
Weekend telah tiba, pagi itu Davis masih bermalas-malasan di kamar.
“Vis, bangun. Ada Alin tuh di bawah” tegur Mommy Mirsha menarik selimut Davis, membuka gorden jendela.
“Ahhhhh, apaan sie Mom. Masih kepagian!” gerutu Davis berusaha menarik kembali selimutnya.
“Jam 11 kamu bilang pagi??? Apa ini kebiasaanmu kalau gak ada Mommy n Daddy di Jakarta? Malas-malasan?!” Mommy mulai dengan nada tingginya.
“Iya,iya, iya!” Davis bangun dan dengan Langkah gontai bergegas masuk kamar mandi.
Seusai mandi, Davis mengenakan baju polo warna putih, celana jeans pendek warna biru muda nan belel, namun malah menampakkan kharisma jiwa mudanya.
“Loe ngapain Lin kesini pagi-pagi?” tanya Davis menarik kursi di meja makan dan mulai mengambil sarapan nasi gorengnya.
Alin yang sedang sarapan di meja makan tersenyum dan menjawab “Mau ngajak loe nge date!”
“Gue lagi males keluar” jawab Davis malas.
“Come on, Darling……!!!” Alin bangun dari duduk lalu berlendotan di bahu Davis.
“Oke, oke. Gue selesein dulu sarapannya!” Davis tak bisa mengelak. Alin tersenyum lebar.
“Gue sayang banget sama loe” seru Alin.
Tapi gue sayang sama cewek lain, Lin –Davis menjawab dalam hati.
Mereka pergi ke mall mewah dan besar di Jakarta Selatan. Sedetikpun Alin tak pernah melepaskan pelukan tangannya dari lengan Davis, dan Davis tak mempermasalahkannya.
“Masuk yuk!” ajak Alin ketika mereka di depan butik LV. Davis menunggu Alin dengan duduk sembari memainkan ponselnya. Alin membawa compack wallet di hadapan Davis.
“Bagus gak?” tanya Alin.
“Bagus” jawab Davis malas.
__ADS_1
“Beliin ya!” pinta Alin dengan manja.
“Ya” jawab Davis singkat lalu bergegas ke meja kasir.
Selama ini barang-barang branded Alin dibeliin oleh keluarga Davis, entah itu dibeliin Mommy nya, atau Davis sendiri. Tak masalah bagi Davis memberikan barang-barang mahal ke Alin karena dia dipegangi black card oleh Daddynya.
Sementara itu di mall yang sama, nampak Narita sedang berjalan beriringan dengan Beni.
“Ben, janjiannya di mana?” tanya Narita.
“Di restoran jepang blaa blaa blaa” jawab Beni.
“Selain kita, ada yang udah dateng?” Narita bertanya sembari tengok kanan kiri menikmati barang-barang bagus di butik. Meskipun hanya mampu melihat, cukup menyegarkan matanya.
“Belum. Makanya santai aja, Na. Kita keliling-keliling dulu.” Ujar Beni.
Tak jauh dari mereka, Narita memicingkan pandangannya, menatap dengan tajam, mencari kebenaran dari apa yang dilihatnya saat ini. Dia melihat Davis berjalan berdua dengan Alin, Alin nampak posesif memeluk lengan Davis. Sesekali nampak mereka mengobrol, tersenyum, dan tertawa lebar. Satu tangan bebas Davis terlihat sedikit kerepotan membawa barang belanjaan.
Mereka bener-bener serasi—Narita berujar dalam hati, meskipun hati kecilnya terasa sedikit sakit.
Narita terkejut “ hah,,,hah,,,,hah,,,,apa Ben?”
“Aku tanya malah diem aja, mikirin apa sie?” tanya Beni.
“Tanya apa?” Narita melempar pandangannya ke arah lain, namun sekian detik dia kembali mencari keberadaan Davis dan Alin.
“Langsung ke tempat makannya aja yuk! Laper aku. Kita tunggu mereka di sana, sekalian bookingin tempat duduk” ajak Beni dan dijawab anggukan oleh Narita.
Lalu Narita dan Beni menuju restoran jepang blaa blaa blaa. Mereka memesan meja dengan 6 tempat duduk. Weekend itu sebenernya Narita dan Beni janji ketemu dengan teman-teman SMA mereka yang bekerja di Jakarta. Tak banyak teman yang dapat mereka kumpulkan karena mereka punya kegiatan dan kesibukan masing-masing. Enam orang dirasa cukuplah buat mereka reunian kecil, silaturahmi, dan mengenang masa lalu.
Narita dan Beni sementara ini baru memesan minuman, karena untuk makanan mereka menunggu temen-temennya kumpul.
Narita tak menyadari ada sepasang mata yang dengan intens menatapnya lekat dengan penuh kecemburuan.
__ADS_1
Ada hubungan apa mereka berdua? Apa mereka sudah berpacaran? –tanya Davis dalam hati.
Tak ingin berlama-lama melihat senyum Narita yang merekah untuk pria lain, Davis segera menarik Alin untuk keluar dari restoran.
“Lin, tunggu di sini, gue ke toilet dulu!” Davis menyerahkan paper bag belanjaan Alin dan Alin mengangguk.
Di toilet, betapa terkejutnya Davis bertemu dengan Aldi “Lohhhh Di, loe ke sini juga?” tanya Davis.
“Iya. Gue mau beli parfum”
“Loe sama siapa” Aldi balik nanya.
“Siapa lagi” jawab Davis tak menjawab dengan jelas dengan siapa dia ke mall.
“Gue keluar duluan ya” Aldi keluar toilet.
Toilet cowok dan toilet cewek pintunya berdekatan. Saat Aldi keluar dari toilet cowok, dia kaget hampir menabrak seorang cewek yang baru saja keluar dari toilet cewek.
“Astaga” Aldi terkaget.
“Kak Na? Sama Davis ya?”
“Hah??” Narita juga kaget dengan pertanyaan Aldi, tiba-tiba pikirannya nge blank tak segera menjawab.
“Nge date???” belum sempet dijawab, Aldi sudah bertanya lagi.
“Btw, jangan kasih harapan palsu ke Davis, Kak. Gitu-gitu dia cowok polos.” Aldi asal cerocos.
Narita masih terbengong-bengong dengan pernyataan Aldi.
“Gimana perasaan Kak Na ke Davis?” Aldi sudah tidak menjadi dirinya sendiri, dia sudah seperti Bagas yang kepo akan asmara Narita dan Davis.
Narita masih bengong, tak mengerti arah pembicaraan Aldi. Namun, kemudian dengan cepat dia terkekeh dan menjawab “Aku menyayangi Davis seperti seorang Kakak yang menyayangi Adiknya”
__ADS_1
JEDUUUUAAARRRR.