
NARITA POV
“Kau sudah sadar?” suara bass seseorang mengagetkanku, mataku langsung beralih menatap seseorang yang sedang berjalan mendekati kasur tempatku tidur.
Aku pun merasa tidak enak hati, aku berusaha bangun kembali, namun tetap sama, tubuhku terasa sangat lemas.
“Sudah, sudah, jangan dipaksa bangun. Tiduran saja dulu!” ucapnya kemudian.
“Aku di mana?” tanyaku padanya.
“Kamar tempat istirahat di dalam ruang kerjaku!” jawabnya.
“Maaf, aku harus pergi” kini aku berusaha bangun dengan cara memiringkan tubuh terlebih dahulu. Usaha kali ini pun berhasil.
Namun saat aku hendak, berdiri tiba-tiba tubuhku limbung. Dia pun dengan cekatan menangkap tubuhku yang hampir ambruk.
“Kau ini memang keras kepala, sudah tau masih lemas masih saja maksa berdiri. Emangnya aku memaksamu pergi?” terdengar suaranya yang sedikit marah sembari kembali memapahku dan membawaku duduk kembali ke kasur.
“Maaf aku merepotkanmu. Seharusnya aku tidak berada di sini, Jess bisa salah paham” aku berusaha memberi alasan situasi yang terjadi saat ini. Yaa, lelaki yang sedang bersamaku adalah Davis.
“Dia bukan istriku. Tidak ada hak untuk melarangku menolong seseorang”
“Tidak pantas kita berada di sini hanya berduaan, bisa menimbulkan kesalahpahaman, tolong bantu aku untuk keluar!”
“Akan kukunci kau di sini jika masih keras kepala!”
“Ini makan dulu! Pulihkan tenagamu! Baru silahkan kalau mau keluar” lanjutnya sembari menyerahkan piring yang berisi makanan.
“Apa kau yang sudah menolongku tadi?” aku mengambil alih piring itu dan menyuapi makanannya.
__ADS_1
“Hm” Davis kembali meraih gelas berisi air putih dan tetap memegangnya.
“Terima kasih”
“Bagaimana kau tau aku ada di antara orang-orang yang berkerumun dengan tubuh tinggi besar itu?”
“Sebenarnya tadi aku sedang mengantarkan seorang pengacara keluar. Pada saat keluar lobby, situasi tak sericuh itu. Namun pada saat aku masuk kembali, ternyata ada aksi dorong-dorongan karena mereka melihat ada seseorang yang mereka cari. Awalnya aku acuh dan menunggu situasi tenang kembali agar mudah untuk menerobos masuk, tapi aku mendengar suara seseorang meminta tolong dengan Bahasa Inggris tapi logat Jawa. Aku langsung menerobos masuk ke kerumunan dan menemukanmu yang sudah limbung dan hampir terjatuh”
“Terima kasih” ucapku.
“Hm” balasnya.
“Karena aku sudah menolongmu, sekarang kau harus balas budi!” aku pun memutar bola mataku mendengar dia meledek seperti itu sembari tersenyum kecil.
“Sebenarnya ada masalah apa di kantor? Kenapa bisa sericuh itu? Apa mereka sedang berdemo?”
“Bukan demo. Loh, kamu belum tau?” Davis bertanya dan aku menjawab dengan menggelengkan kepala.
“Iya aku juga tau. Udah dua bulan kami makan menu western food terus” jawabnya dengan nada sedikit kesal.
“Maksudku memangnya kalian yang keluar kota sama sekali gak mendengar kabar tentang rumor di kantor?” aku menjawab dengan gelengan kepala lagi, lalu tangan kananku terulur untuk meminta minum yang dipegang Davis.
“Apa yang terjadi di kantor?” tanyaku lalu setelahnya menenggak air putih.
“Tersebar rumor kalau Marlyn menjadi wanita simpanan kak Dave” spontan kabar yang mengagetkan itu membuatku terbatuk ketika sedang minum.
Davis segera menepuk-nepuk punggungku bermaksud menetralisir. Aku segera melirik tajam dan memintanya untuk berhenti menyentuh punggungku.
“Maaf” katanya kemudian.
“Kamu percaya?” tanyaku kemudian.
__ADS_1
“Entahlah” Jawabnya.
“Ada foto yang menunjukkan mereka berdua tengah berjalan di sebuah lorong hotel” lanjutnya.
“Terima kasih. Aku udah selesai makan, Insyaalloh tenagaku sudah mulai pulih. Aku permisi” entah kenapa aku tidak menyukai rumor ini. Aku tidak bermaksud melanjutnya obrolan mengenai rumor yang beredar. Aku lebih memilih untuk keluar ruangan ini, tidak baik hanya berduaan di ruangan tertutup, bisa jadi akan ada rumor lain lagi kalau ada yang salah paham.
“Kau memang keras kepala” Davis hendak membantuku dengan memegang lenganku tapi segera kutepis.
“Oke-oke, maaf. Aku bantu membawakan tasmu saja!” Davis segera meraih handbagku dan mempersilahkanku berjalan di depannya.
DAVE POV
--- ruang kantor Dave ---
Teddy telah kembali dari Indonesia dua hari yang lalu. Kini aku bersamanya dan dua orang detektif sewaannya sedang berada di ruanganku. Kami membahas mengenai rumor yang beredar sejak tiga hari yang lalu. Ya, entah darimana sumbernya, 3 hari yang lalu tiba-tiba beredar rumor kalau salah satu brand ambassador perusahaan kami adalah simpananku. Lebih parahnya lagi bahwa dia bisa menjadi brand ambassador karena menjadi simpananku
Ini bener-bener fitnah yang keji untukku. Memang rumor ini tak begitu mempengaruhi harga saham dan kredibilitas perusahaan. Di sini pergaulan sangat bebas, sehingga rumor seperti ini adalah hal yang biasa. Namun bagiku, bukan tentang perusahaan yang kukhawatirkan, tapi ini menyangkut nama baik brand ambassador itu dan aku sendiri. Terutama aku, aku sudah lama hijrah, sudah berusaha menjaga sikap, berusaha untuk menghindari agar tidak terjadi fitnah, nyatanya tetap saja ini terjadi.
Ditambah lagi, dengan adanya rumor yang melibatkan publik figur, membuat suasana kantor gaduh dan ricuh karena banyaknya para pewarta yang bermaksud meminta klarifikasi. Aku tak mungkin membiarkan bola panas terus berkeliaran menggelinding bebas. Aku harus segera memberikan pernyataan dan mengembalikan situasi kantor seperti sedia kala. Dan aku juga tak ingin membuat seseorang yang sudah aku sukai secara diam-diam, turut membenciku hanya karena mempercayai fitnah keji itu.
“Bagaimana bro? Apakah penyelidikanmu menemui titik terang?” tanyaku pada salah satu detektif.
“Sudah, tuan” jawab salah satu detektif.
“Siapa yang menyebarkan fitnah?” dia lalu mengulurkan ipadnya untukku dan segera kurain ipad miliknya dan membaca informasi yang ada di sana.
“Brengsek!” aku tak mampu menahan sumpah serapah keluar dari mulutku.
“Anda swipe next!” instruksinya kemudian.
__ADS_1
“Opa?” aku melotot menatap kedua detektif itu secara bergantian, mereka pun menjawabnya dengan anggukan kepala.