CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
DIA DI KAMPUSKU?


__ADS_3

NARITA POV


 


--- Di sebuah perpustakaan kampus ---


 


Suasana perpustakaan yang sangat tenang, sangat kondusif untuk belajar. Aku buka laptop dan buku yang telah kupinjam. Hanya sesaat aku dapat konsentrasi dengan materi yang sedang kutulis, karena beberapa saat kemudian pikiranku melayang-layang entah ke mana. Aku melamun.


Entah kenapa, aku malah terpikirkan ucapan Dave tadi pagi.


Entahlah, kenapa hatiku terasa sakit mendengar dia yang telah memiliki tunangan dan akan menikah.


Aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku sudah move on darinya.


Bagiku, dia telah tiada sejak dia meninggalkan kami.


Aku sudah meyakinkan diriku, bahwa aku harus menatap masa depan.


Walau apapun yang terjadi, dia bukanlah siapa-siapa.


 


Lalu, kenapa sekarang aku risau?


Kehadirannya kembali di saat yang tak terduga, membuatku galau.


Ya Alloh tolong bantu aku untuk menjaga hatiku.


Menjaganya hanya untuk seseorang yang memang patut untuk kuperjuangkan.


Menjaganya hanya untuk seseorang yang tepat untuk anak-anakku.


 


Hufh


Aishh,,,sudahlah. Tak ada yang perlu aku risaukan. Cukup memantapkan hati bahwa dia yang sekarang bukanlah dia yang dahulu lagi. Dan, biarlah dia tak mengetahui kehadiran Daffa dan Dafina. Itu lebih baik untuk kami. 


“Hai!” sapa Darren tiba-tiba mengagetkanku yang sedang melamun.

__ADS_1


Darren lalu duduk di kursi seberangku dan tersenyum.


“Melamun?” tanyanya lagi masih menatapku.


“Enggak” jawabku singkat dengan sedikit senyuman.


“Kamu memang paling pintar merahasiakan sesuatu, Na! Tapi tidak bagiku. Hanya melihat ekspresi wajahmu, aku tau ada yang sedang mengganggu pikiranmu” kini dia tengah membuka laptopnya.


“Mumpung masih sepi, ceritalah!” Darren menengok ke kanan dan ke kiri lalu bersuara sedikit berbisik mendekat ke arahku.


Melihat ekspresinya yang lucu, aku pun tak bisa menahan tertawaku.


“Hahahahha,,,kamu kaya paranormal aja. Aku hanya kangen keluargaku” aku berbisik juga dan kembali menatapnya.


“Aku jadi penasaran, sebenarnya seperti apa keluargamu? Kenapa kamu selalu merindukan mereka”


 


“Aku,,,aku merindukan anak-anakku” dengan suara lirih, aku lalu menatap buku yang telah kubuka.


“A a a apa? Anak-anakmu?” tanya Darren dengan nada suara kaget, matanya melotot memandangku.


“Kamu memiliki suami?” tanya Darren dan kujawab dengan gelengan kepala. Kulihat setelahnya Darren tersenyum padaku.


“Aku menitipkan anak-anakku ke orang tuaku saat usia mereka 3 bulan. Aku terpaksa melakukannya karena aku harus menjalani studi beasiswa ini!” sekilas kulihat Darren manggut-manggut.


“Me mereka?” tanya Darren memastikan. 


“Iya. Mereka kembar. Daffa dan Dafina” jawabku.


“Bawalah ke sini kalau memang memungkinkan. Sangat menyakitkan seorang ibu harus berpisah jauh dengan anak-anaknya. Toh kuliah S3 tak sepadat jadwalnya dengan kuliah S1 atau S2. Nanti aku bantu menjaganya, kalau diijinin” terang Darren kemudian.


“Terima kasih atas tawaran bantuannya.” Ujarku kemudian.


Setelah percakapan singkat itu, Darren kembali terdiam seolah tengah fokus dengan laptopnya. Dia tak melanjutkan bertanya mengenai keluargaku, begitu pun denganku, aku sengaja mengakhiri percapakan kami dengan ucapan terima kasih.


Memang Darren tipe orang yang sangat paham dengan bahasa isyarat. Dia memang lebih peka dibanding teman-temanku yang lain. Dia tak bertanya lebih lanjut mengenai suamiku. Dia sangat tau bahwa dengan aku mengakhiri perbincangan dengan ucapan terima kasih itu berarti aku kurang berkenan untuk melanjutkan ceritanya. 


Kami berdua pun akhirnya tenggelam dalam dunia masing-masing. Meskipun duduk berhadapan tapi kami cukup konsisten untuk tidak saling mengganggu. Apalagi bagiku, saat berada di kampus terlebih di perpustakaan, adalah saat yang paling tepat untuk menulis.


Setelah kurang lebih 2 jam, kami berdua memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah café tak jauh dari kampus. Saat kami sedang duduk dan sedang bersiap untuk makan, tiba-tiba datang beberapa mahasiswa mahasiswi yang tengah membicarakan suatu hal.

__ADS_1


“Wah,,,keren ya tadi kuliah terbuka nya. Walaupun dia mengelola perusahaan keluarga, tapi terlihat sekali dia sangat smart.” kata orang 1.


“Iya, mana masih muda dan tampan pula!” lanjut orang 2.


“Aku tadi sempet browsing, dia masih single lho!” lanjut orang 3.


 “Masa’?” tanya mereka berjamaah.


“Waahhh,,,aku berharap nanti bisa program penelitian di perusahaannya, siapa tau berjodoh dengannya” kata orang 4.


“Kalau gitu, ayo kita bersaing!” kata orang 5.


“Ckckckckckk, silahkan bersaing! Aku sama sekali tak tertarik.” Kata orang 6.


 


Yah, begitulah mereka bergunjing dan aku sangat jelas mendengar pembicaraan mereka.


“Siapa yang mereka bicarakan ya?” tanya Darren yang kupikir sedari tadi tak memperdulikan orang-orang di sekitarnya.


“Yang jelas berjenis kelamin laki-laki!” ucapanku langsung disambut gelak tawa Darren.


Lalu kami pun mulai menikmati makan siang ini dengan diselingi obrolan ringan. Usai makan siang, Darren hendak kembali ke perpustakaan, dan aku pun memilih untuk kembali ke rumah. Aku dan Darren berjalan beriringan saat menuju ke perpustakaan. Kebetulan sepeda kuparkir di dekat gedung perpustakaan.


Namun kami kembali dikejutkan oleh bunyi klakson sebuah mobil limosin warna hitam yang tiba-tiba menyalip kami dan berhenti mendadak tak jauh dari kami.


Dari arah belakang, kulihat seorang lelaki tinggi besar, berpakain jas lengkap yang sangat perlente keluar dari mobil. Betapa kagetnya aku ketika dia mulai membalikkan badannya. Sudah jelas bahwa aku kaget melihatnya di sini.


Karena ada mobil di depanku, aku dan Darren berhenti berjalan, sementara dirinya yang sudah membalikkan badan, kini berjalan mendekati kami. Perlahan kalau dibuat adegan slow motion, dia berjalan pelan sembari tangan kanannya membuka sunglasses nya. Kulihat Darren yang berada di sebelahku juga hanya berdiri termangu melihat pemandangan yang ada di depan kami.


,“Assalamu’alaikum!” sapa pria berpakaian formal perlente itu ketika dia telah berada di depanku.


“Wa wa wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh” aku menjawab sapanya dengan sedikit terbata-bata.


 


----TO BE CONTINUED----


 


PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!

__ADS_1


__ADS_2