
AUTHOR POV
Hari jumat telah tiba, sebelum subuh, Narita menyiapkan sarapan untuk keluarga tuan besar. Dari informasi Drake bahwa keluarga tuan Dave akan tiba di bandara jam 10.00.
Narita berkutat di dapur menyiapkan soto ayam, sambel, kerupuk, tempe goreng, dan juga makanan untuk Karen. Ada sebagian asisten yang sudah bekerja, terutama yang bagian membersihkan taman, memelihara tanaman, namun di dapur itu hanya dia seorang diri.
Ia memasak soto sangat banyak, selain untuk keluarga tuan besar juga untuk rekan sesama asisten. Seperti biasa mereka bersama-sama sarapan soto buatan Narita. Bahkan Dave pun juga demikian.
Kini Dave tengah makan di meja makan, ditemani Drake.
“Drake, kamu tidak makan? Makanlah?” sontak Drake terkaget mendengar perintah tuannya itu. Selama ini beliau tak pernah menawarinya makanan.
“Terima kasih tuan, saya nanti di belakang saja!” jawab Drake sedikit gugup.
“Kamu kenapa gugup gitu? Ayo temani aku makan! Jangan hanya memandangiku saja!”
“Tapi tuan---“ elak Drake.
“Chef, tolong ambilkan mangkok dan piring untuk Drake!” perintah Dave.
Lalu Drake makan semeja dengan tuannya. Dia merasa sangat canggung. Baru kali ini tuannya bersikap aneh seperti ini, entah apa yang menyebabkan dia berubah. Drake akui ini perubahan menuju ke hal yang sangat baik tentunya.
“Ini namanya apa Drake? Enak?” tanya Dave.
“Narita bilang, soto, tuan!” mendengar jawaban Drake, Dave manggut manggut sembari sibuk menyuap makanannya.
“Semua masakan nanny nya Karen, enak. Kalau sampai nanti dia balik Indonesia, sedangkan aku sudah kecanduan masakannya, gimana dong Drake?” nada santai dari pertanyaan Dave namun membuat Drake sedikit tersentak.
Lagi-lagi Drake terkaget dengan perkataan tuannya ini. Apa emang dia sudah kecanduan masakan Narita? Sebegitu kuatnya pengaruh Narita pada bapak dan anaknya sekaligus, pikir Drake.
__ADS_1
“Apa kamu punya cara untuk tetap membuat nanny nya Karen tetap di Australia, Drake?”
“Tidak punya tuan. Mungkin cara yang paling memungkinkan adalah meminta Narita untuk mengajari Chef kita memasak, Tuan!” jawab Drake hati-hati.
“Hmm, boleh juga. Tapi aku tidak yakin akan seenak ini hasilnya!”
“Tapi tidak mungkin saya bisa menahannya untuk tetap tinggal di Australia, Tuan. Usai lulus, dia pasti harus kembali! Dia pernah mengatakan hal itu pada saya”
“Buat dia menikah dengan orang sini aja, Drake!” lagi-lagi Drake tersentak. Sebegituu getolnya tuannya itu ingin mempertahankan Narita.
“Urusan hati, saya tidak berani ikut campur, Tuan!”
“Apa dia sudah memiliki kekasih, Drake?”
Drake tak langsung menjawabnya. Kini dia malah menatap tuannya. Sendok yang sudah terisi kuah soto, terhenti di udara. Tumben sekali tuan besarnya mau ikut campur urusan asistennya, padahal biasanya boro-boro mau tau, nama dan wajah asisten rumah tangganya saja dia enggan untuk mengetahuinya.
“Saya kurang tau, Tuan! Itu hal pribadi yang tak mungkin saya tanyakan atau pun dia ceritakan pada saya" jawab Drake kemudian.
“Selain dengan Ali, dia dekat dengan siapa lagi di sini Drake?” Dave seolah menelisik kehidupan pribadi Narita.
“Ali? Darimana tuan tau Narita dekat dengan Ali?” dahi Drake mengernyit, bahkan dia sendiri tidak mengetahui hal ini.
“Ali beberapa kali mengirimkan foto kebersamaannya dengan Narita dan Karen” jawab Dave santai, kini makanannya telah habis, dia mengelap bibirnya dengan tissue.
“Oooo,,,, dia memang tipe orang yang gampang bersosialisasi, Tuan. Kalau saya liat, kedekatannya dengan Ali sama dengan kedekatannya dengan para asisten rumah tangga di rumah ini!”
Tiba-tiba Teddy datang tergopoh-gopoh lalu berkata “maaf Mr, saya kesiangan!”
“Kamu sudah makan?” Dave menatap Teddy yang masih terengah-engah.
“Belum, Mr.” Jawabnya singkat.
__ADS_1
“Duduklah! Kita gak perlu buru-buru. Aku ke kantornya nanti setelah menjemput keluarga” lagi lagi Teddy kaget melihat perubahan sikap tuannya. Selama dia bekerja sebagai asisten pribadinya, baru kali ini dia tidak marah ketika Teddy terlambat.
“Ba baik” jawabnya terbata.
“Kenapa kamu sampai terbata-bata gitu? Tenang saja!” Dave menepuk punggung Teddy yang sekarang sudah duduk di sampingnya.
Lalu Teddy menerima piring kosong dari Cheft. Dia mengambil makanannya dan mulai makan dengan tenang. Dia juga mengamati Drake yang berada di seberangnya yang sepertinya juga baru selesai makan.
“Drake, kamu sudah memastikan semua kebutuhan Karen sudah siap kan?” Dave kembali menatap pada Drake.
“Sudah, Tuan!”
“Maaf tuan, apakah nanti tuan di sana meminta Narita untuk memasak?”
“Enggaklah Drake! Mau happy happy kok capek-capek masak.” Kata Dave seraya tertawa dan hanya diangguki kepala dan senyum simpul Drake dan Teddy.
Usai makan, Teddy dan Dave segera berangkat ke bandara untuk menjemput keluarganya. Meskipun mereka menaiki jet pribadi tapi tetap harus berhenti dan diparkir di bandara.
Di tempat yang berbeda, Narita yang telah selesai menyuapi Karen tengah menerima telepon dari seseorang.
“Narita, ada hal penting yang harus aku sampaikan!” –kata Prof Stanly
“Iya ada apa ya Prof?” –tanya Narita
“Na, kamu tau kan kalau rencananya 3 hari ini, aku, Prof Mark, dan Darren berencana mengambil data primer ke beberapa daerah untuk penelitian kita. Baru saja istri Prof Mark mengabarkan kalau beliau sedang sakit lambung, asam lambungnya tiba-tiba naik, jadi tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan” --ujar Prof Stanly.
“Jadi gimana Prof? Apa yang bisa saya bantu!?” –tanya Narita lagi meskipun dia sudah menduga apa yang harus dilakukannya.
“Aku minta tolong kamu untuk menggantikan Prof Mark, Na! Tidak mungkin hanya kami berdua saja, karena itu akan memakan waktu lebih lama. Ditunda pun juga tidak mungkin!”
“Sebenarnya 3 hari ke depan saya sudah ada rencana, Prof. Gimana ya?” Narita meragu.
__ADS_1
Aduh gimana ini? Aku sudah berjanji bersedia ikut menjaga Karen, kalau aku membatalkan sepihak kira-kira etis gak ya? Tapi ini juga salah satu masa depanku, aku gak mungkin mengorbankan masa depanku demi satu hal yang lainnya --batin NARITA bergejolak