
Sungguh aku makin merasa bersalah ketika mendengarkan semua cerita Leni. Ternyata gosip mengenai acara lamaran Mr. Dave yang tertunda melamarku telah menyebar di antero mansion. Karen pun turut bahagia ketika mendengar para asisten bercerita mengenai hal itu. Mereka tidak mengetahui kabar selanjutnya mengenai apa yang terjadi di rumah sakit. Jadi cerita berhenti seolah Mr. Dave hanya tertunda melakukan acara lamaran, tanpa mereka tau bahwa tak akan pernah ada acara lamaran selanjutnya.
“Kamu tau kenapa kita diminta ke sini, Len?” aku mengajukan pertanyaan ini karena kupikir dia mengetahuinya, namun nyatanya Leni menjawab dengan gelengan kepala.
Sesaat kemudian kami terdiam dengan mata masih mengawasi pergerakan anak-anak itu.
“Anak-anakmu, cantik dan ganteng, Na. Papanya orang Eropa/Amerika/Australia?” aku menjawabnya hanya dengan senyuman.
Leni tak mendesak jawabanku, jadi dia kembali terdiam ketika aku tak menjawab pertanyaannya dengan jelas. Sepertinya dia menyadari bahwa aku tidak berkenan untuk mengungkapkan urusan pribadiku.
Tanpa terasa satu jam sudah kami berada di restoran itu. Berbagai makanan telah disajikan dan dinikmati. Aku pun bergantian dengan Davis menjaga Karen dan si kembar.
Aku sendiri heran kenapa sampai saat ini, orang yang mengundang kami belum menampakkan batang hidungnya. Apa sebenarnya yang sedang Opa rencanakan?
Kemudian, terdengar suara microphone seorang pria yang meminta kami untuk memperhatikannya. Tak berapa lama, tiga buah mobil-mobilan yang bisa dinaiki, melaju memasuki lorong restoran. Di barisan paling belakang ketiga mobil itu, muncul Opa yang tersenyum ke arah kami. Dengan wajah penuh tanda tanya, aku terus menatapnya dan menerka apa yang sebenernya sedang Opa rencanakan.
Semua pun akhirnya berdiri, meski tanpa diminta untuk berdiri.
Di belakang Opa, beberapa orang nampak sedang memegang remote control yang mengendalikan laju ketiga mobil-mobilan besar itu. Melihat mainan yang makin menarik minat, ketiga bocah bule itu pun menghampiri mobil dan kemudian menaikinya. Aku dan Leni yang tengah menjaganya, turut membantu mereka untuk menaiki mobil masing-masing.
“Bawa ketiganya bermain di luar!” terdengar suara Opa memerintahkan pada ketiga bodyguardnya untuk membawa mobil dan anak-anak keluar restoran.
Setelah kepergian ketiganya, tiba-tiba musik diubah menjadi alunan yang lebih mellow dan slow. Opa mempersilahkan kami semua untuk duduk, sementara dia sendiri memilih berdiri di samping sang MC yang membawa microphone.
“Dave, Davis, kemarilah!”
Dave dan Davis beranjak dari duduk dan mendekati Opa mereka. Keduanya langsung berdiri di samping kanan dan kiri Opanya, sementara sang MC telah pergi setelah menyerahkan microphonenya tadi.
“Kalian adalah pewaris tahta kerajaan bisnis Opa. Kalianlah nanti yang harus mendampingi Daddy kalian untuk melanjutkan perjuangan Opa mempertahankan dan memajukan perusahaan.” Opa kemudian menjeda ucapannya.
“Opa sudah tua dan sangat lelah untuk turut campur dalam urusan perusahaan. Tapi kalian jangan ragu untuk berdiskusi dengan Opa. Jangan pernah sekali-kali mengambil keputusan sendiri padahal kalian tidak yakin dengan keputusan kalian” Sebelah tangan Opa merangkul Dave sementara sebelah tangannya memegang mic.
“Apa kalian sanggup?”
“Sanggup Opa” jawab Dave dan Davis mantap.
__ADS_1
“Janji!”
“Insyaalloh kami akan lakukan yang terbaik untuk perusahaan dan keluarga” lanjut Davis dan diangguki Dave.
“Sudah saatnya Opa menikmati hari tua dengan bermain-main sama cicit-cicit Opa” ucapan Opa membuat Davis spontan menoleh dan menatap Opa.
“Hahahahhhaha,,,biasa aja kali Vis. Jangan kaget gitu” sikap Opa yang santai diiringi gelak tawa makin membuat kami heran. Kami masih terpaku di tempat, tanpa ada yang berbicara apalagi tertawa.
“Terima kasih Dave, Davis, kalian sudah memberi Opa cicit-cicit yang lucu.” Tangan Opa bergantian menepuk pundak Dave dan Davis.
“Aku tak mempermasalahkan Karen. Aku akan menyayanginya seperti menyayangi Raffa dan Rafina” semua tatapan mata mengarah pada Opa. Sementara itu Opa kembali tertawa karena dia merasa terintimidasi dengan tatapan kami semua.
“Didiklah mereka menjadi penerus kalian kelak! Terutama kau Davis. Kamu harus memberikan ekstra pengawasan untuk Raffa dan Rafina!”
“Apa itu artinya---”
“Ya” jawaban Opa sontak membuat Davis langsung menghambur memeluk Opanya erat. Tak pelak kami semua turut bernafas lega, terutama aku.
Meski samar, tapi aku berharap itu artinya dia menerima kami sebagai anggota keluarganya.
***
Usai acara makan yang sangat membahagiakan hari ini, kami semua kembali ke rumah masing-masing dengan hati lega.
Kini aku dan Davis telah berada di kamar utama. Usai membersihkan diri, Davis langsung naik ke ranjang dan masuk ke selimutnya. Aku sendiri memilih untuk duduk di meja rias dan mulai menggunakan rangkaian skincare menjelang tidur. Davis memperhatikan setiap gerak gerikku dan seolah kami saling bertatapan dari cermin di meja rias. Dia tersenyum meski tak mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah selesai menggunakan skincare, meski terasa gugup dan canggung, akhirnya aku mendekati ranjang. Ragu-ragu aku hanya berani duduk.
“Kemarilah!” Davis menyibak selimutnya dan memintaku masuk ke dalam. Aku pun menurutinya.
Setelah aku naik ke ranjang dan merebahkan diri masuk ke selimut Davis. Davis kembali menutup selimutnya. Hawa dingin ditambah AC yang cukup dingin, membuat kami terasa nyaman ketika menggunakan selimut ini.
Davis menarik kepalaku untuk dapat bertumpu di dadanya sedangkan tangannya mulai membelai lembut rambutku.
“Rambutmu makin ikal, aku suka” aku mendongakkan kepala demi memandang wajahnya ketika berbicara.
__ADS_1
“Aku menyukai aromanya” Davis mulai mengecup ujung kepalaku dan menghirup aromanya. Aku pun hanya terpejam merasakan sensasi yang telah lama tak pernah kurasakan.
Berdekatan dengannya, menyentuh kulitnya dan mendekap tubuhnya, masih terasa canggung untukku. Masih terasa debaran jantungku tak tentu arahnya. Aku seperti merasakan sentuhan kala malam pertama. Dan saat aku menumpukan kepalaku di dadanya, ternyata debarannya terdengar sangat keras dan kencang. Mungkinkah dia merasakan hal yang sama denganku?
Aku seperti orang gila yang sedang tersihir oleh kata-kata manisnya. Tiba-tiba otakku oleng, hingga tak mampu mencerna dengan jernih ungkapan dan bualan-bualan suamiku yang telah lama tak membelaiku ini. Sudah lama kami tak saling menyentuh, membuatku malu dan canggung. Seluruh tubuhku masih kaku merespons belaiannya yang sudah mulai mengarah ke mana-mana.
“Kenapa?” dia memandangku dengan lekat. Mungkin dia merasakah hal yang aneh terjadi padaku. Ya karena aku sama sekali tak meresponsnya.
“Apa kau masih ragu?” tanyanya kembali kepadaku dengan tatapan lembut khas Davis, suami brondongku. Aku hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.
“Apa,,,,,hatimu yang meragu padaku?” tanyanya kembali. Aku tak berani menatap terlalu lama pada netranya yang seolah meminta jawaban lebih dan menuntut layanan dari istri yang lama tak disentuhnya.
Beberapa menit lamanya aku masih terdiam, membenamkan wajahku di dadanya. Tak terasa aku pun tak mampu membendung air mata kebahagiaan ini. Aku kembali terisak. Ini bukan tangisan nestapa seperti biasanya, tapi ini tangisan kebahagiaan, sebagai ungkapan syukur atas mukjizat Nya yang tiada terkira. Siapa sangka, hari ini akan tiba. Di kala suamiku mengingatku dan anak-anakku. Keluarga suami menerima kami. Kami bisa berdampingan dan bersama-sama melewati dan menikmati hari bersama, Insyaalloh sampai maut memisahkan. Membentuk keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah. Itulah harapanku dulu, sekarang, dan kelak.
Ya,,bagiku Davis adalah cinta pertama, kedua, dan terakhirku.
“Sayang, taukah kau? Entah mengapa Alloh seolah membuat ujian yang sangat hebat untuk cinta kita, hingga dia membuat kita merasakan dan melalui semua ujian ini. Dan aku sendiri tak menyangka, sejauh apapun dan selama apapun Alloh memisahkan kita, bagiku hanya kamu wanita yang kucintai dengan sepenuh hatiku. Kamu adalah cinta pertama, kedua, dan terakhirku” sontak aku makin mengeraskan isakanku ketika mendengar penuturan dan pengakuan Davis. Bagaimana bisa apa yang diungkapkannya sama dengan apa yang kurasakan padanya.
“Percayalah! Cintaku hanya untukmu. Tak pernah ternoda!” ucapnya kemudian.
Perlahan aku pun mulai memberanikan diri mendongakkan kepala dan kembali memandang lekat pada netra berwarna biru miliknya, yang juga tengah memandangku.
“Suamiku, Cintaku berakhir padamu!”
"Kau tau, berapa sulitnya aku menjaga hati? Terlalu banyak pria idaman yang menawarkan kenyamanan, menerimaku dan kedua anakku dengan sukacita, memberikan perhatian yang selama ini kosong hampa karena tak pernah kudapatkan darimu. Betapa aku berusaha bersabar menghadapi tingkah lakumu, menunggumu mengingatku, menunggumu kembali padaku. Sungguh rasanya di ujung usahaku, rasanya ingin sekali aku menyerah. Tapi ternyata Alloh masih memanjangkan umur perjodohan kita. Alhamdulillah kita bisa kembali bersama dalam restu indah kedua keluarga. Tak henti-hentinya aku selalu mengucapkan syukur Alhamdulillah, ketika Alloh merestui bahwa CINTAKU BERAKHIR PADAMU".
Tanpa menunggu ba bi bu, Davis mendekatkan wajahnya pada wajahku. Bibirnya menyapa bibirku. Setelah itu, terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Penyatuan hati yang diiringi dengan penyatuan raga menjadi salah satu pembuktian cinta yang nyata. Keduanya akhirnya berbahagia selama penantian panjang melewati ujian Illahi. Insyaalloh bahagia selamanya setelah melewati ujian yang tak terperi ini.
TAMAT
Terima kasih atas perhatian para readers semua. Akhirnya novel pertamaku kelar dlm waktu yang cukup lama. Butuh perjuangan ekstra untuk saya bisa menyelesaikan novel ini, karena ditulis di tengah kesibukan dan aktifitas sehari-hari saya.
Mohon dukungannya selalu para readers ku yang tercinta......
__ADS_1