
AUTHOR POV
2 tahun kemudian
Di sebuah taman yang sangat indah, terhampar rumput yang menghijau, cuaca cerah namun berhawa sejuk, terdapat seorang anak kecil lucu, cantik, berwajah bule dengan rambut blonde dan keriwil sedang berusaha belajar berdiri.
Senyumnya yang ceria dan manis, dengan pipi gembul dan hidung mungil namun mancung mambuat siapa pun yang melihatnya akan gemas.
“Ayo sayang, sini sayang!” seru seorang wanita yang tengah berdiri dengan bertumpu pada lututnya sementara kedua tangannya terulur ke depan.
Si cantik yang menggemaskan itu hanya tertawa kegirangan menyahut seruan perempuan tadi. Dia berusaha untuk berdiri lalu melangkah, jantuh, bangun, berdiri dan melangkah lagi, berusaha mendekat ke perempuan itu dan meraih tangannya. Begitulah si cantik berusaha berjalan di atas rerumputan.
“Sayang, sudah yaa sekarang kita istirahat. Minum dulu, Sayang!” perempuan itu mengangkat tubuh anak kecil itu ke dalam pelukannya lalu memberikan botol kecil berwarna pink yang berisi air putih.
“Mamamamama,,,mamammamamam” si cantik mengoceh sembari meraih botol itu lalu meminum dari sedotan.
Seorang perempuan dengan penampilan nan anggun tengah memeluk si cantik dengan menggunakan tangan kanannya sementara tangan kiri tengah memegang botol minum.
“Capek, Sayang? Haus ya?” tanyanya dan hanya dibalas dengan tatapan nan menggemaskan oleh si cantik nan imut.
Perempuan itu kemudian melirik jam yang dipakai di tangannya.
__ADS_1
“Sudah sore, Sayang. Pulang yuk!” seolah memahami apa katanya, si cantik lalu melepas sedotannya, beranjak bangun dari posisinya.
Perempuan anggun dengan penampilan wanita muslimah, berjilbab lebar, berbaju longgar dan mengenakan rok itu lalu menggendong si cantik dengan teramat sayangnya. Tak ayal si cantik yang telah berada di gendongannya segera merangkul leher si perempuan yang tak lain adalah Narita.
Ya, Narita kini telah mengubah penampilannya. Dia mengenakan jilbab syar’i, berusaha membiasakan diri mengenakan baju longgar dan rok, meskipun dia memiliki badan mungil, tapi dia bisa mencari ukuran yang tepat untuk baju muslimnya agar tidak melanggar syariah namun tetap terlihat keren. Ya, penampilan dia selalu terlihat segar, chic, dan trendy. Dia telah menanggalkan kacamata yang dulu selalu dipakainya, karena dia telah menjalani operasi lasik. Dia hanya memulas wajahnya dengan skincare dan make up tipis untuk sehari-hari agar wajahnya terlihat lebih segar. Mungkin siapa pun yang melihatnya sekarang, belum tentu langsung mengenalinya.
Setelah berjalan 15 menit dengan menggendong si cantik yang berumur 1 tahun, tibalah mereka di sebuah rumah besar yang memiliki halaman dan taman yang luas. Di sana terdapat 1 rumah utama, dan beberapa rumah pavilion lainnya yang diisi oleh beberapa asisten rumah tangga dan beberapa orang kepercayaan si pemilik rumah.
Narita membawa si cantik ke rumah utama lalu mengajari kebiasaan mencuci tangan ketika sampai di wastafel, lalu mendudukkannya di baby chair di dekat meja makan.
“Sayang, tunggu yang manis di sini ya,,!” si cantik mengangguk patuh, lalu Narita melangkah ke dapur.
Tak berapa lama, dia telah kembali dengan membawa semangkuk makanan di tangan kiri dan segelas kecil air putih di tangan kanannya. Dia duduk di salah satu kursi di area meja makan itu. Sesaat kemudian, Narita meletakkan keduanya ke meja, lalu mengajarkan ke si cantik untuk menengadahkan tangan seraya berdoa.
“Nah, doanya sudah, sekarang makan ya, Sayang!” Narita mulai menyuapkan makanan dan si cantik melahapnya dengan senyum merekah.
“Anak pinter. Makan yang banyak ya, Sayang! Biar cepet gede!” ucapnya sembari kembali menyuapkan makanan ke mulut si cantik.
Setelah dia menyuapi si cantik, Narita segera menggendongnya untuk menaiki anak tangga dan sampailah di lantai 2, lalu dia masuk ke salah satu kamar yang ada di lantai 2, ya kamar si cantik. Narita memandikannya di kamar mandi di dalam kamar itu. Setelah mandi dan mendandaninya, mereka kembali keluar kamar untuk kembali ke pavilion 101 yang terletak di belakang bangunan rumah utama.
“Kak Len, lagi ngerjain apa?” tanya Narita pada Leni yang tengah bersantai di ruang tempat para Asisten bersantai dan menonton televisi, bermain musik, atau melakukan kegiatan entertainmen yang lain.
“Aku sudah selesai, Na. Mau nitip Karen? Sini, Sayang sama Leni ya?” Narita menjawab dengan anggukan kepala lalu menurunkan Karen untuk kemudian dipangku oleh Leni.
__ADS_1
“Terima kasih kak. Aku gak akan lama!” Narita segera masuk ke kamarnya.
Leni adalah wanita berusia 40 tahun, dia salah satu asisten di rumah itu. Leni adalah seseorang yang paling dekat dan akrab dengan Narita karena Leni adalah asisten yang khusus bertugas membersihkan ruangan di lantai 2, dimana kamar Karen berada dan sekaligus ada area bermainnya Karen.
Ya, gadis kecil nang menggemaskan itu adalah Karen. Usianya yang baru setahun, masih belum bisa bicara dengan jelas, masih belajar berjalan, dan sudah mulai mengenali orang. Dia tak mudah untuk menerima orang asing di sampingnya, namun itu tak berlaku untuk Narita dan Leni. Dengan mereka, Karen sangat patuh.
Bersama Leni, Karen tengah bermain piano-pianoan kecil yang selalu dia bawa-bawa. Leni yang menonton televisi, begitu dititipin Karen, perhatian segera dia alihkan untuk menemani Karen bermain.
“Karen nyanyi yuk!” ajaknya. Lalu Leni menekan piano secara tak beraturan, sementara itu dia menyanyikan lagi yang sangat disukai Karen.
Entah apa yang ada di benak Karen, mendengar nyanyian dan musik Leni yang tak beraturan, dia malah tertawa terbahak-bahak. Kejadian menggemaskan itu dijadikan alasan Leni untuk makin membuat Karen makin terpingkal-pingkal. Yahh begitulah anak kecil, hal sederhana saja sudah membuat mereka terlihat bahagia.
“Ih,,,,si cantik happy banget, main apa sama Leni?” melihat Narita yang mendekatinya, Karen langsung merangkak mendekatinya dan mengulurkan kedua tangannya sebagai tanda ingin meminta digendong olehnya.
“Sayang, di sini dulu ya main sama Leni. Nanti habis maghrib, kita kembali ke kamarmu” bujuk Narita lalu Karen kembali mendekati Leni.
“Besok kamu ngampus jam berapa?” tanya Leni dengan padangan ke mata Narita meskipun tangan masih menekan tuts piano kecil Karen.
“Aku cuma ke perpustakaan, Kak. Aku perginya setelah Kak Leni selesai pekerjaannya dan aku selesai menyuapi dan mendandani si cantik” jawab Narita.
“Jam 10.00 gimana?” tanyanya memastikan.
“Iya boleh, Kak. Makasih ya Kak!”
__ADS_1
“Iya sama-sama”
“Gimana tawaran tuan biar kamu menginap di sini aja?” mendengar pertanyaan itu, Narita mengulas senyum manisnya.