
DANIEL POV
"Sher, kenapa Mr. Dav ikut campur masalah nomor ponsel Narita sie?"
"Aku aja yang naksir dia, gak over protected kok!"
tanyaku ke Sherly ketika kami di mobil.
"Iya aku juga heran" ucap Sherly.
"Gak mungkin kan Mr. Dav suka sama mbak Na?" salah satu arsitek dari bagian operasional mengatakannya sambil cengar cengir.
"Enggak lah, tunangannya aja cantiknya bukan main. Terusss yang tadi pagi ke restoran bareng dia itu juga cantiknya gak ketulungan" ucap arsitek yang lainnya lagi.
"Kalian pikir ketertarikan seseorang itu cuma diukur dari fisiknya?" Daniel protes karena menurutnya Narita cantik luar dan dalam.
"Itu sie kami ya Mr. Niel. Kalau kaya Mr. Niel berbeda selera yaa bisa jadi sie Mr. Dav juga begitu" ujar mereka kembali.
"Menurutku terlalu dini menyimpulkan kalau Mr. Dav suka kak Na. Soalnya kan mereka baru aja ketemu, baru kenal juga. Bisa jadi memang dia takut orang menyalahgunakan nomornya kak Na" Mirna memberikan pendapatnya.
"Loh kok malah belok kiri, mau ke mana ini?" tanya Sherly setelah melihat mobil Davis berbelok ke kiri dan memasuki sebuah pelataran yang cukup luas.
"Narita mau sholat, jadi mampir masjid" Daniel yang paham akan waktu sholat akhirnya menjelaskan.
"whaahh hebat juga kak Na berani meminta Mr. Dav untuk menunggunya sholat. Big boss gitu lho!" mobil yang mereka tumpangi pun turut memasuki pelataran luas yang berjajar beberapa tempat ibadah dari beberapa keyakinan.
"Aku turun dulu, nanti tungguin ya pak?" ucapku dan turun dari mobil.
"Sholat?" tanya Sherly kemudian.
"Numpang ke toilet" jawabku.
Mereka yang di dalam mobilku ada 4 orang yang turun. Aku dan 3 orang dari bagian operasional.
Saat aku hendak mencari toilet pria, Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan nya "Mr. Daniel, cari apa?" aku melihat seseorang yang tengah menaikkan lengan kemeja panjangnya sampai dengan di atas siku.
__ADS_1
"Toilet mana ya?" aku sesaat terheran dengan apa yang akan dilakukan seseorang yang ternyata Davis itu, Daniel tengok kanan kiri mencari toilet.
"Tuh!" tunjuk Davis ke sebuah pintu kecil yang berada dekat tempatnya berdiri sekarang. Pintu dalam kondisi tertutup dan tidak ada tulisan pria dan wanita karena petunjuk dari depan sudah ada pemisahan pria dan wanita.
Saat aku mengantri toilet, aku melihat Mr. Dav membasuh tangan, muka, dan beberapa bagian tubuhnya dengan air. Owh kegerahan mungkin dia jadinya cuci muka. Lalu selesai itu, dia memasuki lantai menuju ke dalam masjid.
Pintu kamar kecil terbuka segera aku masuk. Selesainya, aku masih penasaran dengan apa yang dilakukan Mr. Dav. Aku sengaja memasuki area dalam masjid dengan sangat hati-hati. Ini pertama kalinya aku masuk ke tempat ibadah agama lain.
Aku mengedarkan pandangan ke segala area khusus laki-laki, sampai aku menemukan seseorang dengan postur tubuh dan baju yang teramat aku kenali. Dia beribadah dengan khusuknya.
Aku duduk menunggu sekaligus mengamatinya. Tak lupa aku juga mengamati dinding dan atap bangunan itu yang nampak membuatku takjub. Jujur dalam hatiku, aku begitu nekatnya masuk tempat ini, aku bahkan tidak tau apa yang menjadi adab memasuki tempat suci ini.
Aku mengambil ponselku dan aku memotonya dari belakang. Lalu aku kembali memoto atap rumah ibadah ini.
Tanpa aku sadari dia telah berdiri tepat di depanku dan berkata "Kamu ngapain di sini?"
Duh aku seperti ketauan lagi mencuri pandang sama seseorang, sampai bingung mencari apa alasan yang tepat "Pengen masuk aja, tadi di luar panas pas di dalam adem kok malah keenakan".
" Kenapa gak sekalian aja ambil wudhu tadi. Selain cuci muka biar adem tentunya" katanya dengan bernada meledek.
" Iya" jawabnya singkat.
Hmm apa pertanyaan Narita artinya dia tidak tau juga kalau Mr. Dav beribadah di sana? Owh bisa jadi sie Narita sepemikiran denganku. Kami pun sama-sama kembali ke mobil masing-masing.
DAVIS POV
Saat tadi aku melihat Daniel duduk di bagian dalam, aku cukup dibuat terkejut. Apa mungkin dia beribadah di situ juga? Kalau enggak, ngapain dia lama-lama di sana, bukannya balik aja ke mobil.
Apa mungkinnnn,,,,
Ah enggaklah. Ini kan hanya asumsiku yang tanpa dasar aja. Karena aku udah liat profile biodata nya, gak mungkin salah.
Tapi kalau seandainya kecurigaanku benar, wah gak mudah nie buatku untuk memperlancar tujuanku.
"Na,,, "
__ADS_1
"Iya"
"Hmmm..... " aku pun ragu untuk menanyakannya.
"Ada apa?"
"Kita mampir makan siang dulu aja ya, aku udah laper" aku akhirnya menemukan cara ngeless yang sangat tepat.
"Boleh. Saya ngabarin mobil belakang ya?"
Lalu Narita menelpon Daniel untuk memberitahunya agar mengikuti mobil kami, karena kita akan mampir makan siang dulu.
Sampailah kami di restoran cukup asri. Kami tidak bisa makan dalam satu meja akhirnya dipecah menjadi 2 meja.
Meja 1 berisi aku, Rio, Daniel. Ketika Narita hendak menuju ke meja satunya lagi yang sudah penuh sesak karena hanya muat untuk 4 orang, aku segera menarik pergelangan tangannya "Duduk sini" aku mengarahkan pandangan mataku ke kursi kosong di sebelahku. Semua orang di meja 1 dan 2 tak melewatkan peristiwa itu, aku pun tak memedulikan kecurigaan mereka.
Dia pun duduk dengan patuhnya. Di meja kami nampak kecanggungan dan hanya suara dentingan piring, sendok, garpu saja. Sesekali kulihat dia dan Daniel sedikit berbisik-bisik entah apa yang mereka bicarakan hingga harus dengan berbisik.
"Kalau mau ngobrol, ngobrol aja, gak usah bisik-bisik!" suaraku sedikit mencairkan suasana yang sedikit kaku.
Tak berapa lama kemudian, ponsel Narita berbunyi dan dia mengangkatnya. Ternyata dia menerima sebuah video call, dia pun meminta ijin untuk menjauh.
Sekembalinya Narita ke tempat duduknya aku sengaja bertanya tentang siapa yang baru saja menelponnya, karena setauku tadi itu suara ibunya.
"Telp dari mana? Kok pake acara menjauh?" aku memandangnya dan sepertinya dia kurang suka dengan kekepoanku.
"Ibuku" jawabnya pelan.
"Video call?" aku memastikan apa yang aku lihat tadi.
"Iya" dia pun irit bicara.
"Kenapa gak ngomong kalau dari ibu? Aku kan juga mau ngobrol samb liat wajahnya juga?" omonganku spontan membuat Daniel dan Narita tak mampu menyembunyikan ekspresi kagetnya. Tapi aku masih dengan santainya terus berkata "Aku rasa ibu juga kangen melihat wajahku yang sudah 4 tahun gak dilihatnya"
"Awww... " aku terkaget saat kaki Narita tiba-tiba menginjak kakiku.
__ADS_1
Aku semakin puas melihat ekspresi kaget dan kesal Daniel.