!” kata Davis sembari mengembalikan ponsel Rio.


“Baik, Mr!” jawab Rio.


Aku kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan Davis. Sejauh itukah hubungan mereka? Kenapa begitu tak tau malunya Davis mengijinkan Jess masuk ke kamarnya? Apa Davis tak menghiraukan pandangan orang yang melihat mereka sekamar? Oke baik, mereka memang aliran barat, tapi mereka kan sedang di negara dengan adat istiadat timur, harusnya mereka berusaha menjaga diri!


Ahhh kenapa juga aku harus mempedulikan hal begini –aku pun melamun.


Suasana kembali hening. Namun tak lama kemudian, ada bunyi wa masuk ke ponselku, dan segera kubuka.


Daniel : r u ok?

__ADS_1


Aku : yess, sure. 😉


Daniel : Usulan project nya dibantaikah?


Aku : belum dia bahas


Daniel : lha kalau gitu ngobrolin apaan sudah selama ini?


Aku : diam. Sunyi. Senyap. Kaya di kuburan. 😴


Daniel : 🤣


Daniel : Ya udah kamu ramein aja, biar kaya pasar!


Aku : Aih,,sungkan euy. Harusnya kamu Niel yang semobil sama dia.


Daniel : Aku bersyukur ya dia memilihmu 😂🤣😅


 


“Sialan” umpatku pelan. Tanpa kusadari Davis menoleh ke arahku dengan tatapan tajamnya.


“Maaf” aku pun berusaha meminta maaf dan kembali menunduk.


“Na, kenapa aku ngerasa kamu beda ya?” Davis memandangku sangat lekat.


“Kamu juga beda Mr!”


“Gak usah pake Mr kalau sedang berdua!”


“EHEMMM…” Rio dan sopir kami secara bersamaan berdehem.


“Maksudku kalau sedang tidak ada orang kantor lainnya” sambung Davis kemudian menyadari kesalahan kata-katanya sebelumnya. 


“Iya baik” jawabku singkat.


“Dulu kamu asyik diajak ngobrol!”


“Apa kamu sedang dekat dengan seseorang, jadi risih berdekatan denganku?” Davis menelisik melalui mataku.


 


Aku melempar pandangan ke depan, seolah memperhatikan jalanan yang ada di depanku.

__ADS_1


__ADS_2