
AUTHOR POV
Drake dan Narita kini tengah berdiri di depan meja kerja Dave. Untuk beberapa lama Dave mendiamkan mereka berdua sedangkan dirinya seolah sibuk dengan macbooknya. Drake sudah menanyakan perihal tujuan dirinya dan Narita dipanggil ke sana, namun Dave mendiamkan mereka. Di antara mereka berdua tak ada yang berani untuk memulai pembahasan.
Lima belas menit mereka berdiri di sana, hingga akhirnya Dave berujar “Kenapa kalian tidak duduk?” pandangannya masih sibuk dengan macbooknya.
“Ora ket mau kek akonne! (Gak dari tadi kek nyuruhnya!)” gerutu Narita menggunakan Bahasa Jawa.
Narita cukup gregetan dan sangat tidak menyukai sikap arogan Dave. Dave pun meskipun tak memahami arti Bahasa Jawa yang diucapkan Narita, namun dia cukup paham bahwa itu adalah sejenis gerutuan. Mata Dave langsung tajam menatap Narita, Narita pun yang awalnya berani menatap Dave, langsung membuang muka.
Drake dan Narita akhirnya duduk di kursi di depan meja kerja Dave.
Kaya sie kaya, tapi kalau arogan dan gak menghargai orang begini mah, aku juga gak bakal betah kerja di sini – ujar Narita dalam hati.
“Kamu tau apa kesalahanmu kupanggil ke sini, Narita?” tanya Dave masih dengan tatapan tajamnya, Narita pun mau tak mau kembali memandang pada Dave.
“Tidak, tuan!” jawab Narita tegas.
“Coba kamu sebutkan kesalahan dia, Drake!” Dave menoleh pada Drake dan menunjuk Narita menggunakan dagunya.
“Ma ma maaf tuan, kesalahan yang mana ya?” tanya Drake balik, karena sepengetahuan Drake Narita tak membuat kesalahan pada tuannya itu.
“Saya mohon maaf kalau saya tidak sengaja berpapasan dengan Anda sewaktu di kolam renang dan di ruang keluarga rumah utama” samber Narita karena sepengetahuannya itulah kesalahannya.
“Drake!” teriak Dave kemudian karena Drake malah menampakkan wajah kebingungannya.
“Tu tu tuan, apakah maksud Anda Narita mengingkari janjinya untuk mendampingi Karen di acara Ulang Tahun perusahaan?” kata Drake terbata-bata karena jantungnya berdebar kencang mendengar teriakan amarah Dave.
“Hm! Jelaskan!” kini Dave menatap Narita, menunggu apa pembelaan dari Narita.
“Saya dan Leni adalah dua orang yang sangat bisa memahami Karen. Saya pikir ketidakhadiran saya yang digantikan oleh Leni adalah hal yang biasa saja. Dan saya mohon maaf tuan karena saya meminta ijin pada tuan Drake, karena selama ini pun saya selalu berhubungan langsung dengannya. Tolong kalau tuan mau mencari orang yang salah, sayalah di sini yang patut disalahkan!” kata Narita menjelaskan dengan nada tegas namun lembut.
“Hukuman apa yang pantas aku berikan untuknya, Drake?” tanya Dave kembali menoleh pada Drake, sementara itu Drake hanya menatap bingung.
Ya bagi Drake, ini hanya masalah sepele, kenapa tuannya tiba-tiba jadi membesar-besarkan masalah sepele. Bener-bener ini di luar dugaan dan nalar Drake.
__ADS_1
“Anda yang pantas menentukannya tuan!” jawab Drake.
“Narita, kamu dihukum: melayaniku setiap aku makan di ruang makan!” perintah Dave.
Mendengar perintah sepele seperti itu, bukan hal yang susah untuk Narita.
“Oke, baik tuan. Saya bersedia!” jawab Narita mantap menatap Dave.
“Oke deal!” Dave berdiri lalu mengulurkan tangan kanannya meminta Narita untuk menjabatnya. Namun Narita tak menyambut uluran tangan Dave tapi malah membalasnya dengan menangkup kedua telapak tangan di depan dadanya sembari mengulas senyum.
Dave yang menyadari Narita tak menyambut uluran tangannya, hanya manggut-manggut saja dengan wajah datarnya, lalu menarik kembali tangannya.
“Kalau begitu, kami permisi tuan!” Drake dan Narita segera keluar setelah mendapatkan ijin Dave.
Drake dan Narita menaiki lift yang sama, hanya saja Narita kemudian turun di lantai 2. Narita tak langsung masuk ke kamarnya tapi malah masuk ke kamar Karen. Namun ketika dia memasuki kamar itu, dia kembali dikejutkan oleh seorang lelaki yang kini tengah memangku dan membacakan cerita untuk Karen.
“Karen?” panggil Narita perlahan dan hati-hati.
Karen dan lelaki itu menoleh ke Narita bersamaan.
DEG
Ya Alloh, apakah bener apa yang kulihat saat ini?
Ataukah mereka dua orang berbeda yang hanya berwajah sangat mirip?
Ataukah……
Ya Alloh, bagaimana aku harus bersikap?
Apakah dia masih mengingatku?
Ataukah sebaliknya? ---batin Narita bergejolak
Karen segera berdiri dan berlari menghambur ke Narita dan memeluk kakinya.
“I miss you, nanny Na!” kata Karen sedikit cedal namun cukup jelas dipahami artinya.
__ADS_1
Menyadari kakinya dipeluk Karen, Narita segera memutus tatapan matanya lalu beralih menatap pada Karen yang ada di bawahnya. Narita menunduk dan mensejajarkan tingginya dengan tubuh Karen.
“I miss you too, sweety!” Narita memeluk tubuh mungil Karen.
Sesaat mereka berdua terhanyut pada pelukan satu sama lain, seolah mereka terpisah dalam waktu yang cukup lama, padahal hanya terpisah selama 3 hari 2 malam saja. Lalu Narita menuntun Karen mendekati lelaki itu yang saat ini posisinya masih duduk lesehan di lantai tempat bermain di kamar Karen.
“Ma ma maaf, apakah saya mengganggu kalian?” Narita bertanya pada lelaki itu seolah dia tak mengenalnya. Narita lalu ikut duduk tak jauh dari tempat duduk lelaki itu.
“Tidak kok. Saya hanya sedang menemani keponakanku bermain” jawabnya masih dengan menebar senyuman.
Ya Alloh, mereka bener-bener sangat mirip – dalam hati Narita.
“Apakah kamu nanny nya Karen?” tanyanya yang langsung dijawab anggukan kepala Narita.
“Na-ri-ta?” tanyanya lagi dan diangguki kepala lagi oleh Narita.
“Namamu mengingatkanku akan seseorang” lanjut ucap lelaki itu.
“Apakah namaku pasaran?” tanya Narita benar-benar berharap mendapat jawaban yang jelas dari lelaki itu.
“Sepertinya tidak. Tapi aku juga tidak mengingatnya. Entahlah, semakin aku berusaha mengingatnya semakin pusing kepalaku!” jawabannya membuat Narita kecewa.
“Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Anda--?” ucapanku terhenti dan segera dijawab oleh lelaki itu.
“Namaku Davis, adik kak Dave. Uncle nya Karen!” kata lelaki itu.
Mendengar hal itu, spontan mata Narita membulat, mulutnya menganga, dan tangan kanannya menutup mulutnya yang tengah menganga. Tak hanya wajahnya yang sama tapi namanya pun bahkan sama. Tapi yang membuat Narita heran, kenapa lelaki itu seolah tak mengenal Narita.
Untuk beberapa saat lamanya Narita dengan berani menatap tajam pada kedua mata lelaki itu, sementara itu dia hanya terdiam dan masih tersenyum menyambut wajah bingung Narita.
“Apakah kita pernah saling mengenal, sebelumnya?” tanya Davis kemudian.
----TO BE CONTINUED----
__ADS_1
PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!