
NARITA POV
---- Apartemen ----
Ahh segarnya mandi.
Aku membuka kulkas hendak memasak untuk makan malamku. Aku mau masak yang simpel-simpel aja, toh untuk dimakan sendiri ini. Tiba-tiba ponselku berdering.
‘Davis memanggil’
“Hallo”
“Hallo Assalamu’alaikum Na!”
“Wa’alaikum”
“Hufh, kenapa sie sapaan balasanmu selalu kaya gitu?” kudengar helaan nafas panjangnya.
“Aku sudah di café bawah. Turunlah!”
“Hah?” aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Aku udah di bawah, Sayangggg….. Turunlah! Aku tunggu!” lalu dia menutup telponnya.
Aku tak perlu ganti baju, karena aku sudah mengenakan pajamas lengan panjang dan celana panjang. Aku cuma menyamber outer untuk menutupi kesan baju tidur.
Sesampainya di café.
“Tumben kesini, ada apa?” tanyaku dengan nafas terengah-engah.
“Duduklah. Atur nafasmu dulu!” dia menepuk sofa di sampingnya
“Ada apa?” aku menurutinya untuk duduk di sofa panjang di sampingnya.
Untuk beberapa saat kami terdiam, hanya mata kami yang saling berpandangan. Alunan musik syahdu mengiringi nuansa hati kami yang hanya kami berdua sendiri yang tau.
“Na, maukah kamu jadi istriku!” pandangan matanya yang begitu teduh, terasa menyentuh hatiku yang terdalam.
“Hah…….???” Ketidakpercayaanku, membuatku sedikit berteriak dan membelalakkan mataku.
__ADS_1
“Maukah kau menjadi istriku!” dia mengulanginya lagi.
“Hah….???” Lagi dan lagi aku seperti sedang bermimpi.
“Mau berapa kali aku harus mengulanginya, Na?”
“Ini Davis yang kukenal kan?? Bukan genderuwo!” aku mencubit tangannya yang ada di atas meja.
“Kalau kamu pegang tanganku, berarti kamu terima!” kini dia yang memaksa menggenggam tanganku, namun segera kutepis.
“Kamu becanda?” pandanganku masih tak beralih padanya.
“Mana mungkin hal serius jadi bahan becandaan, Na!” jawabnya kemudian.
“Setelah kamu menyatakan cinta, sekarang kamu melamarku?” kembali aku menyakinkannya.
“Aku tak mau membuang waktu sia-sia. Lebih baik langsung menikah daripada pacar-pacaran. Aku serius dengan perasaanku, Na. Aku serius untuk menjalin hubungan denganmu!” jelasnya panjang lebar.
Aku terus menatap matanya, mencari kejujuran dari kedua bola matanya. Aku tak menyangka bahwa matanya menunjukkan kejujuran dan keseriusan seperti ucapannya.
“Na, aku tau mungkin bagimu ini terlalu mendadak. Mungkin bagimu, ini terlalu terburu-buru. Tapi aku sudah menunggu selama lebih dari 4 tahun. Dan selama itu pula, hati dan pikiranku tak pernah berubah, Na. Hanya kamu yang ada di sini. Tak ada yang lainnya” Davis menyentuh d*da sebelah kiri.
“Tapi, Vis-“ dia kembali menyela kalimatku.
“Apa kamu tak pernah sedikitpun memiliki rasa lebih terhadapku?”
“Pernikahan itu tidak hanya menyatukan 2 manusia yang berbeda, namun juga menyatukan 2 keluarga. Bahkan kita belum saling mengenal keluarga satu sama lain, Vis. Kenapa kamu sebegitu yakinnya melamarku? Kalau keluargamu tidak merestui, bagaimana?” aku akhirnya berbicara lancar ketika detak jantungku sudah normal kembali. Ini pertama kali ada seorang pria yang melamarku, meskipun bukan lamaran romantis ala-ala drama korea.
“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keluargaku. Aku bisa menyakinkan mereka, bahwa pilihanku adalah pilihan terbaik untuk saat ini dan untuk masa depan. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana dengan perasaanmu padaku?”
“Soal keluargamu, aku sudah mendapat restu mereka. Aku sudah sering video call dengan bapak ibu. Meskipun aku belum pernah bertemu langsung, namun kami sudah saling mengenal. Apa bapak ibu tak pernah bilang?” aku kembali terbelalak mendengar penuturan Davis. Bahkan bapak dan ibuku tak pernah bilang sering video call sama Davis, mungkin karena aku pun jarang menghubungi mereka.
“Kamu pikirkan dulu baik-baik, Na!” lanjutnya.
“Aku tak bermaksud mendesakmu, hingga kamu memutuskannya secara terburu-buru”
“Istikharah lah!” Davis tersenyum dan aku kaget ketika dia mengatakan ‘istikharah’.
Spontan aku membuka mulutku dan menutupnya dengan telapak tangan kananku.
__ADS_1
Tau darimana Davis tentang istikharah? –tanyaku dalam hati.
“Na, segera kabari aku jika kamu sudah mendapatkan petunjuk”
“Apapun petunjuknya, tolong kasih aku jawaban!” pintanya
Lalu,,,,
“Mbak!” Davis memanggil pelayan dengan tangan kanan diangkat ke atas.
“Pasti kamu belum makan. Pesanlah! Kita ganti gagalnya makan siang tadi dengan makan malam” ujar Davis.
Aku terus menatapnya, terus melihat gerak geriknya. Aku tak percaya dia bisa mengatakan semua ini dengan sangat meyakinkan. Selama ini aku hanya bisa mendengar suaranya, namun kali ini dia melamarku langsung.
Bahkan dia melakukannya dengan sangat yakin dan tak menunjukkan kegugupan.
Kami pun akhirnya makan malam bersama dalam suasana canggung. Entah kenapa setelah lamaran, dia menjadi nampak gugup dan salah tingkah. Begitu pun denganku. Ternyata dia bisa mengungkapkannya tanpa gugup namun setelahnya dia gugup juga.
DAVIS POV
Apa yang terjadi tadi siang, bukan hal yang bisa dianggap sepele. Narita belum terikat pada siapa pun. Dia bisa memberi peluang kepada lelaki mana pun untuk mengisi ruang hatinya. Melihatnya menggandeng lelaki, makan berdua saja, sudah membuat hatiku bergemuruh.
Kalau aku menunda menyatakan keseriusanku, aku bisa keduluan yang lain. Kalau aku keduluan yang lain, maka aku akan menyesal seumur hidupku. Aku bukan tipe lelaki yang dengan mudahnya jatuh cinta dan berpindah ke lain hati. Meskipun dia bukan wanita pertamaku, tapi hanya dia satu-satunya wanita yang ada dalam hatiku.
Lalu bagaimana dengan perasaan Narita padaku?
Dari tatapan, sikap, dan perhatiannya, sekilas aku merasakan perasaannya kepadaku lebih dari sekedar teman atau sahabat. Namun ketika aku melihat tatapan, sikap, dan perhatiannya ke lelaki lain yang tak jauh beda, membuatku meragu.
Mungkinkah Narita memang baik pada semua lelaki? Apakah kebaikannya bisa diartikan cinta atau sayang juga?
Ah, aku gak tau. Yang jelas aku hanya bisa tau bagaimana perasaannya, jika aku mendengarnya langsung darinya.
Aku telah menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki latar belakang keluarganya, kisah cintanya, dan kedekatannya dengan lelaki lain selain aku. Menurut informasi mereka, selama ini Narita jarang dekat dengan lelaki lain, kecuali temen satu genk dia, Daniel, Arnold, George, dan Leonardo. Tak jarang Narita hanya pergi berdua atau makan berdua dengan salah satu dari keempat sahabat laki-lakinya itu. Namun, mereka tak bisa mengartikan sampai sejauh mana kedekatan hubungan antara Narita dengan sahabat lelakinya itu.
Narita merupakan sosok wanita yang selalu menjaga harkat, martabat, dan marwahnya sebagai seorang wanita. Dia tak pernah kontak fisik yang berlebihan, tak pernah mengijinkan laki-laki masuk apartemen kecuali bersama-sama temen genk nya, bahkan ketika dia berdua dengan laki-laki pasti posisinya sedang berada di tempat umum. Jadi sangat sulit menyimpulkan kedekatan antara mereka.
Jujur aku sebagai lelaki kadang merasa tak pantas mendapatkannya. Aku pernah menjadi lelaki br***sek. Aku pernah melakukan dosa besar. Bahkan aku melakukannya selama bertahun-tahun lamanya. Yah, tak bisa dipungkiri lingkungan dan budaya yang membentukku menjadi seperti itu.
Sampai pada suatu titik, aku menyesal melakukannya dan menemukan jalan untukku kembali.
__ADS_1
Bagiku, Narita adalah sosok wanita yang kuharapkan mendampingiku. Dia bisa menjadi penyemangat, pendorong, sekaligus benteng bagiku. Dia sosok wanita masa kini yang berprinsip namun tidak melupakan kodratnya.
Ahh,,,Narita.