CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
NYANYIAN PILU 2


__ADS_3

DAVIS POV


 


Pagi hari ini, usai Sholat Subuh, aku berusaha menyibukkan diri dan membuat tubuhku lelah. Masih terngiang di otakku bagaimana kemaren Jess memintaku untuk menikahinya. Aku tak memahami hatiku, kenapa aku tak pernah bisa menolak sentuhannya namun aku ragu untuk bergerak mendekat, aku ragu untuk meresmikan hubungan kami.


Sungguh ini tak adil untuknya. Aku teringat, betapa Jess telah mendampingiku dan sabar menungguku, sabar menunggu hatiku menerimanya. Bahkan ketika aku terbangun dari mimpi panjangku, dia adalah seseorang yang ada di pandangan pertamaku. Tapi kenapa hatiku selalu meragu dan meragu, seolah hati ini telah terisi seseorang yang lain.


Aku belum berani memberinya kepastian, meskipun keinginannya seolah membuatku terdesak. Terlalu banyak kegalauan hingga membuat otakku serasa penuh dan penat.


Jess pun sepertinya kecewa karena aku tak kunjung memberinya keputusan. Sejak semalam dia mengacuhkanku, menghindariku. Biasanya dia menyambutku pulang kantor, bersikap manja, dan mengajakku mengobrol menjelang tidur. Tapi tidak untuk semalam.


Dia sama sekali tak mengunjungi kamarku, ketika kuketuk kamarnya, dia tak menyaut. Dia memilih sarapan pagi di kamar. Tanpa pemberitahuan, dia pergi keluar rumah siang ini.


Entah kenapa, ada sedikit rasa bersalah padanya, tapi rasanya berat hatiku untuk berkata ‘Yess I want’.


Aku menyibukkan hati, pikiran, dan fisikku dengan berolah raga. Di mulai dengan berenang. Saat tengah melakukan peregangan, aku merasakan seseorang tengah menatapku. Benar. Dia menatapku dalam diam.


Perasaan aneh bergelayut ketika tatapan mata kami bertemu. Aku merasakan seolah kami memiliki ikatan. Meskipun kami berdiri dalam posisi yang cukup jauh, tapi tatapan matanya seolah menusuk jantungku hingga membuat jantungku tiba-tiba berhenti berdetak dalam beberapa saat lamanya.


Mata belo berwarna coklat, jilbabnya yang selalu melambai tertiup angin seolah menambah keanggunannya, tubuhnya yang tertutupi baju longgar bukannya membuatnya tak menarik namun justru membuat para pria penasaran, tutur bicaranya yang tenang, sopan, namun terkesan smart, ditambah lagi sikapnya menghormati kodrat dirinya sebagai wanita yang justru selalu membuat laki-laki berusaha menghormatinya adalah pesona seorang Narita.


Namun kenapa dirinya seolah tertutup dan tak terusik?


Dari tatapannya seolah dia mengenalku, namun kenapa tak pernah mengatakan apapun?

__ADS_1


Apakah dia seseorang dari masa laluku?


Atau jangan-jangan dia tak mengetahui kondisiku saat ini??


Saat menatapnya, kami sibuk dengan lamunan masing-masing. Hingga akhirnya dia tiba-tiba berjalan cepat, menjauh dariku, dan menghilang dibalik tembok pavilliun. Ingin rasanya berteriak memanggil namanya, namun bibirku terasa kelu.


Aku hanya bisa menghela nafas kasar menyadari betapa b**ohnya aku. Kenapa aku ikut terdiam ketika dia diam. Kalau aku gak berusaha menanyakan apa yang menjadi ganjalan di hatiku?


Bagaimana pertanyaanku akan terjawab?


Demi mendinginkan otakku, segera aku menceburkan diri di air.


BYURRR


Satu jam sudah aku berenang bolak balik sampai lelah. Kutengok jam yang melekat di pergelangan tanganku. Pantas saja perutku sudah keroncongan, ternyata selain aktifitas berenang sejam yang cukup menguras tenaga, memang sudah waktunya untuk sarapan. Aku segera menepi dan naik ke atas. Dengan aliran sisa air yang masih mengalir dari tubuhku, aku menyekanya dengan handuk lalu usai kering segera kupakai jubah mandiku.


Akhirnya kuputuskan pergi dari sana, segera kembali untuk membersihkan diri. Setelahnya aku pun kembali ke meja makan. Kini di meja makan telah berkumpul, kak Dave, Drake, Karen dan Narita yang sudah sibuk membantu Karen makan. Suasana masih tenang tanpa suara, meskipun aku datang, mereka semua masih makan dalam diam, hanya ada suara dentingan bertemunya sendok, garpu, dan piring.


“Hai cantik, pintar sekali makanmu” sapaku ke Karen, suaraku tiba-tiba memecahkan kesunyian, semua kini menatapku dan Karen secara bergantian. Ditatap mereka semua, aku hanya nyengir.


“Kau tak ajak Jess makan di sini?” kak Dave yang menyadari ucapanku tadi hanya basa-basi kini beralih tema yang lain, aku hanya menjawabnya dengan menaikkan kedua bahuku.


“Dia tadi sudah memintaku membawakan sandwich ke kamarnya” sambung Drake.


“Na, apa aktifitas Karen weekend ini?” tanya kak Dave mengenai aktifitas Karen.

__ADS_1


“Tidak ada” jawabnya singkat, dan hanya diangguki kak Dave seolah dia memahami.


Usai sarapan, kami kembali ke kamar masing-masing. Acara sarapan kali ini Ali sudah tak terlihat, padahal tapi sholat Subuh kami masih bertemu.


Aku malas untuk mendatangi Jess di kamarnya, beberapa kali Jess mengajakku masuk ke kamarnya, itu akan membuat orang berasumsi macam-macam pada kami. Meskipun di sini orang cenderung tak peduli, entah kenapa aku sangat terganggu apabila Narita salah sangka.


Akhirnya karena bosan tanpa aktifitas apapun di kamar, aku segera mengganti bajuku dengan celana olah raga potongan pendek dan baju olah raga tanpa lengah. Aku menuju ruang gym yang berada di lantai 3, di area kamar kak Dave.


Untuk beberapa saat kami berdua ngegym bersama. Sesekali dia mengajakku ngobrol. Tumben sekali dia bisa seramah ini denganku. Aku seolah tak mengenal sosoknya yang sekarang. Apakah ada seseorang yang membuatnya berubah menjadi seperti saat ini? Hebat pikirku!


Apalagi saat dia menanyakan padaku “Kau sedang ada masalah?”, sungguh ini bukanlah kak Dave yang dulu. Sepertinya dia sekarang lebih bisa membuka hati untuk sekedar berbicara.


Pikirku, apa salahnya berusaha mengakrabkan diri dengannya. Aku merangkulnya dan mengikuti langkahnya, hingga kami terhenti saat mendengar seseorang bernyanyi lagu sendu.


Rangkulanku segera kulepas, kami saling menatap. Siapakah seseorang yang bernyanyi dengan bagus dan penuh penghayatan itu? Ditambah lagi, berani sekali dia karaoke ketika hari libur dan semua tuannya beristirahat di rumah. Apakah dia tak takut kena marah atau omel karena suaranya memecahkan kesunyian suasana rumah. Aku sangat mengenal kak Dave seperti apa. Dia selalu menginginkan rumah dalam suasana sunyi. Dia tak menyukai keramaian.


Kak Dave melangkahkan kakinya keluar rumah utama menuju pavilliun 101. Aku pun mengikutinya. Dia membuka pintu kaca pavilliun utama dengan pelan, lalu dia masuk dengan tenang. Aku masih mengikutinya, masuk dengan tenang.


Sungguh tak kusangka, tak kuduga, setelah aku melihat siapakah gerangan seseorang yang saat ini tengah menyanyikan lagu sedih itu. Aku dan kak Dave terbius oleh suasana sedih lagu itu.


Tanpa dia sadari, kami berdua berdiri terdiam melihat gerak geriknya. Dia bernyanyi dengan posisi memeluk Karen. Sesekali dia menyeka air matanya. Sebegitu haru kah suasana hatinya saat ini? Tak tau kenapa, rasanya aku ingin berlari dan menariknya dalam dekapanku, meredakan kesedihannya, menghapus air matanya, menatap matanya dan meyakinkannya dan mengatakan ‘everything is gonna be okay!’


‘Astaghfirullah’


Aku menyadari lamunanku sudah terlalu jauh. Ada apa dengan hatiku terhadapnya. Kutoleh kak Dave. Kulihat matanya berkaca-kaca, sungguhkah lelaki di sampingku ini adalah lelaki kuat, arogan, sinis, dingin, sombong yang dulu? Kenapa melihat seseorang menyanyi lagu mellow, dia menjadi ikut mellow. Ada apa dengannya? Ada apa dengan hatinya?

__ADS_1


Mungkinkah………………???


__ADS_2