CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
RAYUAN ALI


__ADS_3

DAVE POV


 


Sepiring nasi goreng yang pernah aku liat ketika aku di Indonesia kini telah tersaji di depanku. Baunya yang sedap menggugah selera membuatku tak tahan untuk segera melahapnya. Secara tampilan, menurutku biasa aja, tidak ada yang menarik, tapi entah kenapa baunya bisa seenak ini. 


Aku yang terlalu pilih-pilih makanan, selama ini ta mudah memenuhi selera lidahku. Aku lebih memilih makan buah saja daripada makan makanan yang tak enak. Tak menunggu waktu lama, aku segera menyuap nasi goreng seujung sendok makan, niat awal hanya ingin mencicipinya.


Wow,,,enak. Bahkan lebih enak dibandingkan nasi goreng yang pernah aku makan ketika di Indonesia. Memang terasa sedikit pedas hingga meninggalkan sensasi sedikit terbakar di lidah dan bibirku. Tapi ini bener-bener enak, bikin candu, pengen lagi dan lagi. Tanpa terasa, dalam waktu singkat, piringku sudah kosong, sampai ke buliran-buliran nasi yang terakhir.


Tidak pernah aku sarapan dengan menu seberat ini sebelumnya. Saking kenyangnya, perutku terasa mau meledak. Ternyata aku telah salah, menyepelekan penampilan tapi taste nya bener-bener luar biasa.


“Chef, bisakah kamu memasak menu seperti tadi?” tanyaku pada salah satu Chef terbaik di rumahku.


“Eh eh eh, saya akan coba pelajari resepnya Mr” jawabnya gugup.


“Besok aku mau menu seperti ini lagi! Tolong disiapkan!” perintahku tegas, lalu aku bergegas berdiri.


Aku berjalan menuju pintu depan, sepanjang perjalanan menuju pintu depan, aku memperhatikan beberapa orang asisten yang berada di luar rumah tengah membawa piring yang berisi makanan. Kenapa tiba-tiba mereka berkumpul di sana sepagi ini?


Sesaat kemudian, asisten pribadiku datang menghampiri lalu menyapa.


“Pagi, Mr”


“Pagi. Ted, aku liat dari tadi beberapa asisten rumah tangga lalu lalang, mereka berkumpul tuh di sana, ada apa memangnya?”


“Maaf Mr, nanti saya sampaikan kepada Drake agar mereka dikondisikan” jawabnya yang jelas tidak nyambung dengan pertanyaanku.


Aku hanya menghela nafas berat mendengar jawaban Teddy yang sama sekali tak memuaskan.


“Bukan itu maksudku Ted, aku hanya ingin tau apa yang mereka lakukan hingga sepertinya berkumpul di satu tempat yang sama. Selama ini mereka tak pernah terlihat berkumpul-kumpul seperti itu” tanyaku ulang.


“Owhh,,,itu karena mereka tadi sarapan bersama, Mr” jawab Teddy.


“Tumben? Emang biasanya enggak ya?” kini Teddy telah membukakan pintu mobil untukku.


“Biasanya mereka sarapan dengan menu yang berbeda-beda, Mr. Sesuai dengan keinginan dan selera masing-masing, namun kebetulan pagi ini ada yang memasak nasi goreng, Mr. Jadi mereka sarapan bersama nasi goreng itu. Hehehe, bahkan tadi saya sedikit terlambat karena ikut makan nasi gorengnya, Mr!” jawab Teddy dengan diselingi tawa kecil beberapa saat setelah kami sama-sama berada di dalam mobil. 


“Nasi goreng? Nasi goreng seperti yang aku makan tadi?” aku memastikan.


“Iya, Mr. Dia bukan chef tapi masakannya enak, Mr. Saya pernah makan opor ayamnya, enak”


“Bilang ke Drake, minta dia memasak di dapur rumah utama. Tolong dia menyiapkan sarapanku tiap pagi!” jujur aku penasaran dengan apa yang dikatakan Teddy. Aku tidak sabar menanti, menu apa yang akan dia masak esok hari.


“Baik, Mr” jawabnya mantap. 


Sejenak aku berpikir, kalau memang dia bukan chef di rumahku, lalu dia siapa?

__ADS_1


“Ted, kamu tau siapa yang memasak nasi goreng tadi?” aku bertanya tanpa memandangnya karena kini aku tengah membuka ipad untuk melihat jadwalku hari ini.


“Lha, Mr udah makan nasi gorengnya, memangnya gak tau siapa yang masak?” tanya Teddy heran. 


“Gak!” jawabku pendek namun dengan tegas. 


“Astaga!” tangan kanan Teddy menepuk jidatnya sendiri. Dia sama sekali tidak habis pikir dengan bosnya yang satu ini, bisa-bisanya dia tak penasaran dengan seseorang yang memasak makanan yang sesuai seleranya. Dia yang tak mudah menerima taste makanan, sungguh luar biasa berarti masakan orang tadi kalau bisa dipuji enak oleh Mr. Dave.


“Siapa, Ted?” tak kunjung mendapatkan jawabannya, Dave mengulangi pertanyaannya namun kali ini dengan nada pelan.


“Narita, Mr” jawab Teddy dengan wajah menatap lurus ke depan, sementara itu Dave yang berada di baris kedua sendirian, tiba-tiba mendongak dan menatap Teddy yang ada di depannya.


“Mahasiswa S3 itu? Nanny nya Karen?” Dave memastikan bahwa tidak ada Narita selain yang ia sebutka


 


“Iya, Mr. Bahkan dia sudah menanam beberapa macam sayuran di kebon belakang yang biasa tumbuh ilalang. Segera dimanfaatkan olehnya, hingga terlihat lebih rapi dan tak semenyeramkan dahulu”


Seperti apakah wanita bernama Narita ini? Karen bisa sangat tergantung padanya, bisa dan mau memasak ditambah rasanya enak, sekarang ternyata dia juga bisa berkebun. Makin penasaran. Kagum.—batin Dave.


AUTHOR POV


Narita nampak bahagia ketika semua orang menikmati masakannya. Semua memuji masakannya enak, meskipun mereka kepedesan. Bahkan di luar dugaan, tuan besar yang tidak pernah dia liat pun menginginkan makanannya, bahkan kata chef yang ada di sana, tuan besar menghabiskan semua nasi gorengnya dan meminta chef untuk memasakan masakan yang sama esok hari.


 


 


“Hari ini ke kampus jam berapa?” tanya Ali yang sudah sedari tadi berada di samping Narita.


 


“Hari ini pengen off aja dulu. Mau ngajak Karen main di taman” jawab Narita masih memandang temen-temennya yang tengah makan.


 


“Owh, aku juga kosong kuliahnya. Boleh aku ikut gabung?” Narita langsung menoleh ke Ali, tersenyum dan mengangguk.


 


--- Di sebuah taman---


 


Dengan rerumputan nang menghijau, cuaca cerah dibelai semilir angin sepoi sepoi, tak panas namun juga tak terlalu dingin. Sejuk. Seorang anak kecil yang sudah mulai bisa berjalan, tengah berkejar-kejaran sembari memanggil-manggil nama seseorang.


 

__ADS_1


“Nanny Na,,,nanny Na!” teriaknya.


 


Seorang wanita dewasa dengan jilbabnya yang menjuntai cukup panjang, rok panjang, kemeja corak abstrak namun terlihat serasi dari atas sampai bawah. Ditambah tiupan angin semilir dan dia yang sedang berlarian mengibarkan jilbabnya, terlihat sangat manis dan anggun.


 


Senyum yang merekah, terpancar sangat bersinar. Dia yang berpakaian serba tertutup, namun terlihat sangat anggun. Dia yang mengenakan baju tanpa memperlihatkan lekukan bentuk tubuh, namun terlihat seksi di mata Ali. Tak henti-hentinya Ali memandangnya yang kini tengah berlarian berkejaran dengan seorang anak kecil. Mereka terlihat sungguh sangat bahagia.


 


Mereka tak nampak seperti nanny dan anak asuhnya. Mereka seperti ibu dan anak. Terlihat kasih sayang Narita yang terpancar begitu tulusnya.


 


Karen yang telah beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan Ali, membuatnya sangat mudah akrab dengan Ali. Karena kelelahan mengejar Narita yang tak kunjung tertangkap, akhirnya dia menghambur dan tiba-tiba menjatuhkan diri memeluk Ali.


 


“Ali,,,,,” Bruk suara tubuh kecilnya membentur tubuh besar Ali.


 


Lalu Narita menghampiri keduanya. Ali saat ini duduk di atas rerumputan dengan Karen yang kemudian sekarang sudah berubah posisi berada di pangkuannya.


 


“Hufh capek. Kejar-kejaran sama Batita aja capek! Faktor Usia kali ya?” gerutu ku sembari mendudukkan pantatku di rerumputan di depan posisi duduk Ali dan Karen.


 


“Capek, Na?” tanyanya.


 


“Hmm” Narita sedikit mengangguk dan tersenyum.


 


Lalu Narita mengeluarkan air minum dari tas kecil Karen untuk diberikan pada Karen. Anak itu langsung meraihnya dan berkata “Terima kasih nanny Na”


 


“Sama-sama, Sayang” jawaban Narita membuat Ali tersenyum lebih lebar.


 

__ADS_1


“Kamu memang bener-bener cantik, Na! Bahkan hatimu secantik bidadari” ucapan Ali membuat Narita segera menoleh kepadanya, senyum manis yang tadi ditebarkannya untuk Karen tiba-tiba terhenti. Terlihat perubahan ekspresi mendadak darinya. Namun sepersekian detik kemudian, Narita tersenyum mencibir dan menggelengkan kepalanya sembari berkata “Gak mempan rayuanmu Ali!”


__ADS_2