CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
NARITA POV) PERNYATAAN CINTA 2


__ADS_3

Hari ini adalah hari Sabtu. Seperti biasa, tiap weekend tiba, aku pasti akan merasa sangat sangat kesepian. Tinggal di apartemen sendirian. Mbak Diva dan Mbak Ami yang tinggal se gedung apartemen denganku terkadang hari Sabtu begini mereka lembur kerja. Iya 4 tahun telah berlalu, aku, Mbak Diva, dan Mbak Ami masih awet dengan status belum menikah. Yang kutau Mbak Ami memiliki pacar bule, tapi hubungan mereka sebatas di media sosial, sedangkan Mbak Diva tidak pernah terbuka dengan hubungan asmaranya.


 


Seusai mandi, belanja sayuran, memasak, dan bersih-bersih apartemen, aku duduk bersantai di sofa dan menonton televisi. Pikiranku kembali melayang pada kejadian semalam.


 


Flashback On


 


“Sebenernyaaaa,,,,,sebenernya aku sudah lama jatuh hati padamu!” kaget mendengar pernyataan Daniel, aku tersedak ludahnya sendiri dan mataku melotot seolah tak percaya dengan apa yang kudengar.


Daniel kembali berkata “Aku tau aku bukan pria yang kamu inginkan, aku tak masuk kriteria pendamping hidupmu! Aku-----”


“Ka ka kata siapa?” tanyaku padanya dengan segera menyela perkataannya, tapi entah kenapa aku jadi gugup begini.


Kulihat Daniel yang selalu terlihat tegas, berwibawa di kala presentasi dan memimpin rapat, namun kali ini dia sangat berbeda. Aku melihat kegugupan dari mata dan gerak tubuhnya. Matanya bergerak ke sembarang arah, kakinya bergetar, kedua telapak tangannya saling menggenggam dan melepas terus menerus.


“Niel…” panggilku lagi.


“Kita beda keyakinan” nada suara beratnya memberi arti begitu sulitnya dia mengucapkan kata itu.


 


Hah,,,,aku menghela nafas kasar nan panjang. Inilah hidupku. Betapa sulitnya Tuhan mempertemukanku dengan seseorang yang tepat. Ya aku akui, Daniel sangat tampan, baik, sopan, dan sangat perhatian. Siapa pun akan mudah jatuh hati padanya. Namun bagaimana dengan aku?? Sejak aku tau perbedaan kami, aku sudah menjaga hatiku untuk tidak jatuh kembali pada kesalahan yang sama seperti yang pernah aku lakukan sebelumnya di kala aku jatuh hati padanya.


 


Kami kembali terdiam dalam waktu yang cukup lama. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Jujur aku ingin berteriak dan menangis. Tuhan, aku ingin membuka hatiku kembali, tapi dengan orang yang tepat. Apakah aku boleh membuka hatiku untuk Daniel??


 


Daniel adalah sosok yang taat pada keyakinannya, begitu pun denganku. Rasanya sungguh bodoh aku menanyakan hal itu pada Tuhan, jelas jawabannya bahwa Daniel bukan orang yang tepat untukku.


“Na,,,,,”panggilnya dan aku kembali membuka tanganku dan memberanikan diri menatap matanya.

__ADS_1


“Ya?” jawabku singkat, bingung harus berkata apalagi.


“Aku mengatakannya tak berharap kamu menjawabnya. Aku hanya ingin kamu tau apa yang ada di sini!” tangannya memegang dada letak jantungnya.


“Aku bukan seseorang yang mudah jatuh cinta, bukan pula lelaki brengsek yang mudah mengajak wanita ke ranjang. Aku memang orang barat dengan budaya barat yang sangat lekat, tapi aku punya Tuhan yang aku takuti” katanya menatap lekat padaku.


“3,5 tahun aku menahan perasaanku, rasanya aku tak mungkin menutupinya lagi darimu, meskipun rasaku tak berbalas!” katanya lagi.


“Vis-----!” seketika aku menutup mulutku karena ketidaksadaranku barusan salah menyebut nama Daniel.


Ahhh sungguh bodohnya aku bisa-bisanya salah sebut nama orang. Dan kenapa aku masih mengingat namanya. Bodoh Bodoh Bodoh -- aku merutuki diriku sendiri dalam hati.


“Vis? Maksudmu?” Daniel nampak kaget dengan panggilanku.


“Niel aku---” aku kembali ingin berkata namun masih sangat bingung, pikiranku kacau, antara otak dan mulut gak sinkron.


“Kita jalani seperti biasa aja Na. Kamu gak perlu terbebani dengan perasaanku. Aku akan mencari jalan keluar sendiri atas perasaanku ini.” Lanjutnya, aku pun hanya tertunduk malu dan bingung.


“Na…” panggilnya membuatku mendongakkan kepalaku dan menatap matanya kembali.


“Apakah kalau tak ada perbedaan antara kita, kamu bisa membuka hatimu untukku?” Daniel menatapku dengan tajam, mencari-cari apakah jawaban yang akan aku berikan.


 


“Niel, cintailah seseorang karena Tuhan dan bukan sebaliknya!”


“Ikutilah kata hatimu dan bukan kataku atau kata orang lain!”


“Karena yang akan menjalani konsekuensi atas keputusanmu adalah dirimu sendiri!”


 


Daniel nampak tertunduk dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kami kembali terdiam dalam waktu yang cukup lama.


“Apakah kamu pernah mencintai seseorang yang berbeda?” tanyanya lirih membuatku terperanjat kaget akan pertanyaannya.


“Da da darimana kamu bisa menebak itu?” tanyaku gugup.

__ADS_1


“Namanya yang baru saja kamu sebut, iya kan?” Daniel kembali menatapku sambil tersenyum.


 


Dan jujur aku tak bisa menyembunyikan kegugupanku. Aku kembali melempar pandangan ke sembarang arah, tanganku sudah bergerak tak beraturan meremas, saling memiting jari hingga menimbulkan bunyi kretek kretek.


 


“Kala itu cintaku bertepuk sebelah tangan. Sudah tau berbeda namun sungguh bodohnya aku dengan mudah jatuh hati padanya.” Lalu sejenak aku terdiam.


“Tapi untungnya cintaku tak berbalas. Dia meninggalkanku.” Lanjutku, sembari tersenyum sesekali meliriknya dan kembali menunduk.


“Sudah tau berbeda, tak mungkin bersatu, cinta tak berbalas pula.”


“Sekarang aku lebih memilih belajar mencintai seseorang yang sudah pasti mencintaiku. Namun bukan sekedar pacar-pacaran, jadi harus seseorang yang kemungkinan akan mendapat restu dari kedua belah pihak keluarga.” Terangku dalam posisi kepala menunduk dan masih dengan kata-kata yang kacau menurutku, entah Daniel paham atau tidak.


 


Daniel kembali tersenyum tipis dan berkata “Tolong tunggu aku, Na!” Daniel meyakinkanku.


 


“Maksudnya?” aku mengernyitkan dahiku.


 


Flashback off


 


Aku merebahkan tubuhku di sofa, membolak balikan badanku. Aku kembali resah. Aku takut dengan kata-kata Daniel semalem. Aku takut dia salah paham.


 


Apakah aku seolah memberikannya harapan? – gumamku pelan.


 

__ADS_1


Aku kembali menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar “Hufh……”


__ADS_2