
----Kos Narita----
Sabtu pukul 05.00 seusai Narita menunaikan ibadahnya, dia berkutat di dapur. Ada beberapa menu yang akan dia masak hari ini. Sebelumnya, dia memasak nasi terlebih dahulu di rice cooker, baru memulai iris-iris dan tumis-tumis.
Pukul 06.30 dia selesai masak. Dia menyiapkan wadah bekal berbentuk rantang 5 susun untuk mengisi menu: nasi, udang saos padang, ayam goreng mentega, daging teriyaki, dan capcay seafood. Dia memasukkan semua hasil masakannya ke dalam rantang itu. Setelah itu, dia bersih-bersih kamar, mencuci baju, dan mandi.
Jam 07.30, telpon Narita berdering.
“Hallo,,,” Narita mengangkat telpon lalu meload speaker karena dia masih belum selesai dandan.
“Kami udah di depan!”seru suara di seberang sana.
“Oke, sabar menunggu ya. Sedikit lagi aku selesai” ujar Narita.
Hari itu Narita mengenakan celana panjang jeans, kaos pendek warna putih yang ditutup menggunakan outer panjang selutut warna cream. Rambut dia kuncir kuda. Dandanannya cukup polos, hanya menggunakan skincare, dilanjut sunblock, lalu bedak. Alis sedikit dia tambahkan pensil alis warna brown, namun masih terkesan natural. Bibir tipisnya dia poles menggunakan lipstick warna nude. Tampilan casualnya kali ini memberi kesan chic, girly, dan lebih muda dari usianya. Tak lupa dia memasukkan sunnies dan kamera digital ke sling bag nya. Narita keluar kos dengan mengenakan ranselnya yang berisi peralatan makan, rantang susun 5, dan tak lupa menslempang tasnya.
Terlihat oleh nya Pajero sport warna hitam telah terparkir di depan kosnya. Sekian detik kemudian seorang pemuda tampan dengan tampilan keren turun dari pintu depan mobil sebelah kanan sembari tersenyum kepadanya. Setelah Narita keluar dan menutup kembali gerbangnya, pemuda itu dengan sigap mengambil alih rantang yang dibawa Narita.
“Wow,,,,persiapannya mantap banget nie” serunya.
“Yang ini apa?” tanya nya sembari menyentuh ransel Narita.
Narita hanya membalasnya dengan senyum tipis. Pemuda tampan yang tak lain adalah Davis itu kemudian membuka pintu bagian belakang dan meletakkan rantang itu. Narita pun segera meletakkan ranselnya. Setelah itu Davis bergegas membukakan pintu penumpang bagian depan, memberi ruang yang cukup untuk Narita naik ke mobil, dengan tangan kanan diangkat sampai ujung pintu mobil untuk melindungi kepala Narita agar tidak kejedot.
“Thanks” ucap Narita tersenyum manis.
Ah, senyum ini – batin Davis lalu menutup pintu mobilnya.
“Hai Bagas, Hai Aldi!” sapa Narita pada 2 orang pemuda tampan yang duduk manis di kursi belakang.
“Hai juga Kak Na,” balas Bagas dan Aldi berbarengan.
Mobil mengarah ke objek wisata yang terletak di Jakarta Utara. Sepanjang perjalanan mereka bersendau gurau. Satu setengah jam berikutnya sampailah mereka ke lokasi yang dituju. Narita dan Davis berjalanan beriringan sedangkan di depan mereka ada Bagas dan Aldi
“Kita mau naik apa dulu nie?” tanya Narita.
“Jangan berpencar ya!” pintanya kemudian.
__ADS_1
Mereka lalu mencoba permainan yang ada di sana. Sementara Aldi dan Bagas menaiki permainan ekstrim dan memacu kerja jantung, Davis dan Narita memotret mereka dan bercanda.
“Nie kak minuman dan snacknnya!”ujar Davis sembari menyerahkan teh botol dan snack yang baru dibelinya.
“Makasih!”
Lalu Narita mengeluarkan payung, membukanya. Namun payung itu segera diambil alih Davis.
“Sorry, habisnya panas banget” seru Narita menunggu Bagas dan Aldi di tempat yang cukup terik.
Davis hanya tersenyum.
Sementara Davis memegang payung, Narita membuka plastik snack, mengambil snacknya dan menyuapinya ke Davis. Narita mengambil 2 sedotan, lalu dimasukkannya ke teh botol itu, sesekali mengarahkan Davis untuk meminumnya juga.
“Ehem,,” Bagas berdehem, Narita dan Davis seketika salah tingkah ketika posisi snack di tangan Narita di depan mulut Davis dan Davis membuka mulutnya siap untuk memakannya dengan posisi memegang payungnya.
Bagas seolah menggoda dan bercanda terkait kemesraan mereka berdua, sedangkan Aldi yang mengetahui secara pasti isi hati Davis, cuek seolah tak tau.
Lalu mereka berjalan ke bawah pohon yang redup untuk mencari tempat membuka bekal makan siangnya.
“Gue yakin 100% ada sesuatu di antara merekaa” ujar Bagas dengan penuh keyakinan mengamati Narita dan Davis yang berjalan di depan mereka sambil berpayungan.
Saat sampai di bawah pohon yang teduh, mereka mengeluarkan tikar dari ransel Narita dan membukanya, lalu duduk di atasnya. Narita membuka rantang, menyerahkan piring dan sendok ke mereka.
“Kak, kita barengan ya!” ujar Davis.
“Manja!” keluh Narita cemberut.
“Makanan di piring Kak Na terlihat lebih enak, aku nebeng aja, nanti aku suap sendiri” nego Davis karena dia melihat Narita mengambil semua lauk dan sayur lalu mengaduknya menjadi satu, terlihat tak beraturan yang menurut Davis terlihat lebih enak.
Selanjutnya mereka makan siang sembari bersendau gurau.
“Kak Na pesen makanannya dari kemaren sore ya?” tanya Aldi.
“Enak aja. Aku masak sendiri lho” jawab Narita.
“Gak mungkin. Ini rasa restoran!” ujar Bagas.
__ADS_1
“Gak percayaan banget sie loe pada, gue nie saksinya!” bela Davis.
“Lah, loe emangnya nginep di tempat Kak Na, sampai tau kalau ini masakan dia sendiri?” Aldi protes.
“Gue kan udah sering makan masakan Kak Na” Davis keceplosan, lalu spontan menutup mulutnya.
“Sering?” tanya Bagas keheranan.
“Maksud gue, gue pernah sesekali makan masakan kak Na” jawab Davis tak berani menatap Bagas, hanya pura-pura mengaduk makanannya.
“Wah, Kak Na mah istri ideal. Mandiri, dewasa, cantik, sholehah, pinter masak lagi!” puji Aldi sambil melirik Davis, namun yang dilirik malah cuek.
Seusai makan siang, mereka kembali ke wahana yang ingin mereka naiki. Sesekali mereka berempat berangkulan dan melangkah bersama.
"Bareng kalian, aku jadi berasa abege" seru Narita disambut gelak tawa semuanya.
Narita tidak begitu suka wahana yang ekstrim, dia lebih memilih menunggu daripada turut menaikinya, sedangkan Davis lebih memilih menemani Narita. Saat mereka berdua menunggu, spontanitas Davis memeluk leher Narita seolah memperlakukakannya seperti Bagas dan Aldi. Narita pun hanya tersenyum karena itu pelukan sahabat.
Suatu momen Davis melihat rambut Narita yang berombak, terlihat berantakan dan terombang-ambing tertiup angin.
“Kak, hadap sini!” Narita spontan menghadap ke arah Davis ketika tangan Davis yang tak memegang paying memegang pundaknya, lalu dia pun menerima payung yang dipegang Davis. Davis membuka bumbagnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam.
“Nah cantik” ujar Davis seusai memasangkan jepit rambut berhias pita warna gold di rambut belahan kiri Narita.
Dirabanya jepit rambut itu “Tumben kamu beliin aku kaya gini? Sok romantis!” Narita menepuk lengan Davis.
“Siapa bilang aku beliin kamu, ini jepit rambut Alin yang tertinggal di tas ku!” bela Davis.
“Yahh, jangan dong!” Narita segera melepas jepit itu dari rambutnya, tapi ditahan kembali oleh Davis.
“Jangan dicopot Kak, dia gak bakal inget sama barangnya yang ilang. Percaya deh!” berniat untuk menahan dicopotnya jepit rambut itu, secara tidak sengaja Davis memegang tangan Narita.
Nampak kegugupan di antara mereka. Namun sebentar kemudian, Narita berkata “Owh ya udah” langsung menarik tangannya.
Puas jalan-jalan dan menaiki wahana yang mereka inginkan, mereka pulang. Seusai Narita diantar ke kosnya. Davis melajukan mobilnya bersama kedua sahabatnya.
“Kalian berdua harus pegang janji ya!” ancam Davis.
__ADS_1
“Tenang aja Bro” jawab Aldi menepuk pundak Davis yang menyetir di sampingnya.