CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
NYAYIAN PILU 1


__ADS_3

NARITA POV


Usai mereka menyelesaikan sarapannya, aku berusaha menghindari tatapan dan menjauhkan diri dari jangkauan Ali. Aku menyibukkan diri dengan mengangkati piring kotor, membereskan sisa makanan di meja, meskipun hal itu bukanlah menjadi tugasku.


Saat aku hendak menata kembali posisi kursi yang berserakan, kulihat tas tuan Dave masih tergeletak di sana. Ah ini pasti ketinggalan. Segera kuraih tas itu dan dengan berlari kecil aku menghampiri tuan Dave.


“Tuan Teddy, tas tuan Dave ketinggalan” ucapku segera setelah posisiku percis di belakang tuang Teddy dan Dave yang berjalan beriringan.


Mereka berhenti dan Teddy segera meraih tas itu “Ya ampun, kenapa bisa lupa. Terima kasih, nanny Na” ucap Teddy dan saat kumenoleh pada Dave, dia tersenyum dan sedikit mengangguk.


Lalu mereka kembali melangkah. Namun saat aku hendak balik badan, tanpa sengaja mataku menangkap sebuah adegan mesra.


DEG


Hati, tolong jangan lemah begini.


Narita,,,


Ingat, dia bukan suamimu!


Suamimu sudah meninggal 2,5 tahun yang lalu.


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tak kulihat tuan Drake yang biasanya mengawal mereka keluar. Entah dorongan apa, kini aku malah mengikuti mereka keluar. Usai tuan Dave masuk mobil dan mobilnya melaju keluar komplek rumah, kini hanya ada Davis dan tunangannya.


BOD*H


BOD*H


BOD*H


 


Aku kembali mengumpati diri sendiri, kalau tau pada akhirnya akan sakit, kenapa sok ingin tau sie?


Aku melihat mereka berciuman dengan mesranya.


“Astagfirullah al adzim” segera aku balik badan sembari mengucap istighfar. Tanpa permisi air yang sedari tadi mengumpul di pelupuk mata, langsung mengalir deras.


Aku berlari menjauh dari sana. Aku tak mungkin sanggup di sana.


Aku baru teringat tadi aku meninggalkan Karen di baby chair. Segera kuberlari menghampirinya. Kugendong, kupeluk erat, dan menangis dalam diam di belakang bahu Karen. Entah dorongan rasa apa, Karen yang memelukku kini tangannya menepuk-nepuk punggungku. Tangan kecil itu seolah berusaha menguatkanku. Meskipun dia masih kecil, namun sepertinya dia mampu merasakan duka hatiku saat ini. Pelukanku padanya semakin kueratkan, bahuku bergetar dan suaraku sedikit tergugu.


‘Terima kasih, Karen sayang’


 


--- Kolam renang ---


Weekend telah tiba.  Aku melakukan aktifitas seperti biasa. Pagi ini aku menyiram kebun sayuran, lanjut memasak di pavilliun. Ketika melewati area kolam renang, aku berhenti berjalan, mataku terpaku.


Kulihat dia tengah berdiri dan meregangkan otot tangan dan kakinya. Dia bertelanjang dada hanya mengenakan celana ketat khusus untuk berenang. Tak bisa kupungkiri, dia masih seksi, menarik seperti dulu kala. Tiba-tiba pikiranku memutar balik kejadian 2 tahunan yang lalu,,ahhh dasar ‘fiktor’. Hingga suatu moment,,


DEG


Tiba-tiba tatapan mata kami bertemu. Tiba-tiba dia terdiam. Kami saling menatap tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kami sama-sama terdiam dengan wajah tanpa ekspresi.


Menyadari kesalahanku, segera kuputus tatapannya, berjalan cepat segera meninggalkan tempat itu. Dari sudut mataku, kulihat dia memandangku dan mengikuti pergerakanku hingga aku menghilang dibalik dinding.


Aku sungguh malu dengan tindakanku barusan. Takut dia salah mengartikan tatapan mataku.


Siang ini semua penghuni rumah utama ada di rumah. Penghuni pavilliun juga hampir semua berada di tempatnya. Aku sengaja mengajak Karen untuk bermain di pavilliun 101. Meskipun kami berdua saja, aku segera memasang peralatan karaoke. Untuk menghilangkan suntuk, aku mau mengisi waktu dengan berkaraoke di ruang tivi pavilliun utama.


Aku ingin meluapkan kegelisahan, curahan hatiku melalui lagu. Aku pun mulai bernyanyi seorang diri (ditemani Karen) dengan penuh penghayatan.


Lagu pertama : Just Missing You


When I am by myself


Saat ku sendiri


Looking at photos and videos


Ku lihat foto dan video


That we took


Bersamamu


I’ve been keeping them for so long


Yang telah lama kusimpan


And with my broken heart


Hancur hati ini


I see all the pictures of myself


Melihat semua gambar diri


Living life with-out you just feels so wrong

__ADS_1


Hidup tanpamu terasa begitu tak adil


I want you to be here with me


Ku ingin saat ini engkau ada di sini


I know it sounds crazy


Aku tahu ini terdengar gila


I miss your laugh and


Aku rindu tawamu dan


I miss everything we used to be


Aku rindu semua yang dulu kita lakukan


And even if it is just for a while


Dan meskipun hanya sebentar


Then God please give us the time


Tuhan tolong beri kami waktu


I can’t deal with the reality


Aku tak bisa menerima kenyataan


There’s nothing left that I can do


Tak ada lagi yang bisa aku lakukan


'Cause my heart is just missing you


Karena hati ini hanya rindu


I tried everything


Segala cara telah kucoba


Every way I could forget you


Segala cara agar aku bisa melupakanmu


Just so I can live my life without you, ooh


Nothing is the same


Namun semuanya berbeda


It's hard for me to erase


Sulit bagiku tuk menghapus


All of the memories I have with you


Semua kenangan bersamamu


I want you to be here with me


Ku ingin saat ini engkau ada di sini


I know it sounds crazy


Aku tahu ini terdengar gila


I miss your laugh and


Aku rindu tawamu dan


I miss everything we used to be


Aku rindu semua yang dulu kita lakukan


And even if it is just for a while


Dan meskipun hanya sebentar


Then God please give us the time


Tuhan tolong beri kami waktu


I can’t deal with the reality


Aku tak bisa menerima kenyataan


There’s nothing left that I can do


Tak ada lagi yang bisa aku lakukan

__ADS_1


'Cause my heart is just missing you, ooh


Karena hati ini hanya rindu


Just missing you, ooh


Hanya rindu


I want you to be here with me


Ku ingin saat ini engkau ada di sini


I know it sounds crazy


Aku tahu ini terdengar gila


I miss your laugh and


Aku rindu tawamu dan


I miss everything we used to be


Aku rindu semua yang dulu kita lakukan


And even if it is just for a while


Dan meskipun hanya sebentar


Then God please give us the time


Tuhan tolong beri kami waktu


I can’t deal with the reality


Aku tak bisa menerima kenyataan


There’s nothing left that I can do


Tak ada lagi yang bisa aku lakukan


Ooh, I can’t deal with the reality


Aku tak bisa menerima kenyataan


There’s nothing left that i can do


Tak ada lagi yang bisa aku lakukan


'Cause my heart is just missing you, ooh


Karena hati ini hanya rindu


'Cause my heart is just missing you, mmm


Karena hati ini hanya rindu


It’s your smile that I miss from you


Aku rindu senyumanmu


DAVE POV


Tak seperti weekend sebelum-sebelumnya, entah kenapa weekend kali ini aku ingin sekali mengistirahatkan tubuh dan pikiranku. Baru kali ini kurasakan betapa hidupku terasa sepi. Usai sarapan, aku ke ruang gym untuk ngegym, meskipun seorang diri.


“Kak, bolehkah aku gabung?” Davis datang sudah dengan pakaian olah raganya, aku menoleh padanya dan menjawabnya dengan mengangguk karena saat ini aku sedang treadmill.


Akhirnya dia pun memilih alat olah raga. Sembari berolah raga kami ngobrol. 


“Di mana Jess?” tanyaku ke Davis sembari menurunkan ritme berlari menjadi jalan santai dan mengatur nafas.


“Ngumpul sama temen-temennya! Aku lega akhirnya terlepas darinya juga” Davis menjawab sambil terengah-engah karena olah raganya.


Hanya itu saja percakapan kami, selebihnya kami diam. Ya beginilah hubungan kami, meskipun kami hanya dua bersaudara tapi kami tak terlalu akrab. Entah mungkin karena jarak umur kami yang terlampau jauh, ataukah karena memang dari kecil kami terbiasa terpisah. Kami hanya berbicara seperlunya.


Usai berganti beberapa alat olah raga, aku beristirahat duduk di salah satu kursi dan mengambil botol minum lalu meminumnya sampai tandas. Sejenak kuperhatikan Davis yang masih semangat berolah raga, seingatku tadi pagi dia sudah berenang, sekarang lanjut ngegym.


“Kau sedang ada masalah?” entah mengapa tiba-tiba pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutku, kusadari ini bukan diriku yang seperti biasanya. Aku menjadi sok ingin tau.


Davis segera menghentikan aktifitasnya, dia menoleh padaku dengan dahi mengkerut dan alis yang hampir menyatu. Sepertinya dia terkaget mendengarku menanyakan hal itu padanya.


“Apakah menu makanan Indonesia telah mengubah sikap dan pola pikirmu, kak!” Davis mendekatiku, duduk di kursi sampingku, meraih satu-satunya botol air mineral yang belum dibuka, dia menenggaknya sampai tersisa setengah, lalu kembali menoleh padaku. Kami kini saling memandang, aku tersenyum, lalu membuang muka ke sembarang arah.


“Kakak jadi peduli denganku!?” entah pernyataan atau pertanyaan Davis.


“Dari dulu kakak juga peduli” aku berusaha menutupi ekspresiku, aku berdiri dan segera pergi meninggalkannya dengan berjalan cepat.


“Darimana kakak tau aku sedang memikirkan sesuatu?” Davis berlari kecil menyusulku yang berjalan cepat keluar ruang gym. Tangan kirinya memegang botol minum sementara tangan kanannya tiba-tiba merangkul pundakku dengan mendadak.


“Untuk apa kamu memforsir dirimu dengan olah raga kalau bukan karena sesuatu?” kami berjalan beriringan menuruni tangga dari lantai 3 menuju lantai dasar.


Hingga sesampainya kami di lantai dasar, ksayup-sayup terdengar seseorang tengah bernyanyi. Kami berdua terdiam dan saling berpandangan.

__ADS_1


__ADS_2