
DAVIS POV
Akhirnya hatiku tenang kembali. Narita menerima masa laluku. Kami kembali bersama. Peristiwa ini sudah aku nantikan sejak beberapa hari lalu. Andaikan aku mampu menurunkan egoku untuk membujuknya, merayunya, dan keukeuh meminta maaf padanya, takkan sulit bagi seorang Narita yang baik hati untuk memaafkanku.
Sebenernya aku tau dia pernah melontarkan pertanyaan mengenai permasalahan dalam rumah tangga kami di sebuah acara taukziah di stasiun televisi. Waktu itu dia sedang berada di kamar kami, sedangkan aku sudah berada di ruang tengah dengan menyalakan channel yang sama.
Meski aku tak yakin dengan keputusan yang akan dia ambil, tapi aku senantiasa berharap dia mengikuti saran Ustadzah itu. Dalam sholatku 5 waktu, aku senantiasa mendoakannya dan memohon pada Nya agar hati Narita diluluhkan, dilembutkan, dan menerima permintaan maafku. Alhamdulliah doa dan usahaku berbuah manis.
Saat aku menunggunya mandi, ponselku berdering.
“Hallo Grandpa”
“Vis, segera kamu terbang ke Aussie!”
“Ada apa Grandpa? Apakah ada perkembangan sama Mommy and Daddy?” tanyaku heran.
“Iya. Mereka sudah sadar, mereka meminta anak-anaknya berkumpul!”
“Alhamdullillah, terima kasih ya Allah” spontan kuletakkan ponselku dengan kasar dan segera sujud syukur.
“Viss, vis,,,vis,,,kamu masih di situ kan?”
“Iya Grandpa. Aku segera siap-siap” kuraih ponselku kembali.
“Rio sudah aku kabari, sekarang dia sedang siap-siap. Pesawat jet juga sedang dipersiapkan dan sebentar lagi dia akan datang ke rumah utama.”
“Terima kasih Grandpa kabar baiknya! Aku segera pergi”
“Inget vis apa yang menjadi kesepakatan di keluarga kita!”
“Iya, Grandpa!” aku sedikit melemah menuruti peringatannya yang terakhir.
Segera aku menuju walking closet, mengeluarkan koper berukuran sedang dan menata baju-baju yang hendak aku bawa. Setelah dirasa cukup bawaan, segera aku tutup koper dan kuseret ke deket pintu agar nanti tinggal dibawa aja. Aku pun tak lupa bersiap untuk mengganti baju. Ketika aku telah memakai celana jeans dan kini sedang bertelanjang dada karena hendak mengenakan kaos yang telah ada di tanganku tiba-tiba terdengar pintu kamar mandi dibuka. Kulihat Narita keluar hanya mengenakan handuk berukuran sedang untuk menutupi tubuhnya. Handuk yang kekecilan itu, tak cukup aman menutupi tubuh bagian atas dan bawahnya, sehingga membuatku yang selama beberapa hari ini berpuasa tak kuasa menahan keluarnya air liurku.
Dia yang tak acuh dan dengan santai melenggang ke walking closet, segera kususul. Ketika dia hendak meraih baju tidur, segera kubalik badannya dan entah bagaimana ceritanya hingga akhirnya kami pun meluapkan rasa rindu kami selama seminggu ini dengan pertempuran yang cukup panas.
Aku yang sedang berada di surga, seolah lupa akan rencanaku malam ini. Dalam benakku, aku hanya ingin meluapkan rasa dahagaku dan meminta bekal karena selama beberapa hari ke depan kami harus berjauhan. Pikirku, biarlah Rio yang menungguku, daripada aku yang gila karena harus puasa terlalu lama.
Setelah pertempuran panas kami, mau tak mau dia harus mandi lagi, beegitu pula denganku. Awalnya demi niat menghemat waktu kami masuk ke kamar mandi Bersama, nyatanya bukannya hemat waktu malah justru acara mandi malah justru menjadi lama. Kini Narita yang seolah menggodaku dan aku pun tak kuasa menahan godaan. Kami pun terbuai dalam percikan air surga, menyatu dalam cinta, menabur asa dan harapan untuk meraih masa depan Bersama.
Usai pertempuran di bawah guyuran shower dan di dalam bath up, aku yang telah selesai membersihkan badan dan mandi junub akhirnya keluar kamar mandi terlebih dahulu. Aku segera mengenakan celana jeans dan baju casual. Tak berapa lama, Narita pun keluar dengan dress code yang sama yaitu berbalut handuk kekecilan.
__ADS_1
“Hadew sayang, kamu kenapa keluarnya pake itu lagi sie?? Bikin aku pengen menerkammu lagi!” aku mencoba memeluknya dan menciumi rambutnya yang basah.
“Ihhh minggir-minggir, Mas! Bisa masuk angin aku kalau begini caranya” dia segera mengurai pelukanku dengan paksa dan berlalu ke walking closet.
“Sayang, kamu rapi banget, mau kemana?” Narita sudah keluar dari walking closet dengan mengenakan piyama tidur celana panjang dan baju panjang.
“Sayang, Mommy and Daddy menyuruhku segera ke Aussie. Aku harus pergi malam ini juga.”
“Sayang, kamu gakpapa kan aku tinggal di rumah sendiri?” aku merasa tak enak hati ketika aku mengatakannya karena aku belum bisa membawanya turut serta ke Aussie.
“Kenapa mendadak?” mimik mukanya berubah sedih dan seolah tidak merelakanku untuk pergi.
“Iya karena ada hal penting yang harus segera kami selesaikan.”
“Maaf Sayang aku belum bisa mengajakmu! Nanti saat ketemu Mommy and Daddy aku akan menceritakan soal pernikahan kita ke mereka” aku memegang kedua lengannya dan menatap kedua bola matanya dengan penuh cinta, berharap dia mengerti apa yang tengah aku rasakan kali ini.
“Kapan baliknya?” kudengar tarikan nafas panjangnya seolah tak merelakanku pergi.
“Aku usahakan segera, tidak lebih dari seminggu” jawabku dengan masih menatapnya lekat ke kedua bola matanya.
“Rio ikut?”
“Iya tentu, Sayang”
“Enggak. Hmm sebenernya aku gak tau juga, tapi aku pastikan dia tidak boleh ikut!” aku meyakinkannya bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang hubunganku dengan Alin.
“Ya,,,yasudah,,,aku hanya bisa pasrah.” Dia berusaha melepaskan tanganku dari lengannya dan menuju ke meja rias lalu duduk di depan meja ria.
“Sayang, kamu marah?” aku segera menyusulnya dan dengan posisi sedikit menunduk untuk bisa memeluk kepalanya dan mencium pucuk kepalanya dari belakang.
“Cepat kembali!”
“Jujurlah pada keluargamu tentang hubungan kita! Aku tidak mau berlama-lama menjadi istri simpananmu!” dia tidak menjawab pertanyaanku tapi malah mengatakan hal lain.
“Iya aku janji Sayang, aku segera pulang. Kalau tidak membawa pulang Mommy and Daddy, aku akan menjemputmu untuk membawamu ke mereka dan meminta restu langsung di hadapan seluruh keluargaku.” Aku menatapnya dari pantulan wajah kami di cermin.
“Sayang” aku membalik badannya dan berjongkok di hadapannya untuk mensejajarkan tinggi badan kami.
“Kamu baik-baik di sini ya!”
“Jangan sering keluyuran dengan temen geng mu, jika tanpa ijin dariku!”
“Jangan berduaan saja dengan yang bukan mahrom!”
__ADS_1
“Makan teratur, tidur teratur, dan jangan terlalu sibuk bekerja!”
“Aku usahakan untuk berkirim kabar dengan rutin”
“Hmm?”
Mata kami saling bertemu dan dia nampak mencari cerminan dirinya di dalam bola mataku.
“Begitu pula sebaliknya pesanku untukmu, Mas!”
“Jaga diri baik-baik!”
“Inget, di sini ada seseorang yang selalu menunggumu”
“Aku mau kamu langsung menolaknya jika orang tuamu menjodohkanmu dengan seseorang di sana!”
“Hah??” aku tertawa kecil ketika Narita berpikir hal yang aneh menurutku.
“Lhooo siapa tau, Mas. Seperti di novel-novel itu, seseorang disuruh cepet-cepet menemui orang tuanya ternyata orang tuanya menjebaknya dengan perjodohan yang mau tak mau harus diturutinya!” ungkap Narita, yang malah makin membuatku tertawa terbahak-bahak.
“Orang tuaku gak kaya gitu, Sayang”
“Meskipun mereka punya pilihan untuk ditawarkan menjadi pendampingku, tapi mereka tidak akan sekolot itu memaksa anaknya menikahi seseorang!”
“Tapi aku pastikan, aku akan menolaknya jika itu terjadi! Percaya sama aku ya! Hm?” kulihat dia mengangguk pelan.
“Maaf Sayang!”
“Kamu harus menunggu terlalu lama untuk menjadi istri sahku!” aku berdiri dan memeluknya yang sedang duduk. Dengan wajahnya dia menekan keras perutku sebagai tanda betapa dia tidak rela melepas kepergianku kali ini.
“Kalau aku boleh memilih, aku ingin ikut denganmu!” suaranya terisak dan serak.
Aku tak mampu menjawabnya, dan hanya membelai lembut punggung dan kepalanya.
----TO BE CONTINUED----
__ADS_1
PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!