CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
NAMAKU ALI


__ADS_3

DADDY KAREN POV


 


Teddy adalah asisten pribadiku. Dia adalah sahabatku semasa kuliah. Dia yang dari keluarga sederhana, namun cakap dalam bekerja, adalah orang yang tepat untuk mendampingiku selama ini. Keberhasilanku memimpin perusahaan cabang Australia salah satunya karena andil kerja keras Teddy juga. Dia mengabdikan hampir sebagian hidupnya untuk mendampingiku baik itu dalam bekerja maupun dalam menjalani kehidupan pribadiku. Dia sangat mengetahui bagaimana perjalanan karir dan percintaanku. Bagiku, dia tidak hanya sebagai asisten pribadi tapi sekaligus menjadi cctv hidup yang akan memantau semua orang yang ada di sekitarnya.


“Ted, gimana kabar adikku?” tanyaku menatap Teddy.


“Mr, kenapa tiba-tiba kau menanyakan mengenai adikmu?” tanya Teddy heran.


“Gak ada apa-apa sie. Cuma kebetulan aja pengasuh Karen orang Indonesia jadi begitu inget Indonesia aku inget adikku” jawabku dan Teddy manggut-manggut.


“Semua sudah jauh lebih baik, Mr. Dia sudah pulih, bahkan sudah bisa membantu Mr Ox.”


“Syukurlah kalau begitu. Jadi nanti saat ulang tahun perusahaan apakah mereka akan datang ke sini?”


“Kalau mereka tidak mengubah rencana, Mr and Mrs Ox, Grandpa, adik Mr semua akan terbang ke Australia”


“Hufh,,,” mendengar keluargaku akan berkumpul, ada perasaan senang karena tak bisa dipungkiri aku kangen keluargaku tapi di sisi lain aku paling tidak suka disinggung hal itu lagi.


“Kenapa, Mr? Apa ada hal yang membuatmu terbebani?” tanya Teddy.


“Kamu tau sendiri kan Ted. Kini Karen sudah makin besar, mau pake alasan apalagi untuk menghindarinya? Kalau boleh memilih aku tak bertemu dengan mereka, tapi aku menyayangi mereka.”


“Mr, bersyukurlah Mr memiliki keluarga. Coba bayangkan kejadian 2 tahun lalu? Apakah Mr sanggup seandainya hal buruk itu terjadi? Manfaatkan waktu yang ada untuk senantiasa bersilaturahmi dengan keluarga. Aku saja sering membayangkan seandainya aku berasal dari keluarga normal, mungkin aku akan memiliki keluarga utuh saat ini” ungkap Teddy dengan tatapan kosongnya.


“Hmm, thanks Bro sudah mengingatkanku. Bener banget katamu, aku tak bisa membayangkan seandainya mereka meninggalkanku dalam waktu bersamaan, apa aku mampu mengurus semua ini sendiri?”


“Kau tak perlu merasa sendiri, anggaplah keluargaku adalah keluargamu juga. Kau tau kenapa aku membangun pavilliun dan memiliki banyak asisten? Karena aku mau mereka yang bekerja di tempatku bisa berkumpul seperti sebuah keluarga, meskipun aku sendiri lebih menyukai kesunyian” aku membayangkan rumah utama yang terasa sunyi, sepi, dan mencekam di kala aku di rumah.


“Baiklah Ted. Segera kamu siapkan saja hotel mana yang akan kita gunakan untuk gathering ya! 3 hari lagi, segera rapatkan dengan pihak-pihak terkait!” perintahku pada Teddy.

__ADS_1


Setelah itu Teddy pergi keluar ruangan.


 


--- Rumah---


Setelah aku keluar dari mobil, aku memasuki rumah utama. Semua lampu yang temaram menandakan bahwa semua orang telah memasuki peraduannya. Aku melangkahkan kaki menuju lift, aku memencet nomor 2.


Kubuka pintu kamar Karen. Seperti biasa dia telah tertidur dengan lelapnya. Setelah aku bercakap-cakap seorang diri seolah sedang berbincang dengannya, aku mengecup pipi dan ujung kepalanya, lalu berlalu keluar kamar. Aku memang tak pernah berinteraksi dengannya, namun Drake selalu rutin mengirimkanku segala tingkah lucu Karen, sehingga aku dapat mengikuti tumbuh kembangnya meskipun tak mengawasinya secara langsung.


Aku kembali menaiki lift dan turun di lantai 3. Setelah memasuki kamar, segera aku membersihkan tubuh dan bersiap untuk beristirahat.


NARITA POV


Aku telah menandatangani kontrak untuk menjadi nanny Karen tanpa batas waktu, kecuali untuk waktu-waktu yang telah disepakati bersama. Hari libur ini pun aku mengasuhnya. Meski demikian, namun ini bukan hal yang membebaniku. Menjaga Karen adalah pelipur laraku ketika aku kangen dan tak bisa mengasuh anakku sendiri, malah terkadang aku merasa Daffa dan Dafina lebih beruntung daripada Karen karena Daffa dan Dafina selalu dikelilingi orang-orang yang menyayanginya, sementara Karen sepertinya tidak demikian.


Sudah beberapa minggu aku di sini, setiap hari libur pun tak nampak Daddy Karen menemaninya atau sekedar memberikan waktunya sedikit untuk bermain dengannya. Entahlah apakah Karen bisa mengenali Daddynya atau tidak. Meskipun kutau dengan pasti, dia tiap malah mendapatkan kata-kata manis dan penuh kasih sayang dari Daddynya.


“Assalamu’alaikum” tiba-tiba seseorang mengagetkanku dengan salamnya.


“Wa’alaikum salam” aku menghentikan bacaanku, kubalas sapanya sembari mengangkat wajah untuk melihat siapa lelaki yang tengah menyapaku.


Dia, lelaki berperawakan tinggi, besar, gagah, wajah timur tengah, dengan rambut-rambut halus menghiasi wajahnya, menambah kesan gagah, macho, nan tampan. Melihat penampilannya, sepertinya dia bukan salah satu pekerja di sini, tapi aku sendiri jarang melihatnya. Kini, dia tersenyum padaku dan kubalas dengan senyuman dan sedikit anggukan kepala.


“Boleh aku duduk di sini?” tanpa menunggu jawabanku, dia segera duduk di lazy chair sebelahku.


“Damai sekali mendengarmu melantunkan ayat suci Al Qur’an. Boleh berkenalan?” tanyanya dengan sangat ramah.


“Sebentar” lalu aku pun melanjutkan sedikit bacaanku lalu setelah kuakhiri segera kuletakkan ipadku.


“Terima kasih, aku juga masih belajar” jawabku pelan.

__ADS_1


“Siapa namamu?” tanyanya menatapku lekat.


“Aku Narita” kujawab dengan masih menebar senyum. 


“Baru di sini ya?”


“Iya. Aku nanny nya Karen” dia kembali manggut-manggut.


“Kamu?” tanyaku kemudian.


“Namaku Ali. Aku sudah tinggal di pavilliun 103 selama 1 tahun lamanya. Aku diminta tinggal di sini untuk mengumandangkan Adzan, memimpin sholat jamaah, dan mengajari Mr. Dave tentang Islam dan mengaji, karena Mr. Dave adalah seorang mualaf” terangnya tanpa menunggu pertanyaan dariku.


Wow, Amazing. Aku baru tau, ternyata inilah alasan kenapa di rumah orang kaya ini memiliki musholla dan selalu mengumandangkan adzan ke seluruh penjuru rumah. Ternyata tuannya adalah seorang mualaf. Aku terdiam mendengar sesuatu yang sangat mengagetkanku ini.


Tak henti-hentinya aku bersyukur, bener-bener bahagia berada di tengah-tengah lingkungan muslim. Aku pun menanggapinya hanya dengan menebar senyum nan manis.


“Apa kamu yang tiap habis subuh selalu membaca Al Qur’an di Little Of Al Aqsha” tanyanya kemudian.


“Iya. Maaf kalau suara mengajiku kurang bagus” jujur aku tak percaya diri kalau ada orang timur tengah mendengarnya, takut tidak sesuai.


“Apa yang perlu dimaafkan? Justru hanya mendengarmu mengaji, aku sudah merasa jatuh cinta padamu” mataku melotot mendengar candaannya yang cukup berani, padahal kami baru saja bertemu. 


“Hahahahahhaha, sorry sorry” lalu dia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kagetku.


“Tapi aku serius. Hanya dengan mendengarkanmu mengaji, aku sudah tau seperti apakah kau sebenarnnya” lanjutnya, namun hanya kubalas dengan menggeleng-gelengkan kepala dengan menarik sebelah ujung bibir ke atas.


“Ternyata setelah bertemu aslinya, memang benar. Tidak hanya cantik akhlaqnya tapi juga cute” lanjutnya.


“Sorry ya, aku bukan gadis ingusan yang begitu mudahnya terpengaruh kata-kata manis, gombalan laki-laki.” aku membalasnya dengan sedikit tersenyum sedikit mengejek.


“Hahahahahhahah,,,sepertinya kita cocok. Aku suka becanda dan begitu pun denganmu!” lanjutnya dengan masih tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2