
AUTHOR POV
Dave dan Teddy telah sampai di rumahnya.
“Assalamu’alaikum” Dave memberi salam ketika telah memasuki ruang tamu. Dia berjalanan beriringan dengan Teddy. Wajah lelahnya, baju nya nampak kusut, dan jass yang dipegang dilengannya menampakkan betapa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuknya.
Saat dia telah sampai di meja makan, di sana telah berkumpul semua anggota keluarganya.
“Kau sudah pulang Nak? Mau langsung makan atau mau mandi dulu?” tanya Mommynya.
Dave menatap sekilas pada sosok wanita mungil yang tengah mondar mandir menyiapkan makanan di meja makan. Dia tak menjawab pertanyaan ibunya. Entah itu karena perhatiannya sedang teralihkan ke sosok itu, ataukah memang karena tidak ingin menjawabnya.
Dave hanya berdiri termangu di deket kursi yang biasa didudukinya saat makan bersama. Semua orang memperhatikannya sementara yang diperhatikan malah memperhatikan orang lain. Kini semua yang ada di sana mengikuti arah mata Dave. Mereka berusaha menarik kesimpulan tentang tatapan mata Dave.
Tatapan mata Dave seolah mengisyaratkan bahwa dia sangat merindukan wanita mungil itu. Beberapa hari ini dia tak begitu memperhatikannya. Lelahnya hari ini seolah hilang terurai karena kembali bisa memandanginya. Namun ada rasa berdebar juga ketika dia menyadari apa yang akan dilakukannya esok hari. Bagaimana reaksinya nanti ya?
Mommy lalu berdiri mendekati Dave, menyenggol lengannya dan berbisik “Kau menyukainya?”
Sontak Dave menoleh pada Mommynya dan melotot. Dia memandang lekat pada wanita yang telah melahirkannya itu. Lalu wanita itu dengan bahasa isyarat mata, mengedip-kedipkan matanya sembari mengangguk, seolah mengatakan ‘aku tau’. Menyadari hal itu, Dave segera menarik kursi dan duduk.
“Aku lapar sekali. Aku mau langsung makan, Mom” Dave mendongak pada Mommynya yang saat ini posisinya masih berdiri di sampingnya.
Lalu Mommy mengangguk, dia pun berjalan ke kursinya dan duduk.
“Narita, tolong siapkan piring untuk putraku!”
“Baik” jawab Narita lalu dia bergegas ke pantry dan mengambil piring.
Narita hendak meletakkan piring itu di meja depan Dave, namun Mommy segera berkata “Kau ambilkan makanan untuknya sekalian ya!”
Mendengar perintah itu, Narita bergegas mengambilkan nasi, sayur, dan lauk yang tersaji. Herannya Narita mengambilkannya tanpa bertanya terlebih dahulu pada Dave mengenai porsi dan mana-mana saja yang mau dimakannya. Setelah dia memenuhi piring kosong itu dengan makanan, dia segera menyerahkannya pada Dave.
Sementara itu, Dave nampak tersenyum puas kala Narita dengan telaten mengambilkannya makanan. Namun matanya tiba-tiba melotot tatkala Narita mengambilkannya dengan porsi jumbo, hingga piring itu penuh.
__ADS_1
Apa-apaan dia? Apa dia pikir aku gentong? Bagaimana mungkin aku menghabiskan makanan sebanyak itu? – batin Dave.
“Silahkan!” Narita menyerahkan makanan ke Dave tanpa melihat Dave.
Dave mengira bahwa Narita sedang melamun. Meskipun badannya di sini tapi sepertinya pikirannya entah di mana. Ekor mata Dave masih mengikuti gerakan Narita yang mulai menjauh dari ruang makan.
“Tunggu Narita!” mendengar namanya disebut, Narita langsung berhenti, balik badan dan menatap heran pada Dave.
“Kau mau membuatku jadi bola?” pertanyaan Dave membuat Narita mlongo sembari berkata “Ha?”
“Dave lalu mengangkat piringnya dan menunjukkannya pada Narita. Semua yang ada di meja makan, langsung menghentikan gerakan makannya dan menatap bergantian ke Dave dan Narita.
Mereka sudah menebak akan ada kemarahan di sana.
“Sayang, sudahlah,,,kalau memang itu kebanyakan, tinggal kita singkirkan sekarang saja!”
Narita menyadari kesalahannya segera mengambil piring yang ada di tangan Dave.
“Maaf, Anda ingin dikurangi seberapa?” Narita kini menatap Dave. Dave yang ditatap Narita malah tak menjawab tapi tersenyum.
“Maaf” Narita langsung melepas tangannya dari piring itu.
“Ted, ambilkan kursi!” Teddy beranjak dari duduknya dan segera mengambilkan kursi kosong dan meletakkannya di sebelah Dave. Menyadari space kosong di sebelahnya cukup kecil, Dave sedikit berdiri lalu memindahkan kursinya. Pergerakan itu tentunya menimbulkan pergerakan kecil Narita karena dia harus segera berpindah dari sana.
“Siapa yang menyuruhmu pergi?” menyadari Dave sedang berbicara dengannya, Narita menghentikan langkahnya. Pandangannya nampak bingung karena sikap Dave yang tidak biasanya.
Semua yang ada di meja makan masih memperhatikan tingkah Dave dan Narita. Davis meskipun malas tapi dia juga penasaran dengan tingkah kakaknya itu.
“Duduklah! Ayo makan!” semua orang mlongo ketika Dave menyodorkan piringnya ke Narita.
Dave lalu menyerahkan sendoknya ke Narita sementara itu dia sudah makan menggunakan garpu. Narita yang tidak mengerti maksud Dave, hanya duduk dengan tangan kanan memegang sendok. Masih terpaku di tempat.
Semua yang ada di meja makan menyadari perintah Dave. Ya Dave menginginkan Narita makan sepiring berdua dengannya.
Dave sudah beberapa kali mengambil makanan dan mengunyahnya dengan santai, sementara yang lain masih menatap Dave dan Narita dengan heran. Sadar ditatap oleh semua orang di sana, Narita hanya berani menunduk.
__ADS_1
“Kuharap besok Mommy, Daddy, Opa, Davis, dan Jess ada di tempat konferensi pers” suara Dave memecahkan keheningan suasana meja makan.
Karena suaranya itu, akhirnya kini semua kembali dengan aktifitas makannya. Namun tidak halnya dengan Narita, dia masih menunduk dengan tangan di bawah meja memegang sendok.
“Itu sudah pasti sayang. Kami akan mensupportmu. Kau harus segera menyelesaikan masalah ini. Skandal seperti ini tak memberi dampak baik untuk perusahaan kita dan keluarga” sahut Mommy.
“Apa yang perlu Daddy bantu, Dave?” tanya Daddynya.
“Gak ada Dad. Semua sudah Dave atasi” Dave kemudian menoleh pada Opanya yang kebetulan Opanya sedang menatapnya. Selama beberapa lama mereka beradu pandang dengan tatapan tajam keduanya.
“Besok Dave akan umumkan lamaran Dave untuk seseorang yang sangat Dave cintai” lanjut Dave yang sontak membuat semua melotot menatap Dave.
Dave hanya tersenyum dan sesekali melirik pada Narita yang masih dalam mode menunduk.
“Bolehkan Mom, Dad, Opa?” Dave melempar pertanyaan pada ketiga orang yang disebutnya.
“Tentu, Sayang. Mommy senang kalau akhirnya kau menemukan wanita yang kau cintai!”
***
Di ruang kerja, Dave, Teddy, dan Opa sudah berada di dalamnya.
“Opa, tolong kali ini Opa ikuti kemauan Dave. Dave tak mungkin melakukan hal yang membahayakan perusahaan dan keluarga kita!” Dave membuka suara ketika mereka telah berada di sofa ruang kerja.
Opa tersenyum smirk seolah mengetahui apa rencana Dave. Dia tak menjawab apapun.
“Kami sudah bicara dengannya. Kami yakin, dia akan mengikuti permainan kami.” Lanjut Teddy.
“Apa kau mengancam Opa, Dave? Apa yang akan kau lakukan jika Opa menolaknya?” Opa sudah jengah untuk berbicara.
“Aku bukan anak yang durhaka, Opa. Tapi tolong Opa juga jangan terlalu mencampuri urusan pribadiku. Opa sudah cukup tua, cukuplah Opa bermain saja dengan cicit Opa!” sahut Dave.
“Kalau kau atau Davis memberikan Opa cicit kandung, Opa akan berhenti dan pensiun untuk turut campur lagi!”
Dave tersenyum smirk lalu berkata “Deal!” Dave berdiri dan mengulurkan tangannya untuk dijabat Opanya. Opa langsung menyambut uluran tangan Dave. Mereka seolah sedang berjabat tangan karena kesepakatan bisnis.
__ADS_1