
NARITA POV
Entahlah bagaimana akhir kelanjutan acaranya, kini Dave dan seluruh keluargaku sudah berada di rumah sakit. Rafina sudah ditangani dokter. Kami masih menunggu di luar ruang tindakan.
Aku menangis sembari memeluk ibu.
“Kamu tenang ya, Nak! Jangan panik dan stress begini!” kulihat ibu pun nampak cemas, namun sepertinya dia berusaha menyembunyikan kecemasannya.
Sementara itu, Mr. Dave pun terlihat bolak balik di depan kami. Dia pun tak sabar menunggu pemeriksaan dokter.
“Bu, apa Rafina pernah sakit seperti ini sebelumnya?” sesaat setelah mengendurkan pelukanku, aku menatapnya dan bertanya akan hal itu.
“Tidak, Nak!” kepala ibu menggeleng dan terdengar isakannya.
“Lalu, kenapa Rafina sampai pingsan?” aku kembali memeluk ibu dari samping. Ibu tak menjawabnya hanya membelai lembut punggungku.
Setelah 30 menit Rafina berada di ruang tindakan, pintu terbuka dan keluarlah 2 orang berbaju putih.
“Keluarga pasien?”
“Saya ibunya” meskipun aku yang menjawab, tapi bapak, ibu, Dave dan aku langsung berlari mendekati dokter itu.
“Pasien hanya menderita anemia, kami sudah menanganinya untuk sementara, tapi kami masih memeriksa golongan darah dan sistem rhesusnya. Kami cukup lama menangani pasien karena kami perlu melakukan observasi atas penyebab pasien terkena anemia. Dan,,,,” dokter menjeda ucapannya. Kami masih terdiam menunggunya melanjutkan kalimatnya.
“Dan apa, Dok?” suaraku menunjukkan kepanikan.
“Dan tolong anggota keluarganya bersiap untuk menyumbangkan darah, mengantisipasi kemungkinan kami tidak memiliki stock darah yang cukup” lanjut dokter itu.
“Kami semua siap, Dok.” Sahut Dave.
Bapak dan Ibu yang tak memahami Bahasa Inggris tidak mengerti apa kata dokternya. Tapi mereka sangat menguatkanku, bapak di kanan dan ibu di kiriku, menepuk-nepuk pundakku dengan lembut.
“Pasien akan segera kami pindahkan ke ruang perawatan. Sesuai instruksi Anda, Tuan. Pasien akan kami tempatkan di ruang VVIP”
“Ya, lakukan yang terbaik untuknya!” lalu Dokter itu pun mengangguk dan pergi meninggalkan kami.
__ADS_1
***
AUTHOR POV
Kini semua sudah berada di ruang rawat inap Rafina. Ruangan yang sangat besar untuk ukuran kamar VVIP. Ruangan ini sekilas nampak seperti sebuah apartemen mewah. Berada di dalamnya sama sekali tak ada kesan rumah sakitnya.
Rafina sudah sadar, tapi dia masih belum bisa menggerakkan badannya karena lemas. Sofa single sengaja aku letakkan di samping kanan brankar Rafina, agar aku bisa duduk menemaninya dengan nyaman. Sementara itu ibu juga duduk di sofa single di samping sebelah kirinya.
“Unda” panggilnya pelan.
“Iya sayang. Kamu mau apa, Nak?” Narita langsung mendekatkan wajahku ke wajahnya.
“Fina di mana?” matanya menyampu langit-langit ruangan.
“Di rumah sakit, Sayang. Fina mau apa?” dia hanya menggelengkan kepalanya perlahan.
Lalu dia mengedarkan pandangan ke beberapa orang yang tengah menungguinya.
“Uncle Dave” mendengar namanya disebut, Mr. Dave segera bangun dari duduknya dan berdiri di sampingku.
“Iya Sayang. Apa kamu ngerasain ada yang sakit, Sayang?”
“Yasudah tiduran saja ya!” Dave mengelus kaki Rafina yang masih rapi di dalam selimutnya.
Tiba-tiba kedatangan seorang dokter, mengagetkan kami. Dia datang dengan tergopoh-gopoh seperti ingin menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting. Narita pun akhirnya bangkit dari duduk.
“Tuan, ada yang harus kami sampaikan” ucapnya setelah dia berdiri di ujung brankar deket kaki Rafina.
“Katakan, Dok” sahut Dave.
“Jenis golongan darah Rafina Rh-null.”
“Lalu?"
“RH-null adalah golongan darah paling langka di dunia. Golongan darah ini dapat ditransfusikan ke semua jenis golongan darah. Namun, orang dengan golongan darah Rh-null hanya bisa menerima transfusi darah dari jenis golongan darah yang sama. Karena pewarisan Rh terjadi secara autosomal dominan, maka janin yang Rh- mendapat warisan tersebut dari kedua orangtuanya. Itu artinya, Mommy dan Daddy nya bersiap untuk melakukan tes pencocokan golongan darah”
__ADS_1
Mendengar penjelasan Dokter, badan Narita langsung terhuyung ke belakang. Jikalau tak langsung ditahan oleh Dave, mungkin Narita sudah terjatuh.
Berita ini bagai petir yang menyambar di cuaca cerah siang hari. Narita sama sekali tak menyangka bahwa anaknya memiiki golongan darah paling langka di dunia. Air mata kembali lolos dari sudut matanya, mulut dia tutup dengan tangannya, bahunya bergetar hebat menandakan dia tengah menangis kencang meski tanpa bersuara.
“Siapa orang tua pasien?” tanya dokter itu lagi.
“Sa--saya, Dok” meski tergagap, Narita langsung berdiri, sesekali tangannya menghapus jejak air mata di pipinya.
“Mari!” Narita pun bergegas mengikuti langkah dokter itu.
Di sepanjang jalan dia masih terisak meskipun pelan.
Tak berapa lama setelah kepergian Narita, ponsel Dave berdering, lalu dia mengangkatnya. Mommy, Daddy, dan Opa yang saat ini telah berada di rumah sakit luar kota mengabarkan bahwa Dave kecelakaan. Kata dokter kondisinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hasil rontgennya juga bagus, Davis pun sudah sadar meskipun masih lemas katanya.
Dave tak kalah kagetnya mendengar kabar kecelakaan Davis.
“Apa??” teriaknya.
Menyadari bahwa dirinya sedang berada di ruang perawatan Rafina, dan dia juga takut mengganggu Rafina yang tengah bercengkrama dengan neneknya, Dave pun segera meminta ijin untuk keluar kamar. Semua orang yang mendengar Dave mengangkat telp lalu berteriak, spontan menoleh semua padanya. Bahkan saat Dave keluar kamar pun, mata mereka bergerak mengikuti Langkah kaki Dave.
Kepada Dave, mommy yang memegang ponsel lalu menceritakan kejadian kecelakaan itu.
Dave tidak tau kalau Davis ada tugas keluar kota, karena dia sama sekali tak meminta ijin pada Dave. Sejenak Dave berpikir, apa mungkin Davis keluar kota hanya untuk menghindari rencanaku?
“Dave,,Dave,,,Dave” panggilan Mommy di telepon mampu menyadarkannya dari lamunan sesaat.
“Iya, Mom”
“Kamu masih di situ kan?”
“Iya Mom”
“Apa besok kamu bisa jemput Davis, Sayang? Rencananya kami akan memindahkannya di rumah sakit tempat anak Narita dirawat” Dave hanya terdiam dan tak langsung menjawabnya.
__ADS_1
“Maaf Mom, sepertinya tidak bisa. Aku masih harus membantu Narita di sini."
Setelah mengobrol hal penting untuk beberapa saat, Dave segera menutup ponselnya dan kembali masuk dengan menebar senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi dia cukup lega ketika keluarganya mengabarkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisi Davis. Katanya hanya cukup menunggunya bangun.