
AUTHOR POV
Hari ini Narita pulang ke rumah Karen. Dia pulang lebih cepat dari biasanya, karena dia berniat untuk menata barang-barangnya sebelum menemani Karen makan sore.
Ketika dia memasuki kamar yang biasa digunakannya untuk singgah sementara, dia dibuat kaget karena kamar itu masih utuh seperti sedia kala. Dia bingung dimanakah barang-barangnya diletakkan. Lalu Narita bertanya ke beberapa asisten yang ditemuinya mengenai keberadaan Drake.
“Ada apa Na?” tanya Drake ketika melihat Narita menghampirinya, dia tau Narita hendak menemuinya.
“Tuan, sebelum saya mulai kerja, saya hendak menata barang-barang saya, tapi di kamar yang biasa saya pake kenapa gak ada barang-barang saya?”
“Kamar kamu bukan di sana Narita, tapi di sebelah kamar Karen” jawab Drake.
"Hah??"
Narita cukup kaget mendengar jawaban Drake. Kamarnya di sebelah kamar Karen? Ah yang benar saja. Dia berpikir untuk sejenak.
“Apakah tidak apa, Tuan?” tanya Narita heran.
“Tuan besar justru yang menginginkanmu menempati kamar di samping kamar Karen, karena kamu harus bertugas menjaga Karen di sepanjang malamnya”
“Owh begitu, Tuan.” Narita memperlihatkan ekspresi yang sedikit bingung.
“Ada apa lagi?” tanya Drake lagi.
“Tuan bilang kalau tuan besar kurang berkenan bertemu dengan orang asing di rumah utama, bagaimana seandainya beliau melihat dan berpapasan dengan saya?” Narita mengungkapkan kegalauannya dengan lembut.
“Kamu menjadi bagian dari salah satu yang tidak akan dianggap orang asing oleh tuan besar, jadi bersikaplah sopan seperti biasa apabila berpapasan dengannya”
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Saya permisi tuan!” Narita berlalu dari Drake setelah Drake menjawab permohonan ijin Narita. Narita masih ragu dengan apa yang dikatakan Drake.
Narita memasuki rumah utama lalu melangkahkan kaki menuju lantai 2. Meskipun dia menyimpan kegalauan karena dia pasti bakal kesepian di rumah utama, dia akan memanfaatkan waktunya untuk bisa konsentrasi dengan penelitiannya.
Setelah sampai di kamar percis sebelah kamar Karen, Narita menarik handle pintu perlahan. Dia menghela nafas lega ketika menemukan barang-barangnya yang masih rapi di dalam tempatnya. Dia mulai membereskannya.
Satu jam berlalu, Narita sudah usai beres-beres, mandi, sholat, kini dia telah siap dengan baju ala rumahan lengkap dengan bergo instan. Dia melangkah keluar kamar dengan pelan. Hal yang pertama dilakukannya adalah membuka kamar Karen, siapa tau bocah itu sedang bermain dengan nannya nya di sana. Narita memasuki kamar Karen, lalu menuju ke tempat bermainnya, namun tak dia temui di sana. Narita kembali melangkah keluar kamar dan turun tangga hendak ke dapur untuk mulai menyiapkan menu makan sore.
Setelah makan sore Karen siap, sayup-sayup terdengar celotehan suara Karen. Narita mencari keberadaan sumber suara, dan senyumnya langsung mengembang ketika melihat Karen dari kejauhan berlari menuju ke arahnya. Tanpa diminta, Karen langsung memeluk Narita, seolah bocah itu telah berbulan-bulan tak bertemu Narita. Narita berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan bocah itu.
“Hai sayang, dari mana aja? Habis main sama Leni ya?” Karen masih mengelus lembut pipi Narita dengan tatapan penuh kasih sayangnya.
“Len, kok Karen sama kamu? Mana nanny nya Karen?” Narita mendongakkan wajahnya untuk menatap ke wajah Leni.
“Tuan Drake sekarang hanya memintaku dan kamu untuk merawat Karen, karena Karen sudah merasa nyaman dan hanya merasa nyaman dengan kita berdua” jawab Leni.
“Aku hanya bertugas memvakum semua bagian di lantai 2, untuk pekerjaan yang lainnya dilimpahkan ke asisten rumah tangga lainnya”
“Owh begitu. Syukur deh kalau gitu”
Lalu Narita mengangkat tubuh bocah itu dibawanya ke wastafel untuk mencuci tangan, selanjutnya didudukkan di baby chair. Narita mulai memberikan makanan ke Karen dan Karen mulai belajar menyuap makanan itu dengan sendirinya. Meskipun berantakan tapi Narita menemaninya dengan telaten.
Sementara itu, Leni berlalu untuk kembali ke pavilliun 101 karena shift nya hari ini telah berakhir.
Usai menemani Karen makan, Narita menggendongnya membawanya ke lantai 2 ke kamarnya. Usai memandikan, memakaikan baju dan mendandaninya, kini Narita mengajaknya keluar kamar untuk menikmati udara sore. Mengingat si cantik belum begitu lancar jalan, Narita masih menggendongnya untuk membawa kemana pun.
Kini Narita dan Karen tengah bermain di halaman belakang. Saat melihat mereka berdua, Leni segera menghampirinya. Kini mereka bertiga tengah bersendau gurau. Canda tawa mereka bertiga seolah tak menampakkan bahwa mereka adalah 3 orang dengan umur, latar belakang, dan tingkat pendidikan yang berbeda. Karen terlihat bahagia meskipun dia belum bisa mengungkapkannya.
Beberapa asisten yang diam-diam memperhatikan interaksi mereka bertiga, berdecak kagum.
__ADS_1
“Len, tolong kamu awasi Karen dulu ya! Aku mau memanggil mereka dulu!” Narita menunjuk orang-orang yang diam-diam memperhatikan mereka menggunakan dagunya.
“Hm..” jawab Leni sambil mengangguk.
Narita melangkah menjauh dari Karen. Mereka yang tengah bersembunyi langsung membubarkan diri dan segera masuk ke pavilliun masing-masing. Kini Narita memasuki pavilliun 102 dan 101 secara bergantian.
Ya di rumah itu ada 3 pavilliun yaitu 101 dan 102 dimana kedua tempat itu dihuni oleh semua asisten rumah tangga di rumah itu, sementara itu untuk pavilliun 103 hanya ditempati oleh beberapa orang yang memiliki jabatan, seperti Drake, asisten pribadi tuan besar, dan beberapa orang penting lainnya.
“Hai guys, ayolah kalian keluar. Kita temani Karen bermain. Mari kita ciptakan kehangatan di rumah ini, demi kebahagiaan si cantik Karen” Narita meneriakkan ajakan ketika dia sudah berada di ruang tengah ruangan, dia berharap orang-orang mendengarnya.
Namun tak ada satu pun yang peduli, bahkan yang tengah menonton televisi hanya menatap Narita dengan acuh.
“Gimana?” tanya Leni ketika dia melihat Narita tengah mendekat.
“Susah mendekati seseorang yang sudah terpupuk untuk tak peduli dengan orang lain”
“Hai cantik,,,” Narita mendekatkan sebuah mainan anak-anak yang bisa dinaiki oleh Karen.
Usaha Narita untuk menghidupkan suasana di rumah ini, ternyata tak berhasil. Tak apalah, yang terpenting dia sudah berusaha.
Ketika hari mulai gelap, Narita segera menggendong Karen untuk memasuki rumah utama dan membawanya ke kamar Karen. Dia kini tengah mengajari Karen memegang alat tulis, menulis asal di kertas, membacakan buku cerita.
Tak terasa kini ponsel Narita tengah mengumandangkan adzan Maghrib. Narita segera menggendong Karen untuk berpindah ke kamarnya karena dia hendak menjalankan ibadah.
Ketika Narita tengah membuka pintu kamar Karen dan hendak keluar, terdengar dengan jelas olehnya suara Adzan dari beberapa speaker yang terpasang di beberapa sisi rumah itu. Seolah dia tak percaya dengan pendengarannya, dia sejenak berhenti dan mendengarkan dengan seksama. Dia sungguh takjub, dari mana datangnya sumber suara adzan itu? Siapa yang mengumandangkannya? Kenapa bisa orang itu berani mengumandangkan adzan dan diperdengarkan secara umum di dalam rumah yang sepengetahuan Narita hanya dirinyalah yang muslim. Bahkan selama 3 bulan dia bekerja di rumah ini, tak sekalipun dia mendengar suara menyejukkan itu.
Narita tau bahwa itu bukan suara kaset tapi sungguh suara seseorang. Untuk beberapa saat dia tertegun. Tanpa terasa kini adzan telah usai dikumandangkan. Tak berapa lama terdengar kembali suara seseorang mengumumkan (dalam Bahasa Inggris tentunya ya, guys) :
---Bagi yang ingin menjalankan ibadah sholat Maghrib berjamaah, ditunggu di Little of Al Aqsha 15 menit lagi---
__ADS_1