CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KECUPAN


__ADS_3

NARITA POV


Setelah aku masuk ke dalam kamar, mataku terbelalak melihat kamar Davis. Kamar luas dengan nuansa minimalis, modern, elegan. Furniture dominan warna kayu sedangkan dinding berwarna putih dengan satu sisi wallpaper mempermanis suasana kamar ini. Sementara itu, di atas tempat tidur berseprei dan selimut warna putih di atasnya dihiasi dengan bunga mawar merah berbentuk hati. Langit-langit kamar dihiasi balon warna merah dan putih yang menjuntai kertas warna warni.


Kekagumanku tak berhenti di situ. Davis merangkulku membawanya ke ruangan yang berbeda namun masih di dalam kamar besar itu. Sebuah ruangan besar, mataku menyapu ruangan yang menurutku ini ‘walking closet’. Davis mengarahkanku ke deretan lemari yang tak ada pintunya, di mana di sana berjejer sepatu branded beraneka warna dan brand, lalu di sampingnya lemari pintu kaca berjajar tas berbagai macam brand dengan berbagai model. Davis membuka lemari yang tertutup, mataku terperangah melihat lemari telah dipenuhi baju-baju brand Eropa yang cantik dan mahal tentunya.


“Maaf, karena mendadak jadi seserahannya langsung ditaruh di sini, dan aku gak tau apakah sesuai selera kamu atau tidak. Kalau tidak, nanti kita bisa beli lagi. Kalau sesuai ya Syukur Alhamdullillah” ucap Davis merangkulku, tanganku melingkar di pinggangnya dengan mata kami saling bertatapan.


Bagi kami yang selama ini tak pernah bersentuhan, biarpun hanya berdua dan Cuma merangkul, aku merasakan kecanggungan di antara kami. Namun kami berusaha untuk menetralisirnya dengan semakin sering melakukannya. Ketika dia memeluk pundakku, tentu aku berusaha untuk membalasnya dengan memeluk pinggangnya. 


“Makasih, mas” langsung kupeluk dia dengan kedua tanganku melingkar di tubuhnya dan dengan penuh haru. Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan memiliki begitu banyak barang-barang branded di sebuah ruangan sebesar ini. Dari hasil jerih payahku bekerja, aku hanya mampu membeli 3 tas brand Eropa, sedangkan untuk barang-barang yang lain aku tak begitu memperhatikan brand. 


“Gimana? Apa kamu suka?” dia masih menepuk-nepuk punggungku dan sesekali mengecup puncak kepalaku.


“Hm, Suka. Suka banget.” Aku menjawab dengan semangat dan menangguk-anggukkan kepala. Tak terasa saking bahagianya, aku sampai menitikkan air mata.


Saat aku hendak melepaskan pelukannya, Davis berkata “Tunggu, aku ingin seperti ini lebih lama lagi” Davis mengeratkan pelukannya.


Selama beberapa menit lamanya, kami saling berpelukan. Aku sangat menikmati hangatnya pelukan dada bidangnya, harum maskulin aroma parfumnya, kokohnya tubuh dan tangannya yang membelit tubuhku. Kini semua yang ada di diri Davis seolah menjadi alasan untukku makin mencintainya dan takut kehilangannya.


Perlahan Davis melepas pelukannya. Tangan kanan masih menggandeng tangan kiriku, sedangkan tangan kirinya meraih 3 buah paperbag besar dari dalam lemari baju.


“Ini untuk bapak, ibu, dan Arjuna” Davis menyerahkan ketiga paperbag padaku namun aku masih bingung.


“Ini, apa?”


“Sudah sewajarnya kalau aku memberikan seserahan untuk wanita yang kunikahi, maka aku pun harus memberikan sesuatu juga ke keluarganya” terang Davis.

__ADS_1


“Tapi ini juga pilihan orang-orangku, kalau sekiranya tidak cocok, nanti gampang belanja lagi”


“MasyaAlloh, Maas! Kamu memang bener-bener suami idaman. Kamu tak hanya memikirkanku tapi juga memikirkan keluargaku”


“Terima kasih, Mas!” aku letakkan paperbag itu di lantai lalu segera kupeluk erat kembali suami tampanku ini. 


Mendapat perlakuan langka seperti ini, membuat Davis tertawa terbahak-bahak sambil menepuk punggungku.


“Sayang, aku baru tau kalau ternyata kamu kecanduan berpelukan denganku!” spontan langsung kulepas pelukannya dan mengerucutkan bibirku sembari berkata “Ya udah kalau gak boleh”.


Mendengar aku sedikit merajuk, Davis menarik lenganku kasar dan kembali memelukku dengan erat.


“Maaf, Sayang. Aku suka kok seperti ini. Seperti ini sudah ingin aku lakukan sejak lama, tapi aku tahan karena menunggumu halal bagiku”


Kami berpelukan dalam waktu cukup lama. Ya hanya berpelukan dan saling merasakan debaran dada yang bersentuhan. Setelah itu kami lepaskan pelukan perlahan-lahan.


“I love You more and more!” ucap Davis masih dengan posisi kedua tangannya menyentuh kedua bahuku.


Aku tersenyum tersipu malu. Aku bingung apakah harus menjawabnya atau tidak. Tapi aku malu untuk mengatakannya sehingga aku putuskan hanya tersenyum dan berkata “Terima kasih, Mas!”


“Terima kasihnya kutunggu nanti malam, seusai sholat Isya’” bisik Davis di telinga kiriku, membuatku bergidik, merinding, dan debaran jantung yang makin kencang.


DAVIS POV


Aku akan memberikan semua kebahagiaan yang kupunya untuknya, yang telah menerimaku menjadi suaminya. Menghias kamar pengantin, membeli segala kebutuhan Narita dan meletakkannya di walking closet ku adalah salah satu rencanaku yang mendadak.


Tadi ketika tim taaruf mempersiapkan tempat untuk akad nikah, aku segera menginstruksikan pada Rio untuk mempersiapkan kamarku dan menyiapkan segala keperluan Narita. Dengan bantuan fashion stylist, akhirnya semua kebutuhan Narita dari atas sampai bawah, proses laundry, lalu ditata di lemari menjadi lancar dan selesai tepat waktu. Aku sengaja mengulur waktu dengan beralasan meminta Narita dan kedua orang tuanya untuk beristirahat lebih lama di apartemennya. Ketika semua persiapan telah selesai 95%, aku baru membawanya meluncur ke sini. 

__ADS_1


Ternyata oke juga hasil kerja mereka. Sepertinya semua baju dan sepatu yang dibeli, muat dipake dia. Semoga saja tasnya juga sesuai selera Narita.


Ketika aku mendapatkan pelukan mendadak dari Narita sebagai ungkapan kebahagiaan sekaligus rasa terima kasihnya, jujur membuatku kaget. Memeluknya adalah sesuatu yang sangat sangat aku inginkan sejak lama. Dan kali ini bukan aku yang memintanya tapi justru dia yang memberikannya dengan sukarela.


Ahh sungguh bahagia


Memang mendapatkan pelukan seperti ini dari seorang wanita, bukan hal yang pertama bagiku, tapi kalau itu dari Narita adalah sesuatu hal yang sangat istimewa. Getarannya pun terasa jauh berbeda. Rasanya benar-benar seperti jantungmu mau meledak karena saking bahagianya.


Di ruangan tertutup nang romantis, hanya berdua dengan wanita yang sangat aku cintai membuatku gila untuk melakukan lebih dari sekedar hanya berpelukan.


Tak pernah lelah aku menyatakan cintaku padanya. Meskipun dia tak pernah menjawabnya, namun aku Yakini, dia pun merasakah hal yang sama denganku.


Aku menggoda Narita dengan membisikkan kata ‘Terima kasihnya kutunggu nanti malam, seusai sholat Isya’’ malah justru yang kudapati adalah wajah cantik Narita yang bersemu merah. Baru kali ini aku menemui wanita yang malu-malu hanya dengan candaan yang menurutku ‘biasa’ aja.


Aku semakin penasaran, apa ekspresinya seandainya aku melakukan yang lainnya. Aku tersenyum-senyum sendiri meskipun hanya sekedar membayangkannya.


“Mas?!” Narita menyadari saat aku terbuai dalam lamunan.


Panggilan ‘Mas’ buatku juga terasa lembut ketika Narita yang mengucapkannya dan meskipun asing bagiku tapi aku sangat menyukainya. Ahh bener-bener apapun itu tentang Narita, seolah membuatku gila, ya cinta membuatku gila.


Tak berapa lama, pintu kamar diketuk dan segera aku menyahut dari dalam “Letakkan kopernya di depan pintu!”.


Aku segera menuju ke pintu, menarik kopernya yang sudah ada di depan pintu, lalu membawanya ke walking closet. Tanpa aku sadari, Narita sudah ada di belakangku dan saat aku membalikkan badan, badanku menubruk tubuh kecilnya dan membuat tubuhnya hampir terjatuh ke belakang. Dengan sigap, segera aku raih tangan dan pinggangnya untuk menahannya agar tak terjatuh. Namun keseimbanganku goyah sehingga aku tidak hanya sekedar menahan tapi menariknya dan akhirnya tubuh kami benar-benar bertabrakan dengan cukup keras. Wajahnya bahkan membentur dadaku.


“Awww….” Teriaknya keras.


Lalu dia mengangkat wajahnya, mata kami berdua bertatapan. Tatapan dalam diam namun penuh makna. Pelan, pelan, pelan aku memajukan wajahnya. Tanganku yang tadi memegang tangannya kini perlahan aku pindahkan ke tengkuknya.

__ADS_1


Cup.


Kecupan sekilas mendarat di bibirnya. Kembali kutatap wajahnya yang sepertinya kaget mendapat kecupan dadakanku, pipinya makin merah merona, dan sesaat kemudian dia sembunyikan wajahnya di dadaku. Aku tersenyum tipis melihat kelakuannya yang lucu kaya gitu.


__ADS_2