
Pagi hari ini adalah jadwal mereka snorkling, mengunjungi pulau-pulau terdekat dengan melewati jembatan dari kayu, dan dilanjut dengan menghabiskan waktu bermain air di pinggir pantai atau bermain banana boat.
Sedari sarapan, Davis bersikap acuh pada Narita dan Narita menyadarinya. Setelah sarapan, mereka berjalan kaki menuju dermaga terdekat untuk menaiki perahu yang akan membawa mereka ke laut lokasi snorkling.
Nampak Davis hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendeknya, tak lupa bumbag dan sunnies nya. Alin terlihat berani dengan penampilannya. Dia mengenakan tanktop yang memperlihatkan perut rata dan mulusnya, dengan hotpants yang makin memberi kesan seksi, cantik, gaul. Sedangkan Narita dan Sriti yang notabene pemalu, hanya mengenakan kaos warna gelap lengan pendek dan celana ketat selutut. Bahkan Narita tak berani mengenakan hotpants nya di tempat umum seperti ini.
“Wow, Alin emang perfect!”puji Sriti.
“Iya mbak, cocok sama Davis” jawab Narita datar.
Sriti menoleh ke Narita dan tersenyum.
“Tumben Davis dari kemaren gak ngajak ngobrol kita ya Na?” tanya Sriti kemudian.
“Masa???” bohong Narita. Padahal Narita sangat merasakan perubahan sikap Davis.
Davis yang berjalan jauh di depan Narita, hanya sesekali menatap Narita ketika dia menoleh ke belakang pura-pura mengajak bicara Aldi dan Bagas yang berjalan di belakang mereka.
Aku kecewa dengannya. Tapi aku sepertinya childish banget kalau tiba-tiba mengacuhkannya. –Davis melamun dalam perjalanannya.
Davis mengambil nafas panjang dan membuangnya kasar.
Hufh tak seharusnya aku kecewa dengannya, tak ada salahnya jika cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi kenapa ini terasa SAKIT? Di saat aku pertama kali merasakannya. – Davis tak semangat dengan lamunannya.
Flashback On
Kemaren sore pada saat Narita dan Sriti menaiki sepedanya, diam-diam Davis mengikuti mereka dari belakang. Dia tak menyadari ada Alin duduk di belakang. Saat Davis tersadar ada Alin di sepedanya, dia beralasan kakinya kram dan tak bisa mengemudikan sepedanya dengan membawa beban Alin. Dengan terpaksa dan wajah cemberut akhirnya Bagas bertukar sepeda dengan Davis. Bagas dan Aldi telah meninggalkannya sendiri dengan sepedanya. Setelah mereka menjauh. Davis kembali mengayuh sepedanya.
Beruntungnya ketika dia melewati deretan pohon kelapa di pinggir pantai, tak jauh dari sana terlihat punggung Narita dan Sriti. Meskipun dari belakang, Davis cukup mengenalinya. Tak menyia-nyiakan objek candid yang bagus, akhirnya dia mengambil kamera dan berkali-kali membidik mereka berdua dengan background pasir putih, laut biru, dan seksinya pohon kelapa yang tubuhnya meliuk-liuk.
Yess. Dapet candid keren –guman Davis.
Lalu dia menstandar sepedanya dan berjalan menuju Narita. Namun, Langkah kakinya terhenti ketika dia mendengar mereka sedang membicarakannya. Davis tersenyum senang ketika Sriti mempertanyakan perasaan Naarita tentang Davis. Davis memasang telinganya baik-baik agar tidak melewatkan jawaban yang disampaikan Narita.
Seketika raut wajahnya berubah. Ada rasa marah, sesak di dada, kecewa, hatinya hancur sehancur-hancurkan ketika dia mendengar sendiri dari mulut Narita:
Davis hanya aku anggap sebatas adik
Davis bukan pria yang aku harapkan menjadi pendamping hidupku!
__ADS_1
Tiba-tiba kakinya lemas dan seolah tak mampu menopang badannya yang tegap. Keseimbangannya mulai goyah dan dia terjatuh di tempat. Pernyataan Narita terngiang-ngiang ditelinganya dan hatinya. Memberikan luka yang tak nampak namun perihnya teramat menyiksa.
Baru kali ini ada seorang wanita yang menolaknya bahkan sebelum dia mengutarakan isi hatinya.
Terjawab sudah apa yang menjadi pertanyaan Davis selama ini mengenai perasaan Narita kepadanya.
Narita yang selama ini memperlakukannya dengan baik, lembut, perhatian, membalas pesannya dengan cepat, seolah menunjukkan bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Namun ternyata Davis salah mengartikan sikap Narita kepadanya. Davis sudah telanjur jatuh hati padanya. Jatuh hati untuk pertama kalinya pada seorang wanita, namun langsung patah karena bertepuk sebelah tangan.
Davis bukan pria cengeng yang bisa menangis meskipun tengah patah hati. Dia hanya mampu mengepalkan tangannya lalu menepuk nepuk dadanya sedikit keras hingga terasa sakit luar dan dalam.
Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?
Apakah aku harus mundur atau terus memperjuangkannya?
Jujur tak mudah bagiku mundur begitu saja!
Namun aku takut, jika aku kembali mendapatkan penolakan langsung darinya, malah akan membuat hubungan kami canggung.
Oh Tuhan, berikan petunjuk-Mu!? –doa Davis dalam hati.
Flashback Off
Sampailah mereka di tempat tujuan. Mereka memilih baju pelampung yang cocok dengan ukuran badan mereka, memakainya, lalu antri menaiki kapal. Alin tak pernah sedikitpun jauh dari Davis. Mereka duduk di kapal, menikmati angin yang menerpa, dan memandang gerakan air yang diterjang oleh kapal mereka, menatap indahnya pulau-pulau kecil yang mereka lewati.
Sesampainya di lokasi snorkling, nahkoda memberhentikan mesin kapalnya, guide snorkling mempersilahkan mereka untuk masuk ke laut. Beberapa orang dengan berani langsung terjun ke air, sedangkan cewek-cewek dituntun untuk turun ke laut.
Narita telah memasang kacamata renangnya, dan setelah di air dia tak mau jauh-jauh dari Sriti. Pada awalnya mereka berdua selalu berdekatan, tertawa lepas kala menikmati deburan air laut yang membuat mereka terkadang terpisah. Narita mulai snorkling seorang diri, dia terlalu asyik dengan pemandangan di bawah laut yang dangkal itu. Sesekali kakinya dilewati ikan-ikan yang berwarna warni. Dia hanya dapat menenggelamkan kepalanya sedikit namun baju pelampungnnya yang menahannya untuk tetap terapung. Bagi yang pandai berenang, mereka tak akan memakai pelampungnya. Begitupun halnya dengan Davis. Tubuh atletisnya terekspos dengan indahnya tanpa harus tertutupi baju pelampung.
Narita mengikuti pemandangan bawah laut hingga tanpa terasa membawanya berada terlalu jauh dari keberadaan kapal mereka. Deburan ombak air laut mengayunkan tubuh Narita makin menjauh ketika dia berusaha untuk mendekat ke teman-temannya.
NARITA POV
Aduh gimana ini? Aku terlalu jauh dari mereka. Aku berusaha sekuat tenaga berenang mendekat ke kpal, tapi gagal dan gagal karena deburan ombak. Bukannya makin dekat malah makin menjauh. Aku takut, panik, berteriak namun tak ada yang mendengar teriakanku. Meskipun tak ada yang mendengarkan teriakanku, aku terus berteriak dan berenang, dan berenang, dan akhirnya.
Astaghfirullah, Ya Alloh kenapa dengan kakiku.
Tiba-tiba kakiku kram. Tak bisa kugerakkan. Aku tambah takut dan panik. Air laut yang sudah mulai menyapu wajahku dan sesekali tanpa sengaja terminum, telah bercampur dengan air mata kepanikanku.
__ADS_1
Aku tak bisa bergerak. Bahkan untuk sekedar berteriak pun sudah tak bisa karena saking paniknya. Lama-lama tubuhku melemah, pandanganku menggelap.
Aku masih berusaha tetep sadar, dan mengepak-ngepakkan tanganku tanda meminta pertololongan pada siapapun yang melihatku.
Namun, aku sudah tak kuat lagi, pandanganku menggelap dan sulit kubuka mataku, kesadaranku perlahan menghilang.
DAVIS POV
Aku telah siap dengan kamera under waterku. Tak kuhiraukan teriakan Alin memintaku menemaninya snorkling, toh dia juga pandai berenang. Aku tak terlalu mengkhawatirkannya. Kulihat laut tak terlalu dalam, aku terjun dengan cukup pelan karena takut menerjang karang. Di dekat kapal kami kurang bagus pemandangan bawah lautnya, aku mulai mencari pemandangan di tempat lain.
Aku berenang dan terus mencari pemandangan yang kuharapkan. Aku rasa pemandangan bawah laut di pulau seribu tak seindah seperti di objek wisata yang terkenal akan pemandangan bawah lautnya. Aku harus menurunkan ekspektasiku.
Sesekali kutemui ikan hias menari dan tak kusia-siakan kesempatan untuk membidiknya. Aku yang tak menggunakan pelampungku sehingga lebih memudahkanku untuk menggapai dasar laut.
Saat ini aku berada di kedalaman 5 meter di bawah permukaan laut. Aku dapat menahan nafas lumayan lama karena memang aku sudah terbiasa diving tanpa alat. Saat aku membidik ikan yang berenang di atasku, kameraku menangkap pemandangan aneh. Kulihat kaki seseorang yang seolah panik dengan posisinya.
Aku cukup mengetahui hal itu karena beberapa kali aku pernah menolong orang yang hampir tenggelam, pada saat posisiku sedang diving. Kaki seseorang itu tak menunjukkan dia sedang menikmati deburan ombak, tapi lebih kepada panik. Belum sempat aku menuju ke dia, kulihat kaki itu mulai berhenti bergerak. Otakku berpikir cepat dan secepat kilat aku berenang ke atas ke arah pemilik kaki itu. Aku yakin dia sudah tak sadarkan diri.
Saat aku muncul di permukaan, betapa terkejutnya aku melihat siapa yang akan kutolong. Aku tepuk-tepuk wajahnya dan berteriak tepat di telinganya berusaha untuk menyadarkannya. Namun nihil. Dia tak merespons sedikitpun.
Tak menyia-nyiakan waktu, daripada lebih bahaya, aku berenang memeluknya dan membawanya ke atas kapal.
Setelah dia diangkat ke atas kapal, aku masih nampak panik dan terus berusaha menyadarkannya. Kukeluarkan minyak kayu putih dari bumbagku. Aku oles-oles di bawah hidungnya. Aku yakin dia tak memerlukan nafas buatan karena memang dia tak tenggelam. Pelampungnya telah melindunginya untuk tetap terapung. Namun entah apa yang menyebabkan dia pingsan, aku sendiri tak tau.
Mengingat snorkling belum waktunya selesai, temen-temen yang lain masih menikmati snorklingnya. Namun ada seorang guide yang turut mendampingiku menyadarkannya. Memposisikan kepalanya lebih tinggi dari badannya. Tak henti-hentinya aku mengolesi hidungnya, jemari dan ujung kakinya secara bergantian dengan minyak kayu putih.
“Kamu yakin kan dia gak tenggelam?” tanya guide kepadaku.
“Yakin bang. Gue tadi diving di bawah dia. Awalnya gue liat kakinya mengepak-ngepak sepertinya dia panik. Lalu beberapa menit kemudian kakinya tak bergerak” jawabku menjelaskan.
“Owh mungkin tadi kakinya kram, takut, panik, terus pingsan karena kekhawatirannya”
“Aku sie liat sepertinya ada yang berteriak, aku pikir dia berteriak karena kegirangan, makanya aku gak mendekat” Guide berargumen.
“Terus gimana nie bang? Dia belum sadar nie. Apa perlu kita bawa dulu ke pulau, terus nanti kita balik lagi jemput temen-temen?” tanyaku panik karena Narita tak kunjung sadar.
“No. Itu terlalu bahaya untuk temen-temen. Kalau ada yang mengalami hal yang sama di kala kapal kita tidak berada di sini, lebih bahaya.” Terangnya.
Aku pun mengangguk mengerti dan masuk akal dengan alasannya. Namun, aku tak bisa membiarkannya seperti ini. Perlahan aku mengubah posisi dudukku. Kuangkat kepalanya dan kuletakkan di pahaku. Posisi ini akan tetap menjaga kepalanya lebih tinggi dan memudahkanku mengolesi minyak kayu putih.
__ADS_1
Kak Na, please bangun kak. Tolong jangan membuatku panik begini. Kak, aku janji takkan mengacuhkanmu lagi. Aku akan menerima kenyataan apapun isi hatimu padaku. Please Kak Na bangun…….